Menanam…
berarti meletakkan benih pada sebuah tempat kosong yang sebelumnya tidak ada benihnya, dengan harapan akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sesuai keinginan penanamnya.
Membangun…
berarti membentuk sesuatu dengan benda mati pada sebuah tempat yang kosong, dengan harapan akan menjadi bentuk sempurna tanpa adanya unsur pertumbuhan padanya.
Menumbuhkan…
berarti memelihara, menjaga, dan menstimulus suatu benih yang sudah tertanam pada suatu tempat dengan harapan akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sesuai dengan keunikan jenis benih yang telah tertanam padanya.
Amma ba’du…
Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.
Setiap anak yang lahir dalam keadaan telah tertanam padanya benih-benih karakter kebaikan.
Anak bukanlah lahan kosong tanpa benih apapun.
Maka…
Tugas pendidik bukanlah menanamkan karakter, karena benih karakter telah tertanam pada diri setiap anak.
Tugas pendidik bukanlah membangun karakter, karena tidak mungkin benda mati dibangun diatas benih hidup yang akan tumbuh, maka bangunan tersebut akan mematikannya.
Akan tetapi…
Tugas pendidik adalah menumbuhkan benih karakter yang telah tertanam pada diri anak sejak lahir, agar tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya sesuai keadaan anak masing-masing.
Karakter akan terbentuk pada diri anak…
bukan dengan pembiasaan,
apalagi dengan paksaan,
tetapi dengan penyadaran.
Jika karakter terbentuk karena pembiasaan, maka akan tampak indah tetapi tidak berbuah.
Jika karakter terbentuk karena paksaan, maka akan tampak indah tetapi kerdil tak berbuah.
Jika karakter terbentuk karena penyadaran, maka akan tumbuh dan berkembang dengan indah dan akan berbuah kian melebat.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi”.
Jadi… …
benarkah ungkapan “character building” menurut pendidikan fitrah?

Abdul Kholiq
#SKISSemarang