Dalam pendidikan anak, sangat penting memperhatikan mana yang lebih didahulukan dalam pendidikannya, dan mana yang dikemudiankan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.

Firman Allah ta’ala:

﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13).

Luqman dalam memberikan nasihat kepada anaknya yang pertama disampaikan kepada anaknya adalah tentang tauhid atau keimanan.

Dari Jundub bin Abdillah:

كُنَّا غِلْمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَتَعَلَّمَنَا الإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ تَعَلَّمَنَا الْقُرْآنَ ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا وَإِنَّكُمُ الْيَوْمَ تَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيمَانِ

Kami bersama Nabi saat kami masih muda; kami belajar imansebelum Al-Quran. Kemudian ketika kami belajar Al-Quran, bertambahlah iman kami, Adapun kalian hari ini belajar Al-Quran sebelum Iman(Sunan Ibnu Majah no. 60)

Termasuk dalam keimanan ini adalah Akhlaq dan Adab.

Perkataan Sahabat Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhu:

أَدِّبْ اِبْنَكَ فَإِنَّكَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, مَاذَا أَدَّبْتَهُ وَمَاذَا عَلَّمْتَهُ ، وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْكَ عَنْ بِرِّكَ وَطَوَاعِيَّتِهِ لَكَ

“Didiklah adab kepada anakmu, sesungguhnya pada hari kiamat kamu akan diminta pertanggung jawaban tentang adab apa yang telah kamu didikkan dan apa yang telah kamu ajarkan kepada anakmu. Dan anakmu juga akan diminta pertanggungjawaban tentang bakti dan ketaatannya kepadamu”. (Baihaqi)

Pendidikan adab didahulukan sebelum pengajaran Ilmu.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تَعَلًّمْ الأدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata:

مَا نَقَلْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ أَكْثَرُ مِمَّا تَعَلَّمْناَ مِنْ عِلْمِهِ

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman, seorang fakih di kota Madinah di masanya, Ibuku berkata:

تَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Dari dasar-dasar yang telah disebutkan tentang prioritas pendidikan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa karakter iman adalah prioritas utama untuk ditumbuhkan terlebih dahulu, kemudian karakter belajar, dan kemudian karakter bakat. Bakat dikembangkan setelah seseorang tumbuh keimanan dan telah menjadi pembelajar, demikian juga karakter belajar dikembangkan setelah karakter iman tumbuh.

Prioritas utama adalah menyehatkan hati, kemudian pikiran, dan kemudian keterampilan. Hati, akal, dan kemudian fisik. Qalbun salim, kemudian Aqlun salim, dan kemudian Jismun salim.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq