MATERI #2 TUJUAN PENDIDIKAN

 Dalam menentukan tujuan pendidikan, perlu diperhatikan siapakah yang dididik, yaitu manusia. Oleh karena itu tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tujuan pendidikan tidak selaras dengan tujuan penciptaan manusia maka pendidikan hanya berupa kumpulan aktifitas-aktifitas tanpa makna.

Allah ta’ala menciptakan manusia dengan tujuan untuk dua hal, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an yaitu:

  1. Untuk beribadah kepada Allah ta’ala,dan
  2. Sebagai khalifah di muka bumi.

 

  1. Tujuan Penciptaan Manusia untuk Beribadah Hanya kepada Allah Ta’ala

 Firman Allah ta’ala berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya saja, tanpa menjadikan sesuatu sebagai tandingan atau sekutu bagi-Nya.

Berkaitan dengan ibadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak ada urusan (agama) kami, maka dia tertolak”. (HR. Muslim 3243)

Tentang syarat diterimanya ibadah, Allah ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖفَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi: 77)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya.

Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah, dan harus mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Ibadah kepada Allah ta’ala selalu terkait dengan keimanan seorang hamba.Tentang keimanan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya”(HR. At Tirmidzi 2537, Abu Dawud 4062)

 Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah tercermin dari keimanan seorang hamba yang secara dhahir dapat dilihat pada akhlaqnya yang mulia.

  1. Tujuan Penciptaan Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

 Sedangkan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah sesuai firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الاَرْضِ خَلِيفَةً

Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu berfirman kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah” (QS. Albaqarah:30)

Dan Firman Allah ta’ala:

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ فِي الأرْضِ

“Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. (QS. Fathir:39)

Dan juga firmanNya,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ

“Dan Allah berjanji pada orang-orang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka khalifah di bumi”. (QS. Annur:55)

Allah Ta’ala juga memerintahkan kepada hamba-Nya disamping untuk mengejar kebahagiaan akhirat, juga diperintahkan mengambil bagiannya di dunia ini sebagai bekal untuk akhiratnya. Berkaitan dengan hal ini Allah ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash: 77)

Tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah tersebut berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi, untuk memakmurkannya dan dilarang untuk berbuat kerusakan di dalamnya. Berkaitan dengan kinerja tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada umatnya untuk bekerja secara professional berdasar keahliannya masing-masing.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ اِذَا عَمِلَ اَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika bekerja, dia bekerja dengan profesional” (Shahih Al Jami’ Ash Shaghir: 1880)

Dari Al Miqdam, dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ  عَلَيْهِ السَّلاَمُ  كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya”.(HR. Bukhari no. 2072)

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلاً

“Katakan (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai bakat pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS. Al Isra’ : 84)

Seseorang akan lebih profesional dalam kinerjanya jika kinerja tersebut bersesuaian dengan bakatnya. Setiap orang telah dikaruniai bakat oleh Allah ta’ala sejak lahir. Dan bakat merupakan bekal yang diberikan kepada setiap hamba agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi ini dengan sebaik-baiknya. Walaupun dalam berkinerja seseorang melakukan amal keduniaan, namun kinerja tersebut dapat bernilai ibadah jika dilakukan di jalan Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits:

مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَرَأَى أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِلْدِهِ وَنَشَاطِهِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ: لَوْ كَانَ هَذَا فِي سَبِيلِ اللهِ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

“Seseorang melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kerja keras orang tersebut, lalu mereka berkata: “Ya Rasulallah seandainya kerja kerasnya itu digunakan untuk berjuang di jalan Allah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia keluar bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka dia berjuang di jalan Allah. Jika dia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia berjuang dijalan Allah. Jika dia keluar untuk bekerja agar dirinya terhindar dari perkara haram, maka diapun berada di jalan Allah. Dan jika dia berangkat kerja karena riya’ dan membanggakan diri, maka dia berada di jalan syetan”. (HR. Thabrani-Shahih Targhib 1692)

Bekerja dalam bidang keduniaan seperti bidang pertanian, industri, jasa pelayanan, dan sebagainya, jika dilakukan dengan ikhlas dan tidak bertentangan dengan syariat, maka kinerja tersebut akan bernilai ibadah dan diberi pahala oleh Allah ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kinerja, beliau bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”(HR. Muslim 4356)

Sehingga dalam urusan kinerja, hukum asalnya adalah diperbolehkan, kecuali ada larangan dari syariat Agama Islam. Kinerja tersebut berkaitan dengan produktifitas yang pada akhirnya dengan produktifitas tersebut dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain melalui perannya dalam masyarakat atau peradaban.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lain)” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 426)

Kemanfaatan tersebut dapat dinilai sebagai ibadah jika memenuhi dua syarat, yaitu: Ikhlas dan tidak bertentangan dengan syariat. Ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah ta’ala yang didalamnya diharapkan keridhaan Allah ta’ala, dan kinerja yang dilakukantidak ada larangan dalam syariat.

Dari penjelasan tentang dua tujuan penciptaan manusia tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tujuan manusia diciptakan di bumi ini adalah supaya manusia beribadah kepada Allah ta’ala saja dengan dilandasi keimanan sehingga secara dhahir tampak pada diri seorang manusia pribadi yang memiliki akhlaq mulia, serta memiliki kinerja yang professional sehingga dapat berperan dalam peradaban dimana manusia tersebut hidup didalamnya.

Jadi tujuan pendidikan yang selaras dengan tujuan penciptaan manusia tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Terbentuknya generasi yang bermanfaat bagi peradaban dengansebaik-baik akhlaq”, yang pada akhirnya generasi yang diharapkan adalahgenerasi yang terbaik pada jamannya.

Dalam rangka meraih tujuan pendidikan yaitu terbentuknya generasi yang bermanfaat bagi peradaban dengan sebaik-baik akhlaq, dalam wujud generasi terbaik pada jamannya, maka harus disusun kurikulum yang berfungsi sebagai sistem untuk meraih tujuan tersebut, diantaranya adalah metode dan materi pendidikan.