“TERBUANG vs TERTUANG”
(Mengisi Gelas dengan Madu Satu Ember)

Menuang madu seember kedalam gelas kecil merupakan perbuatan mubadzir.
Madu yang TERBUANG akan lebih banyak daripada yang TERTUANG di dalam gelas.
Orang yang melakukan ini pasti orang yang kurang akal.

Kita sering mengklaim yang seperti ini bukan kepada kita, tetapi kepadaorang lain.
Tetapi ketahuilah, tanpa kita sadari ternyata kita senantiasa melakukannya dan terus melakukannya.

Mari perhatikan pendidikan anak kita !
Kita ingin anak kita memiliki pengetahuan sebanyak-banyaknya, agar kelak pada saat terjun di kehidupan nyata yang banyak duri ini memiliki pengetahuan yang banyak dan bisa survive dalam hidupnya.
Akhirnya sebanyak mungkin materi pelajaran diberikan kepada anak. seolah-olah kita yakin sebuah gelas akan menjadi elastis membesar sehingga mampu menampung madu satu ember.

Kenyataannya ?, setelah terjun ke kehidupan nyata ternyata hanya sebagian kecil ilmu pengetahuan yang “bisa dipakai” untuk hidup.

Betul, anak kita ibarat wadah elastis yang dapat mengembang. Namun bentuknya belum tentu seperti gelas, juga belum tentu sebesar ember, dan belum tentu juga bisa diisi dengan cara dituang.

Anak kita memiliki BAKAT yang unik, sehingga jangan kita klaim anak kita bentuknya seperti gelas.
Anak kita memiliki KECERDASAN yang unik, sehingga jangan kita klaim ukurannya sebesar ember.
Anak kita memiliki GAYA BELAJAR yang unik, sehingga jangan kita klaim cara mengisinya dengan dituang.

Mari kita didik anak kita dengan INSIDE-OUT, mengembangkan apa yang sudah ada dalam diri anak berupa karakter-karakter yang sudah Allah ta’ala instal pada diri anak sejak lahir. Kenali BAKAT, KECERDASAN, dan GAYA BELAJAR anak kita masing-masing.

Jika tidak demikian, kita terlalu konsentrasi OUTSIDE-IN, terlalu banyak menjejalkan pengetahuan kepada anak yang sebenarnya dia tidak membutuhkannya, beban materi yang bukan kemampuannya, dan mengajari dengancara yang tidak disukainya. Maka sejatinya kita telah menuang madu satu ember kedalam sebuah gelas,
yang TERBUANG lebih banyak dari pada yang TERTUANG.

Ternyata kita mubadzir…,
“Sesungguhnya orang-orang mubadzir itu temannya Syaitan”…
Na’udzubillahi min dzalik

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq