📝 Ditulis oleh Ayah Kholik

Teringat ketika kami sekeluarga sedang makan bareng-bareng satu nampan ..
Terlihat Shofi yang sudah kelas 5 SD masih sibuk bercerita tentang PR matematikanya tentang akar kuadrat yang membuatnya pusing tujuh keliling..(maklum, dia paling tidak bisa pelajaran matematika)..
Sejenak saya menoleh ke adiknya si Abdulloh, … sambil makan saya tanya…”Ab, Abdulloh suka matematika..?”, dengan tegas dia menjawab… “ Aku tidak suka matematika”…
Jawaban yang ia utarakan tidak begitu kami ambil pusing, biasa-biasa saja, karena si Ab yang umurnya hampir 8 tahun itu memang dikelasnya belum dikenalkan membaca apalagi hitung-hitungan metematika. Memang “Aneh” sekolahnya si Ab, kebangetan…,anak segede itu tidak diajari membaca apalagi berhitung…!, besok gede jadi apa tuh anak…demikian benak kami bergumam.
Sejenak hening suasana disaat kami asyik menikmati hidangan satu nampan, yang disediakan ibu dan kakak-kakanya..,saya tanya lagi pada si Ab.., “Ab, kalau misal si Ahmad membeli mainan harganya 2000 rupiah satu biji, si Ahmad punya uang 10.000 rupiah dibelikan semua uang itu untuk beli mainan, Ahmad dapat mainan berapa, Ab..?, …Sontak sejenak dia berhenti makan, matanya memandang tajam kelangit-langit plafon, lalu…dia mengangkat 10 jari tangannya ke atas dan…entah apa yang dia pikirkan sambil nunjuk-nunjuk jari …tiba-tiba dia menjawab dengan lantang…” Ahmad dapat 5 mainan”.., serentak kami sekeluarga terkejut dengan jawabannya karena selama ini kami belum pernah mengajarkannya angka-angka, hitung-hitungan, apalagi yang namanya matematika, sama sekali. Sambil senyum-senyum bangga saya memberikan hadiah kepada si Ab berupa acungan jempol yang muantabb sampai nempel jidatnya…
Seketika itu dia minta ditanya lagi, saya buat soal lagi, dan..dia bisa jawab lagi, saya beri jempol lagi, teruuus berkali-kali begitu terus dia minta ditanya terus sampai pertanyaan yang ke 5, saya kasih pertanyaan yang lebih komplek begini…” Ab, kalau kakak beli buah naga 2 biji, kakak langsung menyerahkan uang 50 ribuan ke penjual, ternyata uang kembaliannya 10 ribu, berapa harga buah naga satu bijinya, Ab…? “…Sejenak matanya tajam tak berkedip memandang kedepan, dia sigap memberi isyarat pertanda tidak mau dibantu menjawab…., agak lama dia berpikir, dan… dia menjawab dengan mantab “harganya 20 ribu satu biji…”, jempol lagi bagi dia, dan minta soal lagi dengan maksa-maksa, …tapi bapaknya sudah mulai agak pusing untuk membuat soal berikutnya …..tiba-tiba terdengar lembut dari kejauhan….Allahu Akbar..Allahu Akbar…, Alhamdulillah sudah tiba waktunya sholat isya’.., lega dech bapaknya, punya alasan tidak buat soal lagi…he..he…, pusing..

Malamnya saya merenung,..merenungi si Ab karena kejadian bakda Maghrib tadi sampai Adzan Isya’.
Katanya dia tidak suka matematika, tapi diberi soal matematika koq bisa jawab, dan ketagihan soal lagi, maksa-maksa lagi.., Padahal belum pernah diajari hitung-hitungan sebelumnya. ..AAneh..!!!? ibarat katanya tidak suka buah, giliran diberi apel keenakan, minta jeruk lagi, menta pisang lagi, maksa-maksa lagi….

Ayah bunda, mungkin si Ab tidak tahu matematika itu apa, dia juga tidak tahu hitung-hitungan angka itu apa. Tapi yang dia tahu “Dia senang melakukan itu, ingin mengulang lagi, dan ingin mengulang lagi”.
Setahu kami itulah FITRAH NALARnya sedang tumbuh, itulah FITRAH BELAJARnya.
Terima kasih Ya Allah, telah Engkau tumbuhkan fitrah belajar anak kami…
Alhamdulillaah…