Bagai melatih “HEWAN SIRKUS”

Benarkah sekolah anak-anak kita seperti tempat melatih hewan sirkus…?”
Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat ironis dan mengagetkan,
Pertanyaan yang mengada-ada, kurang kerjaan, dan melecehkan…
Bagaimana mungkin manusia disamakan dengan hewan…

Sebentar…
Kita tengok sejenak bagaimana cara hewan dilatih untuk bermain sirkus.
Gajah, kera, kuda, burung dilatih dengan cara dijinakkan terlebih dahulu, beri hadiah jika nurut dan beri hukuman jika membangkang, lalu dilatih gerakan-gerakan yang diinginkan, diulang-ulang sehingga manjadi terbiasa dan terampil.
Dan hewan lainnya pun memiliki metode pelatihan yang serupa…
Ringkasnya yaitu: … doktrin, latih, dan biasakan… 
Tidak perlu ada penumbuhan kesadaran..
Tidak perlu ada penanaman adab..
Tidak perlu ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan hewan itu terampil melakukan perintah tanpa perlu tahu untuk tujuan apa mereka melakukan atraksi-atraksi itu.

Nah…
Sekarang kita tengok sejenak bagaimana anak-anak kita diajar di sekolah…
Jadikan terlebih dahulu anak menjadi penurut dengan hukuman dan hadiah, latih dan ajari mereka, ulang-ulang biar terbiasa agar menjadi pintar dan terampil.
Kita ajari anak-anak kita matematika, tanpa menumbuhkan penalarannya…
Kita ajari anak-anak kita tahfidz Al Qur’an tanpa terlebih dahulu ditumbuhkan kecintaan kepada Al Qur’an…
Kita latih anak-anak kita cara sholat tanpa terlebih dahulu ditanamkan kecintaan kepada yang memerintahkan sholat yaitu Allah ta’ala.
Ringkasnya yaitu,… Doktrin, latih, dan biasakan…
Tidak ada penumbuhan kesadaran..
Tidak ada penanaman adab..
Tidak ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan anak-anak terampil melakukan aktifitas tetapi anak tidak tahu untuk apa melakukan itu semua…

Sama….?
Sekolah anak kita sama dengan dengan pelatihan hewan sirkus?
Tentu saja bukan sekolah Anda yang dimaksud..!

Saudaraku,
Terkadang anak-anak kita terampil melakukan atraksi amal kebaikan, namun bukan karena kesadaran dan motivasi dari dalam dirinya, karena anak-anak kita melakukan kebaikan itu secara mekanistik dan reaktif.

Mereka didoktrin, bukan disadarkan… 
Mereka dilatih, bukan dididik…
Mereka dibiasakan, bukan dimotivasi…
Akhirnya mereka dibesarkan seperti hewan sirkus: begitu terampil melaksanakan perintah, namun hampa.

Mereka beramal shaleh tetapi gagal berpahala karena mereka kehilangan salah satu syarat utamanya: yaitu NIAT !!!
Ya, mereka kehilangan IMAN !!!.
Karena Iman yang merupakan sumber dari Niat yang Ikhlas…
Mereka kehilangan kesadaran, alasan dan ilmu berperilaku.

Maka, mari kita mulai pendidikan anak dari menanamkan iman, sebelum melatih mereka…
Kita sadarkan mereka…
Kita didik mereka…
Kita motivasi mereka…
Sehingga menjadi anak yang kaya akan aktifitas kebaikan dan kaya pula akan pahala dari Allah ta’ala.

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq
#Materi SOTIS #19

.