“Behavioral dan Humanistic”

Resume diskusi bersama Ustadz Adriano Rusfi

Peresume: Kholik

Berawal dari diskusi members grup Nasional HEbAT (Home Education based on Akhlaq and Talents) Community tentang bagaimana menyadarkan anak untuk melakukan sholat atas kemauan sendiri terutama bangun sendiri ketika sholat Subuh.
Alhamdulillah Ustadz Adriano Rusfi berkenan bergabung.
Dan pesan penutup dari Ustadz Harry Santosa

Prolog dari Ustadz Adriano Rusfi:
Ayahbunda, upaya intervensi perilaku dengan pendekatan behavioral memang merupakan pendekatan tercepat dan mengagumkan.

Membuat anak nggak ngompol pake behavioral treatment hanya butuh 3 kali, padahal kalau pakai pendekatan humanistic treatment butuh 1 bulan.

Orang latah bisa diterapi secara behavioral dalam waktu 1 minggu (negative reinforcement) atau 1 bulan (positive reinforcement). Padahal, kalo pake FBE (humanistic) bisa sampai 6 bulan lho.

Masalahnya : mana yang lebih ajeg, manusiawi, dan resiko kemanusiaannya paling minimal ? Mana pendidikan yang lebih tersimpan dalam behavior repertoire anak ?

Pertanyaan paling mendasar adalah : apakah perilaku seorang anak adalah semata-mata sebuah mechanistic system atau sebuah humanistic system ?

Bagi Behaviorism, perilaku manusia hanyalah pola stimulus -response semata. Mereka tak mengenal motif, hanya tense (tegangan) dan drive (dorongan). Itulah sebabnya kenapa pendekatan ini lebih cespleng.

Tapi jangan lupa, perilaku yang dibentuk melalui teknik behavioral HILANGNYA SECEPAT TERBENTUKNYA. Lalu, apa-apa yang telah kita bentuk, dapat dihapuskan oleh orang lain dengan mudah.

Bagaimanapun, kualitas outside-in bagaimanapun tak akan sebaik inside-out.⁠⁠⁠⁠

Untuk itu hal paling mendasar yang perlu didiskusikan adalah : apakah manusia dan fitrah itu ?

Bagi Behaviorism, bahkan jiwa itu nggak ada. Yang ada hanyalah perilaku. Makanya, saat ini psikologi bukan lagi “Ilmu Jiwa”, tapi “Ilmu Perilaku”⁠⁠⁠⁠
Jadi, kita samakan dulu persepsi dan paradigma kita, agar nantinya nggak bingung.

Jangan sampai kita bicara tentang alam bawah sadar, tapi menggunakan teknik Behaviorism. Lha, behaviorism kan nggak mengakui alam bawah sadar

Bunda Yulianti:
Nah itu ustadz, yg jadi pertanyaan saya, apakah behavioursm akan menimbulkan kecenderungan anak cepat bosan pada sesuatu atau bosan pada hal hal yg monoton?
apakah hal tersebut juga akan berpengaruh pada rasa empati anak terhadap lingkungan sekitar?⁠⁠⁠⁠

Ustadz Adriano Rusfi:
Prinsip pembelajaran pada Behaviorism adalah Conditioning. Dan itu dilakukan diantaranya dengan cara mengulang-ulang.

Tentunya bagi manusia itu akan menimbulkan kebosanan. Dan ketika manusia telah dijadikan mesin atau hewan, maka kemanusiaannya akan tumpul. Termasuk empati dan kepekaannya terhadap lingkungan

Bunda Samiah:
Bolehkah minta contoh membuat anak tdk ngompol pakaik behavior treatment dan pakai pendekatan humanistic treatment?

Blm kebayang tataran aplikasinya

Ustadz Adriano Rusfi:
Contoh behavior treatment : anak disuruh tidur di atas perlak anti ngompol dengan arus listrik rendah. Kalo anak ngompol, kesetrum ringan. 3 kali kasus akan hilang ngompolnya.

Pendekatan humanistik : ditelusuri dulu penyebab kenapa dia ngompol : streskah, ada masalah di saluran, perkembangan emosi terlambat ? Kalau sudah ketemu, baru ditangani

Bunda Yulianti:
Nah cara mengkondisikan agar sesuai dgn humanistic system seperti apa ustadz, karena kalau diperhatikan seolah tidak ada perbedaan dalam pengkondisian proses nya..
Agak khawatir juga takut nya pembiasaan yg saya lakukan pada anak justru malah mengarah pada behaviour, bukannya humanistic..

Ustadz Adriano Rusfi:
Pendidikan Berbasis Fitrah (humanistik) berpegang pada asumsi bahwa manusia punya kesadaran dan pilihan. Sehingga merubah perilaku manusia identik dengan merubah kesadaran manusia.
Pada Behaviorism, kesadaran tak penting. Yang penting adalah mengubah dan membentuk kebiasaan, melalui pengulangan, relasi stimulus-respons, reward and punishment dsb

Dalam beberapa hal, Behaviorism masih bisa dipakai sebagai teknik. Tapi bukan sebagai metode, apalagi sebagai prinsip dan paradigma.

Contoh : anak berprestasi lalu dikasih hadiah, itu adalah Behaviorism, dan boleh. Tapi kalau hanya sebatas itu, kalau nggak ada hadiah dia nggak akan berprestasi⁠

Bunda Yulianti:
Noted ustadz. Satu lagi, sewaktu dulu saya di paskibra, ada satu prinsip yg diterapkan, bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Itu masuknya ke behaviour berarti ya?

Ustadz Adriano Rusfi:
Betul.
Mari kita bedakan antara skill dengan competence. Skill adalah “ke-bisa-an” yang terbentuk dari “ke-biasa-an”. Dan “ke-biasa-an” memang harus dipaksakan.

Namun jika yang ingin kita bangun adalah competence, itu terbentuk karena terjadinya internalisasi. Dan internalisasi terbentuk dari kesadaran.

Paksa >> Biasa >> Bisa
Sadar >> Internalisasi >> Kompeten

Bunda Yani:
ust adriano…apa bisa di terapkan dlm contoh lain ke anak usia 12th ke atas??…misal bangun saat menjelang wktu sholat subuh??

Ustadz Adriano Rusfi:
Pernahkah ibu besok akan mengajak anak piknik ke tempat yang sangat ia idam-idamkan ?

Bukankah besok dia akan bangun pagi sebelum waktunya tanpa dibangunkan, bahkan mereka yang malah membangunkan kita ? Boleh jadi semalam malah tak tidur.

Kenapa ? Ya, karena cinta.

Jadi, begitu pula jika kita ingin anak bangun sebelum shubuh. Ini adalah fungsi iman yang melahirkan cinta. Ibadah yang ditakut-takuti tak akan melahirkan cinta

Bunda Yani:
Kemarin anak saya ke dr, cek darah, ambil darahnya du paksa skrg mau ke dr lagi dia trauma, padahal ke dr mata doang , bingung bujuknya krn udah trauma
mgkin ada tips mhilangkan trauma spti itu utk anak usia 4th??

Ustadz Adriano Rusfi:
Seharusnya kita hindari trauma pada anak di bawah 5 tahun. Trauma pada rentang usia ini cenderung mengendap

Untuk mengurangi trauma, coba cerita hal-hal positif tentang dokter (mengobati, menolong orang). Kaitkan dokter dengan hal-hal yang ia sukai (dokter dan coklat). Ajak anak melintasi praktek dokter (Desensitisasi) dsb. Jangan malah mengasosiasikan dokter dengan, misalnya, jarum suntik.

Menghapus trauma pada usia ini hanya bisa dilakukan dengan terus-menerus memberikan pengalaman-pengalaman positif pada kesadaran anak.

Dan yang terpenting adalah doa kepada Sang Pemilik Hati

Penutup dari Ustadz Harry Santosa:

Pendidikan berbasis fitrah memang berangkat dari keyakinan bahwa manusia memiliki titik kesadaran fitrah dan kapasitas internal yang cukup untuk bertindak atau berperan dengan baik.

Saya masih melihat banyak sekolah berlabel Islam, walau menggunakan Islam sebagai konten pengetahuan dalam pengajarannya, namun pendekatan pendidikannya sama sekali bertolak belakang dengan konsep fitrah.

Mereka masih menerapkan pendekatan “deficit based” bahwa manusia “kosong” , “lemah” tanpa potensi apapun sehingga harus banyak ditervensi, diistimulus, dibiasakan/conditioning, diberi reward n punishment, di “tangan besi” kan dsbnya.

Beberapa sekolah berlabel Islam dengan bangga mengatakan telah menerapkan disiplin dengan ketat, sehingga berhasil mengeluarkan siswa siswa “bermasalah”.

Bukankah aneh jika ada lembaga pendidikan yang hanya mau menerima siswa baik baik dan berprestasi saja? Bukankah lembaga pendidikan justru bertugas membuka jiwa dan kesadaran fitrah anak didik sehingga menjadi baik?

Semoga kita bisa kembali kepada fitrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.