Banyak kalangan menyatakan ”Sistem persekolahan sekarang ini merupakan penyebab KENAKALAN REMAJA”.
(Sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan tujuan didirikannya persekolahan itu sendiri)

REMAJA (adolescence) adalah fase PERALIHAN dari Anak-anak Menuju Dewasa
Fase PERALIHAN ini disebabkan: Sudah BALIGH tetapi Belum AQIL.
BALIGH adalah kondisi tercapainya kedewasaan biologis (fisik) dengan kematangan alat reproduksi (usia 14-16 tahun).
AQIL adalah kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung-jawab syari’ah.
Seharusnya aqil tiba bersamaan dengan baligh, yang disebut dengan aqil-baligh.
Tetapi dalam kenyataan generasi yang merupakan “produk” persekolahan baligh nya lebih cepat (sekitar usia 12 – 13 thn) tetapi datangnya aqil menjadi terlambat (sekitar usia 25 tahun).
Padahal seharusnya datangnya Baligh bersamaan dengan datangnya Aqil, sehingga tidak ada fase Remaja dalam perkembangan diri siswa.

Masa peralihan ini merupakan masa yang membahayakan, karena anak yang sudah berfungsi organ biologisnya secara sempurna (Baligh) tetapi belum aqil (belum dewasa).

Lalu, kenapa sekolah dituduh sebagai penyebab munculnya remaja?

Jawabannya adalah:

  • Munculnya remaja beriringan dengan munculnya sistem persekolahan akibat revolusi indurtri pada akhir abad ke 19.
  • Sistem pendidikan di sekolah yang kurang mendukung percepatan aqil pada siswanya, justru cenderung memperlambat aqil siswanya. Karena sistem pendidikannya yang tidak menjadikan anak mandiri, bertanggung jawab, dan bersosial.
  • Suku-suku di pedalaman yang tidak mengenal sistem persekolahan, tidak mengenal remaja pada perkembangan generasi muda mereka, seperti suku Samoa, dan yang lainnya.

Menuduh sekolah sebagai penyebab kenakalan remaja merupakan tuduhan yang tidak fair, walaupun sistem persekolahan sekarang memang salah satu penyebabnya. Tapi tuduhan tersebut seharusnya tidak ditujukan kepada sekolah saja tetapi justru seharusnya ditujukan kepada siapa yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan siswa.
Orang tualah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Orang tua lah yang akan diminta pertanggung jawaban tentang pendidikan anaknya kelak di hari Akhir.

Jadi bukan hanya sekolah saja yang tertuduh tetapi …
ORANG TUA sebagai TERTUDUH yang sebenarnya.
Sejatinya tanggung jawab pendidikan itu merupakan tanggung jawab orang tua, bersama pemerintah, masyarakat, keluarga, yang akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
Mari kita didik anak-anak kita sesuai fitrahnya, sehingga tidak ada fase remaja yang mereka lalui.
Setelah melewati anak-anak semoga langsung menjadi dewasa sehingga segera bisa berperan dalam peradaban ini.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.