TALENTLESS COUNTRY
(Negeri Tanpa bakat)

Negerinya agrasis tapi bahan makanan selalu menipis.
Negerinya kaya tambang tetapi selalu diambil oleh orang.
Negerinya kaya ikan tapi para nelayan kurang tangkapan.
Negeri tanpa bakat ,
Karena bakat tidak dipedulikan oleh rakyat.
Karena rakyat tidak berselera memakan menu bakat.
Betapa banyak orang yang bekerja tanpa peduli dengan bakatnya
Karena sudah tertanam bahwa sukses itu diraih dengan penderitaan.
Betapa banyak anak sekolah tanpa peduli dengan bakatnya
Karena sudah tertanam bahwa belajar harus dipaksa.
Tanpa bakat, bekerja jadi tidak nikmat
Tanpa bakat, bekerja terasa berat
Tanpa bakat, produktifitas tidak meningkat
Tanpa bakat, sekolah jadi susah
Tanpa bakat, sekolah jadi lelah
Tanpa bakat, prestasi jadi rendah
Sekolah tanpa bakat bagai mengasah punggung kapak
Bekerja tanpa bakat bagai memotong kayu dengan punggung kapak
Susah dan susah, berat dan berat.
Bakat, hanya sekedar bakat, yang masih terpendam dalam-dalam.
Terpendam dalam-dalam, lebih dalam dari dalamnya tambang emas
Masih sulit digali, tidak semudah mendapatkan emas di kali.
Masih sulit digali karena alatnya belum mumpuni.
Alat apa yang digunakan untuk menggali bakat?
Pendidikan..!
Pendidikanlah yang dapat menggali bakat terpendam.
Tentu saja pendidikan sejati yang dapat menemukannya.
Yaitu pendidikan yang memahami fitrah insani
Pendidikan yang mendidik manusia sebagai manusia sejati
Bukan pendidikan yang mendidik manusia seperti mesin
Juga bukan pendidikan yang mendidik manusia seperti hewan.
Tanpa disadari…

Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang
#Sekolah berbasis akhlaq, belajar, dan bakat

SHARE
Previous articleBerani Tampil Beda
Next articleTua-tua Keladi

LEAVE A REPLY