MATERI #6

Berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa setiap anak manusia terlahir di dunia ini dalam keadaan fitrah, yaitu dalam keadaan sudah Islam, sudah diisi oleh Allah ta’ala dengan karakter-karakter atau kebaikan-kebaikan yang dibawa sejak lahir.

Allah telah membekalkan kepada semua makhluk-Nya pengetahuan tentang ke-Esaan-Nya, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia (Tafsir Ibnu Katsir)

Jadi manusia terlahir tidak dalam keadaan putih kosong yang tanpa ada apapun juga padanya. Hal ini membatalkan teori barat yang mengatakan bahwa setiap anak lahir seperti kertas putih yang kosong.

Kondisi fitrah tersebut tidak dapat berubah kecuali manusia sendirilah yang merubahnya sehingga manusia menjadi menyimpang seperti yahudi, nashrani, atau majusi.

Firman Nya:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’d:11).

Kecenderungan manusia untuk mengubah fitrah tersebut dikarenakan pengaruh dari syaitan, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits:

إِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءً ، فَاجْتَالَتْهُمُ الشَيَاطِيْنُ عَنْ دِيْنِهِمْ

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (Islam), kemudian syetan-syetan menyesatkan mereka dari agamanya”. (dikutib dari tafsir Ibnu Katsir)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kedua cucunya:

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan syaitan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk”. (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani).

Dalam firmanNya:

لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah” (QS. Ar Rum:30)

Kalimat tersebut merupakan kalimat berita tetapi bermakna perintah sehingga  dapat diartikan “Janganlah kalian merubah fitrah Allah”. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dari penjelasan tentang fitrah tersebut dapat disimpulkan:

  1. Setiap anak yang lahir tidak dalam keadaan kosong, tetapi sudah dalam keadaan fitrah, yaitu dalam keadaan sudah Islam, sudah diisi oleh Allah ta’ala dengan karakter-karakter atau kecintaan kepada kebaikan-kebaikan.
  2. Adanya larangan merubah fitrah. Maka tugas pendidik adalah menjaga fitrah tersebut dari penyimpangan-penyimpangan.
  3. Fitrah adalah jalan yang lurus menuju kepada kesuksesan yang hakiki.

Karena keadaan setiap anak yang lahir adalah sudah Islam, sudah baik, sudah terisi karakter-karakter atau kebaikan-kebaikan, maka metode pembelajarannya pun tidak dapat diterapkan metode yang menganggap anak dalam keadaan kosong.

Mendidik anak tidak seperti menggambar pada kertas putih yang kosong, dapat ditulis sekehendak hati, dapat digambar sekehendak hati, dan dapat dibentuk sekehendak hati, dan hasilnya langsung dapat dilihat dengan segera.

Tetapi mendidik anak seperti menumbuhkan benih agar menjadi pohon yang besar, dijaga, disiram, dipupuk, dirawat, Tidak bisa dibentuk sekehendak hati, diperlakukan sesuai perkembangannya, dan hasilnya dapat dilihat setelah sekian lama hingga menjadi pohon dewasa yang kokoh, rimbun, dan berbuah lebat. Sehingga pohon tersebut dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terhadap mahluk yang berada disekitarnya.

Pendidikan bukanlah menjejalkan pengetahuan-pengetahuan sebanyak mungkin kepada anak, tetapi pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir agar mencapai peran sejati peradaban dengan semulia-mulianya akhlaq.

Sesungguhnya penjagaan fitrah manusia berada pada kuasa Allah ta’ala. Oleh karena itu,  hal utama yang perlu dilakukan oleh orang tua dan pendidik adalah memohon  perlindungan kepada Allah ta’ala untuk menjaga fitrah anak-anaknya.

Inspirasi

Setiap anak manusia terlahir di dunia ini dalam keadaan FITRAH, yaitu dalam keadaan sudah Islam, sudah dibekali oleh Allah ta’ala dengan karakter-karakter atau kebaikan-kebaikan yang dibawa sejak lahir.

Anak bukanlah kertas kosong

Pendidikan bukanlah menjejalkan pengetahuan-pengetahuan sebanyak mungkin kepada anak, tetapi pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir agar mencapai peran sejati peradaban dengan semulia-mulianya akhlaq.

SEBENARNYA TIDAK ADA ANAK NAKAL

Kalau semua anak lahir dalam keadaan fitrah, berarti sejatinya tidak ada anak yang nakal. Kenakalan anak hanyalah refleksi dari potensi karakter yang ada pada diri anak tersebut. Potensi itulah yang seharusnya ditumbuhkan sehingga berkembang menjadi buah yang baik nantinya. Bukan dipangkas habis sehingga anak merasa dirinya tidak memiliki potensi apa-apa, dan anak akan merasa bahwa dirinya adalah anak yang bodoh seumur hidupnya.

MENJAGA DAN MENUMBUHKAN

Tugas orang tua dalam mendidik anak sejatinya adalah menjaga fitrah anak dari peyimpangan dan menumbuhkannya. Sesungguhnya sejak anak berada di sulbi ayahnya, syaitan sudah berusaha untuk menyimpangkan fitrah anak yang akan dilahirkan di bumi ini. Oleh karena itu dalam mendidik anak hendaklah orang tua selalu memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari gangguan syaitan sejak mereka akan melakukan hubungan badan dengan pasangannya.

Kemudian setelah anak tersebut lahir, maka tugas orang tua adalah menumbuhkan karakter yang sudah Allah bekalkan pada dirinya, agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang berperan sesuai dengan tujuan Allah menciptakan dirinya.

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq