Ditulis oleh Ayah Aad (Adriano Rusfi)

Baiklah, ketika seorang anak manusia telah menyempurnakan aqil-balighnya, maka mereka mungkin ingin berguru di sebuah pondok pesantren atau boarding school. Yang penting, ketika siswa telah menghadirkan 100 % diri dan waktunya di sebuah boarding school, maka pondok itu harus sadar bahwa mereka telah mengurusi manusia, bukan sekadar siswa.

Otomatis, sebuah boarding school membutuhkan sebuah kurikulum kemanusiaan, bukan lagi kurikulum kesiswaan. Kurikulum itu dirancang dengan kesadaran bahwa “jika siswa butuh pembelajaran, maka manusia butuh kehidupan”.

Life-based Education (LBE), mungkin itu frasa yang dapat mewakili model pembelajaran di sebuah Islamic boarding school. Model pembelajaran ini mengapresiasi tiga fungsi dan peran siswa sekaligus : sebagai murid – sebagai komunitas – sebagai individu.

Tiga fungsi dan peran ini diakomodir oleh sebuah integrated Life Curriculum yang melibatkan tiga hal sekaligus :
– Inter-academic Curricular (School-based)
– Co-social Curricular (Dormitory-based)
– Extra-individual Curricular (Private-based)

Konsep “Three In One” ini analog dengan pesan Rasulullah SAW tentang fungsionalisasi ruang dalam tubuh manusia, bahwa “Sepertiga diisi dengan makanan – sepertigs diisi dengan minuman – sepertiga diisi dengan udara”

Kenapa harus disediakan sepertiga ruang untuk udara dan “kehampaan” ? Ya, karena manusia butuh istirahat, butuh rekreasi, dan butuh berdiam diri. Ya, seperti sebuah blender yang mampu mengintegrasi bahan hanya jika masih tersedia ruang kosong.

Lalu, apakah sepertiga waktu extra-individual yang bersifat privat ini adalah waktu istrirahat tidurnya yang berdurasi 8 jam itu ? Tentunya tidak, karena waktu tidur adalah waktu di luar kontrol kesadaran manusia. Waktu untuk extra-individual seorang anak manusia adalah saat-saat di mana mereka sepenuhnya terjaga.

Kalau demikian, apakah implementasi Extra-individual Curricular bisa dipusatkan pada haris Sabtu-Ahad saja, saat tak ada kegiatan Inter-academic Curricular dan Co-social Curricular ? Boleh saja, namun akan lebih ideal jika pembagian tersebut bersifat harian (rutin), bukan mingguan (fakultatif). Karena itu lebih manusiawi.

Lha, kalau waktu seorang santri harus dibagi tiga seperti itu, lalu bagaimana caranya mengakomodir program pembelajaran yang terlanjur didesain begitu padat ? Maka saran saya adalah :

Pertama, kenapa harus begitu padat ? Bukankah kehidupan juga merupakan pembelajaran, dan istirahat juga merupakan bentuk pembelajaran ?

Kedua, mari kita lakukan upaya internalisasi kebaikan, agar setiap kebaikan itu dilakukan sebagai sebuah kebutuhan privat, bukan sebuah tuntutan eksternal.

Ya, mari kita mulai belajar menghidupkan niat di hati, bukan sekadar melatihkan sebuah pembiasaan lewat rutinitas aksi. Bukankah “Wukuf di Arafah” tak kalah pentingnya daripada “Melempar Jumrah di Mina” ?