Oleh : Ani Ch, penulis dan pemerhati pendidikan keluarga

Seorang anak dibawa ke tempat konsultasi saya. Anak lelaki kelas 3 SD, dikeluhkan karena manja, belum tumbuh tanggung jawab, akhirnya motivasi belajarnya juga buruk. Singkat cerita, orangtuanya yang menjadi pangkal masalah karena cenderung tidak tega pada anak. Maka kemudian saya menawarkan beberapa tugas kemandirian yang akan dilakukan anak, seperti mengurus diri sendiri ketika pagi, membereskan baju kotornya, merapikan kamarnya, dan beberapa alternatif lain yang intinya, orangtua tidak boleh membantu/melayani anak. Ada satu tugas, yang ditolak oleh sang ibu yaitu biarkan anak berjalan kaki ke tempat parkir, jangan menjemputnya persis di gerbang sekolah. Karena bagi saya ini namanya malayani anak, bahkan si ibu bercerita seringkali harus berputar lebih dari tiga kali, hanya untuk menemukan anaknya ‘tepat’ digerbang.

Kenapa bu?
Jauh bu ani jalannya..
Ya kan memang itu tujuannya, supaya dia sedikit mengenal kerja keras.
Parkir di sekolah anak saya susah, dan akhirnya dia harus menyeberang jalan. Kan ramai..
Tidak apa bu, biar dia belajar mencari solusi..menembus keramaian kan butuh keberanian.
Nanti bisa ketabrak bu..
Memangnya kalo ketabrak kenapa sih?
Ya bahaya bu, dia bisa terluka, dia bisa tidak selamat.

Bu, cukupkanlah dengan doa saja. Apa ibu tidak yakin Allah akan menjaga anak ibu? Kalau ibu membatasi latihan kemandirian ini, ibu akan dapati masalahnya tidak akan selesai, karena akar masalah anak ini adalah ketidaktegaan ibu. Bahkan jika anak ibu meninggal karena dia latihan menyeberang jalan, dia akan jadi ahli surga bu…umurnya baru 10 tahun. Umur sudah ada ketetapannya, ibu tidak siap jika anak ibu meninggal umur 10 tahun? Anak kan hanya titipan Allah, amanah bu..

Tantangan utama mendidik iman, adalah keimanan orangtua yang belum beres. Bagaimana kita akan mendidik anak optimis pada Allah, saat kita kita sendiri tidak yakin akan pertolongan Allah.

Mengapa ini jadi tantangan? Pada edisi lalu pendidikan iman, dimulai menumbuhkan cinta Allah melalui kisah dan dialog keimanan yang sudah kita bahas sebelumnya. Maka selanjutnya kita perlu mengenalkan Allah yang lebih konkrit

Para ulama banyak menjelaskan bahwa mengenalkan Allah pada anak dilakukan lewat dialog tentang pola-pola ciptaan Allah. Langit dan bumi yang nampak luar biasa, matahari, bintang yang indah, tumbuhan hewan yang beraneka ragam, intinya tadabur alam. Anak yang sudah sampai pada pemahaman sebab akibat akan bisa diajak mengamati pola alam ini, pola luar biasa yang tentunya diciptakan oleh Pencipta yang Maha Luar Biasa, Maha Hebat, Maha Kuasa. Akan muncul berbagai pertanyaan kritis, dan tentunya kita harus sabar menjelaskan pola-pola alam ini dan mengaitkannya, kembali lagi…pada iman. Dan hanya orangtua yang imannya sudah kokoh akan bisa melakukan dialog semacam ini dengan anak.

Kenapa matahari ini cuma kelihatan waktu siang? Karena Allah sayang pada kita, saat matahari tidak nampak, dan itu namanya malam, itu waktunya kita istirahat.
Kenapa ini ada ayam jantan dan ada betina?
Karena Allah ingin manusia terus menikmati daging ayam. Bayangkan kalo ayam jantaaan semua, atau betinaaa semua. Maka, mereka tidak bisa bereproduksi, tidak akan punya anak yang banyak, punahlah ayam di dunia ini.

Selanjutnya, kita perlu mempertontonkan pola pertolongan Allah pada anak. Tingkat kecerdasan anak sudah sampai pada pemahaman sebab akibat, sehingga segala macam peristiwa harus dilihat dengan sudut pandang ini kuasa Allah.

Satu kisah ingin saya bagikan, saya dengarkan lewat ceramah Ustadz Yusuf Mansyur.

Seorang ayah, yang sudah beres keimanannya, diminta uang oleh anaknya untuk daftar study tour. Jawaban sang ayah hanya satu : sudah minta sama Allah? jangan minta sama ayah, karena hanya Allah yang bisa bikin kamu berangkat _study tour. Singkat cerita, setiap hari anak ini berdoa pada Allah, memohon dengan sangat pada Allah selesai sholat 5 waktu, bahkan juga lewat sholat sunnah, terus menerus dia mohon, Ya Allah berangkatkan aku study tour. Sampai satu hari sebelum berangkat, diberikanlah uang pada si anak, “Ini uang, daftarkan ke gurumu, bukan untukmu tapi untuk temanmu yang belum bayar. Untuk keberangkatanmu, serahkan sama Allah, jika takdirmu berangkat pasti berangkat. Lihatlah nanti, yang punya yang belum tentu bisa daftar, yang tidak punya uang belum tentu tidak berangkat. Semua Allah yang mengatur

Dan ketika hari H keberangkatan, anak ini tetap disuruh berangkat sekolah, tetap yakin pada Allah begitu kata Ayahnya. Dan benarlah, rombongan bis berangkat, tanpa membawanya karena dia tidak terdaftar. Tapi dia menyaksikan, betul kata ayahnya beberapa temannya yang sudah daftar, tidak berangkat karena ada yang sakit, ada keperluan dan sebagainya. Kuasa Allah itu sugguh terjadi, begitu bis berangkat datang sebuah mobil mewah, di dalamnya seorang temannya yang ketinggalan rombongan. Temannya ini meminta orangtuanya mengajak si anak masuk, dan mereka menyusul rombongan study tour. Barulah si anak sadar, Allah Maha Kuasa yang tidak daftar pun bisa berangkat jika sudah takdirnya.

Tentunya ayah anak ini keimanannya beres. Si ayah berdoa dengan penuh keyakinan, Ya Allah tunjukkanlah pertolongan-Mu pada anakku.

Orangtua yang belum yakin pada Allah, yang lebih mengandalkan logika daripada suara hati keimanannya, akan kesulitan melakukan pendidikan keimanan semacam ini. Bagaimana kita akan mempertontonkan pertolongan Allah, jika kita sendiri tidak bisa melihat dimana pertolongan Allah itu.

Bunda, materi ini sulit. Ya dibaca lagi dong, jangan malas. Bunda yang beriman akan berkata, Ayo kita mohon pada Allah, besok kamu pasti dimudahkan waktu tes

Ayah, aku nggak suka diganggu terus, si Dodo jahat. Besok, kalau kamu diganggu, lawan aja, pukul dia. Ayah yang beriman akan mengajak anaknya, Mari kita doakan temanmu, agar berubah jadi baik

Seorang anak sekolah di TK, SD, SMP Islam, ketika masuk SMA negri, bergaul dengan non muslim, minta pindah agama. Kenapa? mungkin terlewat pendidikan imannya.

Seorang anak tumbuh di keluarga muslim yang taat, bahkan sampai SMA jadi anak rohis yang sholeh, ketika kuliah entah kenapa ikut gabung dengan kelompok komunis, bisa jadi karena pendidikan aqidahnya belum kokoh. Kadang kita cukup puas, dengan pendidikan Islam yang berkilau prestasi semacam sholat tepat waktu, sholat sunnah, bahkan hafalan Qurannya banyak. Kita lupa menguatkan iman dalam hati, yang tidak tampak itu.

Sekali lagi, tantangan pendidikan keimanan adalah terjaganya keimanan kita sendiri sebagai orangtua.

Sumber : Group Hebat Nasional

LEAVE A REPLY