Setiap manusia akan mengalami fase perkembangan dalam hidupnya, mulai dari penciptaan sampai usia tua dan tutup usia. Perkembangan manusia (النُّمُوُّ الاِنْسَانِيّ)adalah proses terjadinya berbagai perubahan yang bertahap yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, prosesif dan berkesinambungan baik yang menyangkut fisik maupun psikis.

Firman Allah ta’ala tentang perkembangan manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الاَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الاَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (Al Hajj: 5)

Perkembangan anak dari fase ke fase berikutnya terjadi secara berangsur-angsur dan perlahan-perlahan, tidak datang secara tiba-tiba (Muqarrar At Tarbiyyah Al Islamiyyah wa Thuruqit Tadris, Jami’ah Islamiyah Madinah, hlm 178).

Pada perkembangan anak, para ulama pendidikan berbeda pendapat tentang pembagian fase perkembangan anak tersebut, baik dalam pebagian usia anak, maupun penamaan pada setiap fasenya.Perkembangan anak pada tiap fase memiliki karakter yang berbeda-beda.

Karakter perkembangan anak dibagi menjadi 4 fase, yaitu:

  1. Fase At Thufulah  ( المرحلة الطفولة), yaitu usia 0-7 tahun. Fase At Thufulah ini dinamakan juga fase kanak-kanak, terbagi menjadi dua, yaitu: Fase penyusuan (المرحلة الرضاعة)yaitu usia 0-2 tahun dan Fase pengasuhan (المرحلة الحضانة)yaitu usia 2-7 tahun.
  2. Fase At Tamyiz (المرحلة التمييز)yaitu usia 7-10 tahun, disebut juga fase tumbuh pikiran.
  3. Fase Al Murahaqah (المرحلة المراهقة) yaitu usia 10-Baligh (14 tahun), disebut juga fase persiapan baligh.
  4. Fase Asy Syabab (المرحلة الشباب)usia setelah baligh lebih dari (>)14tahun/sekitar 15 tahun, disebut juga fase pemuda.

(sumber: Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnul Qayyim, hlm 417, dan Muqarrar At Tarbiyyah Al Islamiyyah wa Thuruqit Tadris, Jami’ah Islamiyah Madinah,1437 H, hlm 178)

Dasar yang dijadikan sebagai pedoman pembagian karakter perkembangan adalah firman Allah ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al baqarah:233)

Ayat tersebut menunjukan penetapan fase penyusuan usia 0-2 tahun.

Sedangkan nash dari hadits antara lain,Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع

“Perintahkan anakmu sholat pada saat umur 7 tahun, dan pukullah jika tidak mau sholat pada saat umur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya diantara mereka” (HR: Abu Dawud dan Hakim)

Hadits tersebut menunjukkan penetapan fase pengasuhan sebelum 7 tahun (2-7 tahun), fase At Tamyiz 7-10 tahun.

Sabdanya juga:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

”Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang, yaitu : orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga baligh, dan orang gila hingga berakal”. (Sunan Abu Dawud, no. 4403 dan Sunan At-Tirmidzi, no. 1423).

Hadits tersebut menunjukkan penetapan fase Al Murahaqah yaitu usia 7-10 tahun, dan fase Asy Syabab yaitu usia setelah baligh (sekitar 14 atau 15 tahun).

Usia baligh adalah masa dimulainya pembebanan syariat (taklif) pada pribadi anak, yaitu anak sudah diberi tanggung jawab untuk menjalankan syariat Agama Islam sebagaimana orang dewasa.

Usia 14 tahun lebih adalah masabaligh yang mana pada masa baligh tersebut seharusnya sudah dapat diketahui keberhasilan pendidikan karakter, yaitu menjadi pribadi yang utuh,kreatif, produktif, dan berakhlaq mulia dalam peran peradaban.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.