Oleh : Ani Ch, penulis dan pemerhati pendidikan keluarga

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Hal pertama yang biasa kita lakukan, secara spontan adalah melerainya, menyuruh mereka diam, menjauhkan satu sama lain agar tidak saling menyerang, atau langsung meminta yang bertengkar untuk saling memaafkan.

Apa yang terjadi pada anak-anak ini di kemudian hari? Saya menyaksikan di atas kertas…ketika melakukan analisis kepribadian psikotes, yang sudah ribuan orang jumlahnya..

Ada banyak sekali orang memiliki pola sikap menjauhi konflik, dengan beberapa alasan, misalnya karena tidak berani berkonflik, karena tidak suka repot, karena takut sakit hati, atau karena ingin cari ‘aman’. Padahal, fenomena ini agak bertentangan, dengan kebutuhan SDM. Yang dibutuhkan seringkali adalah orang yang berani menghadapi konflik, kemudian jadi tidak takut menghadapi risiko, dan akhirnya benturan dengan risiko itu, menjadikan dia piawai menyelesaikan masalah.

Yang suka menghindari masalah dan menjauhi konflik, akhirnya menjelma menjadi pribadi penakut, tidak berani ambil risiko dan must be left behind…tidak diambil sebagai SDM unggul yang siap bertempur.

Lalu, apakah tidak boleh melerai anak bertengkar? apa dibiarkan saja? nanti pukul-pukulan…nanti cakar-cakaran..nanti ada barang dibanting, braaak…rusak…hihihi….hancur mina..

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Seingat saya..di masa kecil, saya jarang sekali dilerai ketika bertengkar dengan adik saya. Ibu saya bisa dengan santai memasak di dapur, bapak saya juga tetap tenang menonton televisi ketika ada perang mulut antara saya dan adik. Bahkan jika kami mulai main fisik, hanya ada teguran untuk segera menyelesaikan apa yang kami ributkan. Pernah suatu kali, saya begitu marah pada adik saya yang lari mengunci diri di kamar, dan saya ambil kursi lalu membantingnya ke pintu, dan bapak hanya meminta saya membereskan kursi yang rusak itu, tidak bertanya ada apa, sama sekali tidak mencampuri pertikaian saya dengan adik. Tapi sungguh tidak pernah pertengkaran itu berjalan lama, keesokan harinya, saya dan adik akan berangkat ke sekolah bersama dengan ceria seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Kami bertengkar hanya untuk ‘mempertahankan’ sesuatu yang kami rasa penting, tidak ada kebencian yang tersisa.

Saat duduk di bangku SD, sepertinya memang saya berkembang menjadi agresif, saya jadi sering ‘menang’ perang mulut, bahkan saya bisa menantang adu fisik teman cowok, ketika dia melanggar hak saya. Tapi saya tetap punya banyak teman, pada akhirnya semua tahu, saya hanya ‘ekspresif’, tapi tidak pernah membenci, tetap baik dan suka membantu siapa saja. Bagi saya konflik harus diselesaikan, saya tidak akan mengalah pada seseorang jika saya merasa benar, hanya demi takut untuk bertengkar. Setelah saya sampaikan pembelaan hak saya, ya sudah selesai, mari berteman baik lagi.

Saat SMP, seingat saya sudah tidak ada pertengkaran antara saya dan adik, sudah ganti style team working, melakukan banyak hal bersama, selain mungkin karena sudah kenyang bertengkar di waktu kecil, hehehe.

Ketika saya SMA, bakat adu mulut itu tersalurkan dengan cantik lewat kegemaran mengikuti debate contest dan pertengkaran dengan adik saya hampir tidak ada, karena masing-masing sibuk dengan urusan sekokah, hobi, dan pertemanan di luar rumah. Rumah adalah tempat istirahat dan berbagi bersama keluarga.

Saat saya bekerja, saya bahkan bisa menggebrak meja atasan saya karena diminta melakukan sesuatu yang tidak.sesuai dengan idealisme saya. Tapi keesokan paginya, saya bisa tenang menghadap dan bertanya, “ada hal lain yang bisa saya kerjakan, selain yang kemarin”. Saya juga bisa berseru dengan keras pada staf saya di kantor pada pagi hari karena dia bekerja tidak tepat, tapi bisa mengelus kepalanya di sore hari ketika sudah memperbaiki kesalahannya.

Manusia dasarnya adalah membuat kerusakan di muka bumi, tapi manusia juga yang memakmurkan bumi. Manusia yang suka membuat konflik di bumi, adalah manusia yang juga membangun peradaban di bumi ini. Haruskah kita membunuh hasrat untuk berkonflik dengan menghentikan pertengkaran anak yang sejatinya adalah media belajar, bukankah kita hanya perlu mengawal proses belajar mereka.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Dengan ini, saya ingin mengajak orangtua untuk tidak mencampuri konflik antar anak, tidak melerai anak saat bertengkar, selama tidak ada keselamatan nyawa yang terancam. Jika salah satu sudah angkat pisau atau gunting, ya tentu saja segera ambil tindakan.

Biarkan anak-anak kita berkonflik. Anak-anak kita butuh kesempatan untuk menyelesaikan konflik, agar piawai menghadapi konflik hidup di kemudian hari. Anak-anak bahkan butuh latihan mempertahankan hak juga idealismenya, agar ketika besar bisa mempertahankan idealisme di pusaran arus lingkungan yang begitu kuat pengaruhnya. Apa salahnya kita berkorban telinga kita risih, ketenangan kita terganggu, atau bahkan beberapa barang jadi rusak, tapi kita memfasilitasi terbentuknya kemampuan mengelola konflik anak kita.

Tapi bu ani, saya tidak suka anak bertengkar, mereka nanti jadi kasar, suka berkata kotor..Iya saya paham kekhawatiran itu, maka jalankan pendidikan iman..saat anak sudah tenang, saat konflik sudah selesai, ajak duduk bersama, maknai apa yang sudah terjadi. Mari kita ingatkan anak-anak pada Allah, mari kita ajak menguatkan kembali persaudaraan, aja untuk saling memaafkan. Hal-hal yang tidak kita sukai saat konflik terjadi, bisa kita sampaikan secara terbuk saat anak sudah tenang. _Ayah tidak suka, kami berkata kotor. Bunda tidak suka kamu tidak hormat kakak._Jangan lakukan hal semacam ini saat anak bertengkar, lakukan saat mereka sudah tenang.

Bu Ani, saya masih takut…nanti anak-anak saya jadi saling membenci antar saudara karena saya biarkan bertengkar. Saya bisa yakinkan, bahwa setiap saudara diberkahi rasa belas kasih di hatinya untuk saudaranya, secara naluriah. Yakinlah tidak ada kebencian antar saudara jika mereka sudah menyelesaikan konflik di antara mereka. Saya menyaksikan, bahwa saudara saling membenci sebenarnya karena orangtuanya sering tidak berlaku adil di antara anak-anak mereka Sikap tidak adil orangtua saat merespon kelakuan anak menyulut kebencian antar saudara. Saat anak bertengkar, kemudian orangtua membela si kakak, atau membuat kakak mengalah, tanpa melihat apa masalahnya, inilah bibit terbentuknya kebencian karena anak merasa tidak diperlakukan adil.

Bagaimana…berani coba membiarkan anak bertengkar?

Belum bu ani, ada tidak cara lain membentuk kemampuan menyelesaikan konflik, tanpa membuat mereka berkonflik.

Baiklah..coba saya pikirkan nanti bagaimana caranya, ilmu Allah kan luas, siapa tahu memang ada…ilmu untuk bisa berenang tanpa belajar _nyemplung_di air.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

For further question or feedback please email psychocoffeemorning@gmail.com

LEAVE A REPLY