Pendidikan terhadap diri dan keluarga adalah kewajiban setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala.Firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾ (التَّحريم-٦)
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(QS.At-tahrim-6)

Menjaga diri dan keluarga adalah dengan cara tarbiyah atau pendidikan, yaitu mendidik diri dan keluarga agar terhindar dari api neraka. Sebagaimana penjelasan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terhadap ayat tersebut:

عَلِّمُوْهُمْ وَأَدِّبُوْهُمْ
“Ajarkanlah mereka ilmu dan adab”.(Jami’ul Bayanfi ta’wilil qur’an, At Thabari 33/103)

Pendidikan terhadap keluarga atau anak-anak akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah ta’ala. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ؛ الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta majikannya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Ketahuilah, Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya” (HR. Al Bukhari-Muslim).

Perkataan Sahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhu:

أَدِّبْ اِبْنَكْ فَإِنَّكَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, مَاذَا أَدَّبْتَهُ وَمَاذَا عَلَّمْتَهُ ، وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْكَ عَنْ بِرِّكَ وَطَوَاعِيَّتِهِ لَكَ
“Didiklah adab kepada anakmu, sesungguhnya pada hari kiamat kamu akan diminta pertanggungjawaban tentang adab dan ilmu yang telah kamu ajarkan kepada anakmu. Dan anakmu juga akan diminta pertanggungjawaban tentang bakti dan ketaatannya kepadamu”. (tuhfatul maudud bi ahkamil maulud, Ibnul Qoyyim, 229)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قالَ رَسُول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :لأَنْ يُؤَدِّبَ الرجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ
Dari Jabir bin samurah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang mendidik anaknya lebih baik dari pada dia bersodaqoh dengan harta”. (HR. Tirmidzi 1874)

Jadi penanggung jawab pendidikan anak adalah orang tua masing-masing.

Setiap orangtua baik ayah maupun ibu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat tentang pendidikan terhadap anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab terhadap pendidikan keluarga secara keseluruhan, sedangkan seorang ibu bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah suaminya.Tanggung jawab pendidikan ini tidak dapat digantikan dan didelegasikan kepada siapapun, baik kepada sekolah, madrasah, pesantren, atau lembaga lainnya. Sehingga, dikarenakan tanggung jawab mendidik tersebut, maka rumah adalah tempat yang paling ideal untuk pendidikan anak, sebab rumah merupakan miniatur peradaban bagi anak-anak yang tinggal didalamnya.