oleh Ayah Aad (Adriano Rusfi)

Tanya : 1⃣ bunda Isti-Malang

Anak pertama saya 14y care dg binatang piaraan ya spt burung, ayam, ikan, dll. Anak kedua 11y, suka utak utik mobil2an nya. Tp kadang keduanya bersama2 melakukan hobinya tsb.

Apa yg hrs saya lakukan untuk mengarahkan keduanya?

Jawab :

1⃣ Bunda Isti dari Malang. Anak yang sudah berusia 11 dan 14 tahun, fokuskan pendidikannya pada kematangan atau aqil-balighnya.

Jadikan binatang piaraan dan mobil-mobilannya sebagai sarana pematangan. Misalnya, bagaimana bertanggung jawab pada binatang piaraannya, bagaimana memberikannya makan, bagaimana mengatasinya jika sakit, bagaimana merawat mobil-mobilan.

Bahkan binatang piaraan dan mobil-mobilan tersebut juga bisa dijadikan sebagai sarana bisnis. Misalnya memelihara dan menjual ikan/ayam dsb. Bagaimana dari utak-atik mobil-mobilan menjadi kompetensi perbengkelan dsb.

Anak dengan dua minat dan orientasi yang berbeda tentunya harus dididik secara berbeda. Tapi sesekali juga bisa disinergikan. Misalnya sinergi dalam konsep perawatan. Karena piaraan maupun mobil-mobilan sama-sama butuh perawatan ✅

 

Tanya : 2⃣ Bunda Arny-Bekasi

Bismillah,
Ustadz dan teman-teman HebaT semua…

Jika anak usia >15 tahun masih moody dalam passionnya dan tidak tuntas menyelesaikan yang dipilihnya padahal diawal kelihatan semangat tetiba mandek karna merasa tidak mampu. Ganti lagi begitu lagi, hingga beberapa pilihan tidak tuntas, bagaimana solusi orangtua tuk menyemangati pilihannya..
Jazakallah khoiron

Jawab :

2⃣ Bunda Arny – Bekasi. Problematika anak semacam itu berarti terletak di masalah motivasi, konsistensi dan daya juangnya.

Untuk itu, bantu dia untuk menguatkan motivasinya. Ajak dia untuk nggak mudah menyerah. Ingatkan dia bahwa apapun yang akan dia lakukan toh dia akan menghadapi kendala juga.

Jika ia menyerah untuk yang lama, toh ia juga akan menghadapi kendala yang sama pada yang baru. Ingatkan dia bahwa keberhasilan selalu sejengkal sesudah keputusasaan.

Pernyataam Henry Ford ini mungkin perlu disampaikan padanya :

“Betapa dekatnya kesuksesan pada seseorang, saat dia memutuskan untuk menyerah”

Selanjutnya orangtua perlu memberikan apresiasi kepadanya, walaupun untuk keberhasilan-keberhasilan kecil, agar dia tetap menjaga semangatnya ✅

 

Tanya : 3⃣ Bunda Annisa-Tasik

Ass.wr.wb
Ustad, Ibu saya diamanahi 2 keponakannya yg telah meninggal ibu bapaknya. Satu 10 tahun, satu 15 tahun. Keduanya laki2.
Anak yg 15 tahun skrg sekolah di SMK informatika kelas 1 karena minat dan bakatnya di bidang tersebut.

Minggu lalu dia bilang ingin mencari lowongan pekerjaan seperti pelayan di restoran, krna beliau ingin punya uang tambahan. Padahal selama ini ibu saya merasa mencukupi biaya sekolah, ongkos, dan untuk main (ekskul, senang ikut cosplay, buku, dsb), jadi ibu saya melarang apalagi shalat subuh masih suka tertinggal dan takutnya sekolah keteteran.

Bagaimana menyikapi keinginannya untuk bekerja?

Jawab :

3⃣ Bunda Annisa – Tasik. Itu justru kabar gembira, bahwa ada pemuda seumuran itu sudah mau cari uang tambahan. Harusnya malah kita mulai melatih hal itu pada anak-anak kita sejak usia 10 tahun.

Toh hanya uang tambahan, sehingga insya Allah tak akan terlalu mengganggu. Begitu pula jika ia ingin berorganisasi, jangan dilarang.

Kita selama ini terlalu mendewa-dewakan aspek akademik, sehingga kita melarang anak melakukan ini-itu karena khawatir sekolahnya terganggu.

Yang penting ingatkan dia akan tanggung jawab studinya. Jadi silakan dia menjalankan tiga fungsi kemanusiaannya sekaligus : mencari nafkah, berorganisasi dan belajar.

Biasanya orang yang semacam ini kelak lebih sukses daripada anak-anak lainnya, walaupun nilai raportnya tak terlalu gemilang. ✅

 

Tanya : 4⃣ Dewi-Lampung

Bagaimana cara mensikapi anak lelaki usia agil baligh yang sudah terlanjur asyik dengan dunia Digital, terutama Game online?

Apa yg harus saya lakukan agar anak bisa mengerti pentingnya sarana Digital yg ada untuk kepentingan diri sebagai hamba Allah? bukan sebagai media untuk.bersenang senang membuang waktu dengan bermain game

Jawab :

4⃣ Bunda Dewi yang baik, kecanduan dunia digital adalah suatu hal yang sangat berbahaya. Bahkan bisa membuat anak-anak tak lagi mampu membedakan antara realitas dengan dunia maya. Saat ini kecanduan online ini menjadi diskusi serius di kalangan psikolog klinis.

Untuk itu, lakukanlah beberapa hal :

Pertama, batasi interaksinya dengan dunia digital dan game online maksimal dua jam per hari. Lakukan hal ini secara pertahap.

Kedua, jangan biarkan anak asyik dengan dunia digital lebih dari satu jam. Jadi, setiap satu jam anak harus “diganggu” agar tak terlalu asyik dan larut terbenam. Mintalah ia melakukan sesuatu minimal berdurasi 5 menit, misalnya membeli garam di toko dsb. Setelah itu silakan dia bermain lagi. jangan terlalu pedulikan bahwa dia marah, ngambek dll.

Ketiga, tawarkan kepada anak keasyikan-keasyikan lain yang bersifat lebih real, seperti robotika, otomotif, desain grafif dsb yang masih ada hubungannya dengan dunia online

Keempat, libatkan anak dengan keasyikan kehidupan luar ruang, seperti camping, petualangan, outbound dsb. ✅

 

Tanya : 5⃣ Syifa-Bandung

Assalamualaikum wr wb.
Salah seorang putra kenalan saya (16 tahun) diketahui kemarin mengambil tabungan neneknya. Padahal selama ini sebagian biaya hidupnya ditanggung neneknya dan dekat dengan neneknya.

Secara pribadi nampak tidak bermasalah, orangnya supel, berbakat secara akademis, kalau ditanya sudah terbayang akan seperti apa setelah lulus SMA dan selanjutnya. Kedekatan dengan orangtua cukup baik.

Mohon sarannya, bagaimana mengetahui motivasi ia melakukan itu? (anaknya tidak mengetahui bahwa aksinya terekam cctv) dan bagaimana memperlakukan anak ini ke depannya? Terima kasih

Jawab:

5⃣ Bunda Syifa – Bandung yang baik. Anak tersebut harus merasakan akibat dari perbuatannya. Itu namanya consequential learning.

Untuk itu, fasilitas yang selama ini ia terima dari neneknya harus dikurangi. Sampai dia bertanya kenapa fasilitas tersebut dikurangi.

Jika dia bertanya, katakan :

“Selama ini biaya hidup dan fasilitasmu nenek tabung. Eh, entah kenapa tiba-tiba tabungan untuk biaya hidup dan fasilitasmu ada yang curi. Makanya saat ini biaya hidup dan fasilitasmu terpaksa nggak seperti dulu lagi”

Ajak dia berdiskusi dan mencarikan solusi bagaimana caranya agar biaya hidup dan fasilitasnya tak dicuri “orang lain” lagi, sehingga kenyamanannya tak berkurang.

Jika akhirnya dia mengaku, barulah ajak dia berdiskusi tentang motivasinya mencuri. Jika dia tak mengaku juga, maka CCTV-nya bisa ditunjukkan, sambil menyadarkannya bahwa :

“CCTV Allah itu ada dimana-mana”

Anak semacam itu juga perlu dididik untuk mmencari uang sendiri, agar mampu menghargai uang. Anak yang tahu sulitnya mencari nafkah akan lebih mampu menghargai harta dan uang orang lain ✅

Tanya :  6⃣ Ninis-Gresik.

Asslamualaikum…
Ustadz, kami mengelola rumah bimbingan belajar yg diantara pesertanya adalah anak2 usia 15 th an. Mereka memiliki kejenuhan belajar bahkan pernah bilang bosan sekolah. Akhirnya yg menjadi aktifitas sasarannya adl berlama2 game on line, futsal ada juga yg sdh pacaran. Org tuanya bermasalah dg dirinya. Mau nya orgtua dia nurut. Tp maunya dia orgtua nuruti kemauannya. Sejauh ini kami masih berusaha PDKT, jg memotivasi sebisa mngkin. Kira2 hal apa sja yg seharusnya kami lakukan dg cita2 agar anak2 murid kami kelak juga memiliki masa depan yg cerah dan berkah?
Matur nuwun…

Jawab :

6⃣ Bunda Ninis – Gresik. Pada dasarnya anak-anak Indonesia sudah mulai mengalami kejenuhan belajar dan bersekolah sejak kelas 1 SMP. Karena mereka hanya menjadi robot keinginan orangtua dan sosial.

Mereka tak punya motif alias niat. Mereka melakukan segalanya karena dorongan eksternal (outside-in). Kita tak pernah membangun niat, karena membangun niat itu lama. Padahal kita ingin instan.

Untuk itu, alangkah indahnya jika Rumah Bimbingan Belajar tersebut lebih mengarahkan pada pembangunan niat dan motivasi, bukannya drilling cara-cara cepat menyelesaikan soal.

Pertanyaan yang harus terjawab bagi mereka adalah : untuk apa ini semua harus dilakukan. Berikanlah cerita-cerita, kisah-kisah dsb. Seorang pakar fisika ITB menguasai fisika bukan dengan cara diajari fisika, tapi hanya “didongengi” kisah-kisah hidup para fisikawan dan sejarah penemuannya.

Saya ingat kitah Bimbel Nurul Fikri tahun 1988. Untuk pertama kalinya sebuah bimbel punya guru konseling belajar, yang terdiri dari mahasiswa psikologi UI, termasuk saya.

Seluruh peserta bimbel saat itu alhamdulillah 100 % masuk UI. Bukan karena diajari teknik-teknik mengerjakan soal, tapi motivasi, agama dsb. ✅

 

Tanya : 7⃣ bunda Lisa – Depok

Bismillah…mau tanya ustadz. Bagaimana penanganan pada anak usia akil baligh yg sudah terlanjur mengenal lawan jenis dan pornografi?

Jawab:

7⃣ Bunda Lisa yang baik, anak usia aqil-baligh yang kenal lawan jenis berarti normal. Yang nggak normal kan yang suka sejenis hehehe…

Nah, masalah awalnya adalah pornografi. Ini memang sangat berbahaya dan merusak. Sekali kecanduan pronografi, jauh lebih sulit mengatasinya daripada kecanduan narkoba. karena ini menyangkut fitrah asasi manusia.

Untuk itu, anak-anak semacam ini harus ditangani dengan beberapa hal :

Pertama, sibukkan ia dengan berbagai aktivitas, sehingga fisik maupun fikirannya telah diletihkan dengan aktivitas tersebut. Kesibukan juga akan mengurangi kesempatan untuk bermaksiat.

Kedua, berikan kepadanya sejumlah amanah dan tanggung jawab. Kesadaran akan amanah dan tanggung jawab akan membuat manusia berfikir akan akibat dari perbuatannya. Bukan hanya zina, tapi perbuatan apapun

Ketiga, sekali lagi, latih anak tersebut untuk mencari nafkah. Mereka yang telah merasakan kesulitan mencari nafkah insya Allah jauh dari perbuatan mubadzir. banyak maksiat yang bermula dari mubadzir. Karena mubadzir itu temannya syaithan (AlQur’an)

Keempat, matangkan dia agar memiliki kemampuan untuk menikah, baik mental maupun finansial. Orang yang dimatangkan kemampuannya untuk menikah, justru lebih mampu menahan hawa nafsu.

Kelima, dorong ia untuk sering-sering berpuasa. Agar aktivasi hormonalnya lebih terkendali dan dapat ditekan. ✅

 

Tanya : 8⃣ bunda Nurfaizah-Baubau

Assalamualaikum…ustd.
Bgm yah cara mengajak suami sama2 komitmen membuat mapping visi misi berbasis fitrah?

Jawab:

8⃣ Bunda Nurfaizah, ingatkan suami bahwa kelak di akhirat yang bertanggung jawab terhadap keluarga dan anak anak adalah suami. Oleh karena itu, suami harus sangat terlibat dalam pendidikan anak.

Ingatkan juga bahwa doa anak shaleh hanya akan diterima oleh orangtua yang terlibat dalam pendidikan anaknya dikala kecil.

Nah, mengingat tanggung jawab harian pendidikan anak ada ditangan bunda, maka tanggung jawab ayah dalam pendidikan anak adalah merumuskan grand design : visi, misi, strategi, program dan pendampingan ✅

LEAVE A REPLY