oleh : Amirudin, ST

Pagi-pagi setiba mengantar anak saya di sekolah, seorang teman pengurus di sekolah kami berkata kepada saya, “Pak dari hasil evaluasi kami terhadap anak anak, sepertinya kita perlu membuat form Indeks Karakter Anak yg wajib di isi oleh orangtua santri nih, agar pengamatan orangtua thd anak jadi lebih fokus.”

“Hmm… Saya kok berfikir sebaliknya ya tadz, tampaknya yg diperlukan justru orangtua mengisi Indeks Karakternya sendiri, jadi bukan anaknya, agar orangtua fokus mengamati keadaan batin mereka sendiri dulu, sehingga jika tahu ada yg salah mereka bisa segera memperbaikinya sebelum disibukkan unt memperbaiki anak anaknya” jawab saya

“Kok gitu pak? ”

“Bukankah ada kaidah : kalau menginginkan anak sholeh maka orangtua harus sholeh dulu. Mendidik itu transfer kesholihan, apa yg tdk dimiliki maka tdk akan bisa diberikan, bukan? ”

Sebagai orangtua yg diamanahi anak oleh Allah, maka sebagai wujud tanggung jawab akan amanah besar tersebut , kita mungkin akan sibuk mendidik, mengamati sifat dan karakter anak, berusaha dg berbagai upaya agar anak-anak tumbuh menjadi anak yg sholeh spt yg kita idam idamkan. Insya Allah ini adalah kebaikan yg luarbiasa besar dimata Allah.

Namun kadangkala kita lupa bahwa anak adalah darah daging kita, belahan jiwa kita, dimana sebagian sifat dan karakter mereka akan mirip orangtuanya. Ada getaran perasaan jiwa orangtua yg tersambung pada anak, yg kelak akan berpengaruh dlm membentuk sifat dan karakter anak anak kita. Nahh… Ternyata getaran perasaan jiwa orangtua ini justru akan terasup, dan memberi pengaruh lebih banyak ke dalam jiwa anak.

Orangtua yg suasana batinnya masih dipenuhi keresahan, kegalauan, gelisah, maka sebaik apapun mereka menenangkan anak anaknya, keresahan itu akan tetap terasup ke jiwa anak dan terakumulasi dalam berbagai wujud seperti mulai membandel, mudah berubah emosi, membangkang dll

Orangtua yg suasana batinnya masih dipenuhi gejolak syahwat, bahkan keinginan bermaksiat kepada Allah, masih sering menikmati tontonan gambar maupun video pornografi, masih berhubungan mesra dg teman lawan jenisnya, susah menahan birahi saat melihat lawan jenis yg menarik, maka gejolak syahwat ini akan terasup oleh jiwa anak anaknya. Sebaik dan seketat apapun dia menjaga dan membentengi anak anaknya dari pengaruh pornografi dan pergaulan bebas yg marak dijaman ini, maka akan terpapar juga (na’udzubillah….) karena gelora batin orangtuanya jauh lebih besar terasup ke hati mereka.

Sebagian besar orangtua berkeinginan kelak anak anak bermanfaat bagi umat, bermanfaat bagi banyak orang, memiliki peran dalam peradaban, namun sebagian orangtua masih “eman eman” saat harus mengeluarkan infak terbaik bagi pendidikan anak anaknya, suasana batin mereka masih dipenuhi rasa bakhil, pelit, tidak peka terhadap lingkungan dan masyarakat, susah berbagi dg oranglain, kurang tulus dan ikhlas menjalani peran peran hidupnya dalam kehidupan, maka semua suasana batin orangtua ini akan terasup kedalam jiwa anak dan terakumulasi dalam berbagai wujud dan perilaku negatif seperti anak menjadi egois, jahil, lemah empatinya, tdk punya inisatif dll

Kondisi spiritual juga begitu, orangtua yg hatinya masih dipenuhi dengan kebencian, amarah, Ujub merasa bangga dan takjub dengan ilmu dan amalan yg dimiliki sehingga meremehkan oranglain, suka mendebat, mudah menghakimi oranglain, sulit berlapang dada dan bersabar thd kesalahan oranglain, maka orangtua dengan suasana spiritual seperti ini hanya akan memberi pondasi keimanan yg rapuh pada anak anaknya, sebaik apapun dia melatihkan berbagai kegiatan ritual syariah kepada anak anaknya.

Maka kesadaran dan ikhtiar unt memberikan yg TERBAIK bagi anak anak kita adalah Doa dan usaha yg kuat untuk membersihkan hati kita, agar hati dipenuhi dengan cinta, kedamaian, kebahagiaan yg hakiki, agar Iman semakin kokoh, dipenuhi perasaan merasa butuh dan terikat dengan Allah Ta’ala… InsyaAllah ini adalah pemberian terbaik untuk pertumbuhan sifat dan karakter anak anak kita.

Raise your child raise your self…
____________

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِك

يامُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Wahai Dzat yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu”

#TazkiyatunNafs
#MendidikdenganHati
#PendidikanBerbasisFitrah

SHARE
Previous articleLupa Bahagia
Next articleTantangan Pendidikan Iman

LEAVE A REPLY