Inspirasi

Seperti masuk ke “DUNIA LAIN”

Anak-anak sekolah sekarang serasa berada di “Dunia Lain”.
Bagaimana mungkin manusia berada di Dunia lain..? apalagi anak sekolah…!, Tidak mungkin…!

Kita renungkan sejenak….
Apa tujuan anak disekolahkan di sekolah …?
Jawabnya biar kelak hidup sukses….
Betul
, setuju sekali
Sukses yang dimaksud agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi peradaban dengan semulia-mulia akhlaq.
Setuju….!

Jika tujuan pendidikan seperti itu, maka apa yang dipelajari anak dan situasi belajarnya seharusnya persis seperti apa yang akan dihadapi dalam kehidupan nyata setelah lulus sekolah nantinya, setidak-tidaknya keadaan sekolah mirip-mirip atau serupa keadaannya dengan kehidupan nyata, agar sejak awal mereka sudah mengenal dan akrab dengan dunia yang kelak mereka akan hidup di dalamnya. Dan mereka akan mempelajari semua yang dibutuhkannya kelak, serta akan belajar semua cara untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di dunia nyatanya tersebut.

Tetapi dalam kenyataan yang mereka pelajari banyak yang tidak diperlukan dalam hidupnya kelak, karena mereka telah didikte dengan kurikulum yang diseragamkan walaupun tidak cocok dengan potensi unik mereka, dan lingkungan pendidikannya terbatasi dengan tembok-tembok sehingga matanya terhalang untuk melihat dunia nyata yang sebenarnya.

Walhasil karena bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun terkondisi dengan keadaan yang demikian, begitu lulus sekolah dan terjun ke dunia nyata, terkejutlah mereka,
Seperti masuk ke dalam “Dunia Lain”
,
Seperti dunia yang belum pernah disinggahinya selama bersekolah
.


“Dunia Lain”
adalah dunia yang masih asing baginya karena belum dikenalkan sebelumnya.
Dunia yang berbeda dengan “Dunia Lain” yang berada di dalam sekolahnya.

Seharusnya anak sekolah sejak dini dikenalkan dengan “Dunia Nyata” dan diberikan keleluasaan seluas-luasnya untuk memilih dan mengembangkan potensi dirinya sesuai apa yang dibutuhkan untuk hidupnya kelak.

Seharusnya para pendidik tugasnya adalah mendampingi dan membimbing, bukan mendikte. Karena masing-masing dari mereka memiliki potensi kekuatan dalam dirinya yang berbeda-beda dengan anak yang lainnya.

Biarkan anak mengembangkan potensi dirinya, mengembangkan “syakilah”nya dan mengenal “dunia”nya masing-masing. Karena setiap anak diciptakan oleh Allah ta’ala dengan peran yang berbeda-beda.

Biarkan anak mengenal Tuhannya dengan memperhatikan alam. Biarkan anak belajar bersama alam: di sawah, di gunung, di pantai, di pasar, di kantor, di pabrik, di terminal, di kebun binatang, berkumpul bersama masyarakat, dan sebagainya.

Alam adalah dunia nyata yang mana mereka akan hidup didalamnya kelak.

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

.