JUM’AT, 04 OKTOBER 2019

HARI/TANGGAL : Jumat, 04 Oktober 2019
FASILITATOR : USTADZ AUFAR
NO. TELP : +62 821-4445-9037
URAIAN KEGIATAN :

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Siroh tentang masa muda nabi muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam

2. Membaca kitab tamhid

3. Murojaah hafalan

4. Melipat kertas origami

Hal yang ditanamkan kepada anak

– bahwa bermain seni melipat kertas dapat meningkatkan konsentrasi belajar

– membandingkan ciptaan manusia dengan ciptaan Allah

– selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan

FASILITATOR : USTADZ HAMZAH
NO. TELP : 0897-7287-405
URAIAN KEGIATAN :

 

 
FASILITATOR : USTADZ HUBBIL
NO. TELP : 0812-2550-4237
URAIAN KEGIATAN :

 

✍�07:30-08:30 : Membaca Tamhid, Lalu Membaca Surat Al-kahfi bersama-sama. Dan Mengengingatkan Keutamaan Membaca surat Al-kahfi Di hari Jum’at.

✍�08:30-09:00 : Istirahat

✍�09:00-10:30 : Khot Imla’ (diharapkan Setiap anak Membawa Pensil Semua).

FASILITATOR : USTADZAH MEGA
NO. TELP : 0896 8864 4177
URAIAN KEGIATAN :

 

Inspirasi

Inspirasi

Inspirasi

Seperti masuk ke “DUNIA LAIN”

Anak-anak sekolah sekarang serasa berada di “Dunia Lain”.
Bagaimana mungkin manusia berada di Dunia lain..? apalagi anak sekolah…!, Tidak mungkin…!

Kita renungkan sejenak….
Apa tujuan anak disekolahkan di sekolah …?
Jawabnya biar kelak hidup sukses….
Betul
, setuju sekali
Sukses yang dimaksud agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi peradaban dengan semulia-mulia akhlaq.
Setuju….!

Jika tujuan pendidikan seperti itu, maka apa yang dipelajari anak dan situasi belajarnya seharusnya persis seperti apa yang akan dihadapi dalam kehidupan nyata setelah lulus sekolah nantinya, setidak-tidaknya keadaan sekolah mirip-mirip atau serupa keadaannya dengan kehidupan nyata, agar sejak awal mereka sudah mengenal dan akrab dengan dunia yang kelak mereka akan hidup di dalamnya. Dan mereka akan mempelajari semua yang dibutuhkannya kelak, serta akan belajar semua cara untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di dunia nyatanya tersebut.

Tetapi dalam kenyataan yang mereka pelajari banyak yang tidak diperlukan dalam hidupnya kelak, karena mereka telah didikte dengan kurikulum yang diseragamkan walaupun tidak cocok dengan potensi unik mereka, dan lingkungan pendidikannya terbatasi dengan tembok-tembok sehingga matanya terhalang untuk melihat dunia nyata yang sebenarnya.

Walhasil karena bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun terkondisi dengan keadaan yang demikian, begitu lulus sekolah dan terjun ke dunia nyata, terkejutlah mereka,
Seperti masuk ke dalam “Dunia Lain”
,
Seperti dunia yang belum pernah disinggahinya selama bersekolah
.


“Dunia Lain”
adalah dunia yang masih asing baginya karena belum dikenalkan sebelumnya.
Dunia yang berbeda dengan “Dunia Lain” yang berada di dalam sekolahnya.

Seharusnya anak sekolah sejak dini dikenalkan dengan “Dunia Nyata” dan diberikan keleluasaan seluas-luasnya untuk memilih dan mengembangkan potensi dirinya sesuai apa yang dibutuhkan untuk hidupnya kelak.

Seharusnya para pendidik tugasnya adalah mendampingi dan membimbing, bukan mendikte. Karena masing-masing dari mereka memiliki potensi kekuatan dalam dirinya yang berbeda-beda dengan anak yang lainnya.

Biarkan anak mengembangkan potensi dirinya, mengembangkan “syakilah”nya dan mengenal “dunia”nya masing-masing. Karena setiap anak diciptakan oleh Allah ta’ala dengan peran yang berbeda-beda.

Biarkan anak mengenal Tuhannya dengan memperhatikan alam. Biarkan anak belajar bersama alam: di sawah, di gunung, di pantai, di pasar, di kantor, di pabrik, di terminal, di kebun binatang, berkumpul bersama masyarakat, dan sebagainya.

Alam adalah dunia nyata yang mana mereka akan hidup didalamnya kelak.

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

.

Sekolah sebagai Tertuduh

Sekolah sebagai Tertuduh

Banyak kalangan menyatakan ”Sistem persekolahan sekarang ini merupakan penyebab KENAKALAN REMAJA”.
(Sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan tujuan didirikannya persekolahan itu sendiri)

REMAJA (adolescence) adalah fase PERALIHAN dari Anak-anak Menuju Dewasa
Fase PERALIHAN ini disebabkan: Sudah BALIGH tetapi Belum AQIL.
BALIGH adalah kondisi tercapainya kedewasaan biologis (fisik) dengan kematangan alat reproduksi (usia 14-16 tahun).
AQIL adalah kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung-jawab syari’ah.
Seharusnya aqil tiba bersamaan dengan baligh, yang disebut dengan aqil-baligh.
Tetapi dalam kenyataan generasi yang merupakan “produk” persekolahan baligh nya lebih cepat (sekitar usia 12 – 13 thn) tetapi datangnya aqil menjadi terlambat (sekitar usia 25 tahun).
Padahal seharusnya datangnya Baligh bersamaan dengan datangnya Aqil, sehingga tidak ada fase Remaja dalam perkembangan diri siswa.

Masa peralihan ini merupakan masa yang membahayakan, karena anak yang sudah berfungsi organ biologisnya secara sempurna (Baligh) tetapi belum aqil (belum dewasa).

Lalu, kenapa sekolah dituduh sebagai penyebab munculnya remaja?

Jawabannya adalah:

  • Munculnya remaja beriringan dengan munculnya sistem persekolahan akibat revolusi indurtri pada akhir abad ke 19.
  • Sistem pendidikan di sekolah yang kurang mendukung percepatan aqil pada siswanya, justru cenderung memperlambat aqil siswanya. Karena sistem pendidikannya yang tidak menjadikan anak mandiri, bertanggung jawab, dan bersosial.
  • Suku-suku di pedalaman yang tidak mengenal sistem persekolahan, tidak mengenal remaja pada perkembangan generasi muda mereka, seperti suku Samoa, dan yang lainnya.

Menuduh sekolah sebagai penyebab kenakalan remaja merupakan tuduhan yang tidak fair, walaupun sistem persekolahan sekarang memang salah satu penyebabnya. Tapi tuduhan tersebut seharusnya tidak ditujukan kepada sekolah saja tetapi justru seharusnya ditujukan kepada siapa yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan siswa.
Orang tualah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Orang tua lah yang akan diminta pertanggung jawaban tentang pendidikan anaknya kelak di hari Akhir.

Jadi bukan hanya sekolah saja yang tertuduh tetapi …
ORANG TUA sebagai TERTUDUH yang sebenarnya.
Sejatinya tanggung jawab pendidikan itu merupakan tanggung jawab orang tua, bersama pemerintah, masyarakat, keluarga, yang akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
Mari kita didik anak-anak kita sesuai fitrahnya, sehingga tidak ada fase remaja yang mereka lalui.
Setelah melewati anak-anak semoga langsung menjadi dewasa sehingga segera bisa berperan dalam peradaban ini.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Masa Kecil Kurang “Bahagia”

Masa Kecil Kurang “Bahagia”

Pengalaman ketika mendampingi siswa sebuah SMK melakukan perjalanan kunjungan ke sebuah Industri di luar kota, banyak hal yang menjadi bahan renungan, terutama ketika melihat perilaku, dan tingkah polah siswa yang seharusnya sudah dewasa, namun kenyataannya masih seperti anak-anak.

Selama perjalanan di dalam bus serasa mendampingi anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Bagaimana tidak, seharusnya pribadi-pribadi yang sudah Aqil baligh tersebut, mereka akan duduk tenang dan akan berbicara tentang hal-hal yang dilakukannya ketika sampai di industri nanti. Namun kenyataannya kesempatan ini digunakannya untuk meledakkan kegundahan dalam benak mereka yang seolah-seolah selama ini terpenjara. Mereka bersorak riang, berteriak-teriak, bercanda, dengan gaya dan kekhasan masing-masing. Itulah kesempatan mereka untuk menumpahkan semua kebosanan, kepenatan, kegundahan, dan semua kotoran-kotoran yang ada dalam dirinya. Tak peduli apa tujuan perjalannya, yang penting hari ini adalah hari “kebebasan”.

Masa kecil kurang bahagia….
Sebuah kalimat canda yang sering terungkap ketika melihat seeorang yang sudah dewasa berperilaku seperti anak-anak.
Ternyata memang begitulah keadaan sebenarnya,memang masa kecilnya kurang bahagia, masa kecilnya kurang bermain, tanpa disadari.

Terlewat masa bermain ketika masih kecil, dan harus ditumpahkan hasrat bermainnya kapanpun kesempatan menyapa.

Masa kecil identik dengan masa bermain, sebagai mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menghabiskan waktu bermain ketika bersama anak-anak. Dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk bermain.
Namun banyak dan bahkan sebagian besar pendidikan sekarang ini terlalu mengebiri hak bermain anak. Pada usia yang masih sangat dini anak-anak dipaksa untuk belajar ini, belajar itu yang sebenarnya belum waktunya untuk diajarkan. Setelah mereka besar mereka dipaksa mempelajari sesuatu yang sebenarnya itu bukan bakat dan kesenangannya. Sehingga hasrat bermain alamiahnya terpendam dan tidak tersalurkan. Maka jadilah bom waktu yang setiap saat bisa meledak, dan harus meledak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk men”start up” pendidikan anak mulai umur 10 tahun, dengan memukulnya jika tidak mau mengerjakan sholat. 
Maka berikan hak anak untuk bermain sampai umur 10 tahun.
0 – 10 tahun : bermain sambil belajar
>10 tahun : belajar sambil bermain
Bermain sambil belajar maksudnya dalam permainan-permainannya itu adalah belajar.
Belajar sambil bermain maksudnya mempelajari apa yang disenanginya, sesuai bakatnya, sehingga seolah-olah belajarnya seperti bermain.

Penulis : ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pendidikan Karakter Usia Aqil Baligh

Pendidikan Karakter Usia Aqil Baligh

Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan biologis dengan kematangan alat reproduksi (usia 14-16 tahun). Aqil adalah kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung-jawab syari’ah.

Seharusnya aqil tiba bersamaan dengan baligh disebut dengan aqil-baligh. Adapun kondisi aqil belum baligh atau baligh belum aqil dinamakan “remaja”.

Dunia dan Islam tidak mengenal konsep remaja (adolescence) sampai abad ke 19. Lihat sejarah peradaban islam, para sahabat muda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Usamah bin Zaid , menikah pada usia 15 tahun dan menjadi panglimapada usia 18 tahun. Para ulama dan cendekiawan muslim sudah memiliki peran di masyarakat pada usia 14-16 tahun. Di nusantara, kita mengenal konsep pendidikan aqilbaligh ini ditradisikan para ulama di pendidikan surau, pesantren,meunasah dan lainnya.

Istilah remaja dimunculkan karena rekayasa sosial dari revolusi industri untuk membuat kelas konsumtif untuk kepentingan industri. Islam dan banyak agama di dunia hanya mengenal konsep sebelum aqilbaligh dan sesudah aqilbaligh.

Konsep ”remaja” tidak dikenal dalam undang-undang yang berlaku. Tidak ada satu UU pun, baik UU perdata, hukum pidana, UU perkawinan, UU lalu lintas, UU kesejahteraan anak dan lainnya yang menyebutkan kata “remaja”. Secara biologis sepakat bahwa remaja dimulai ketika haidh dan ihtilam (mimpi basah).

Dunia pendidikan hanya mengenal pedagogi (pendidikan anak) dan andragogi (pendidikan orang dewasa). Tidak pernah dikenal istilah “remajagogi”. Remaja pada dasarnyasudah masuk kepada masa dewasa (aqilbaligh).

Remaja sebenarnya jauh lebih kompeten daripada yang kita duga, dan sebagian besar dari masalah mereka berasal dari pembatasan penempatan sosial pada mereka. Islam juga demikian, anak anak yang sudah baligh usia 12- 15 tahun, maka dianggap sudah dewasa dan wajib memikul syariah termasuk nafkah dan jihad.

Penekanan pembelajaran pada masa ini adalah pada persiapan karir dan perkembangannya. Anak mulai siap untuk mengambil peran orang dewasa dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Hubungan anak dan orang tua adalah partner.

Seharusnya anak yang sudah balighkondisinya adalah sebagai berikut:

KarakterIman:Pribadi berakhlaq mulia, tunduk dan taat beribadah.

Karakter Belajar :Pribadi yang inovatif dan kreatif.

Karakter Bakat :Pribadi yang berkarya atas bakat.

Akan tetapi apabila keadaan anak tidak demikian, maka hal ini berarti terdapat karakter-karakter yang tidak tumbuh pada fase-fase sebelumnya.

 

  1. Karakter anak usia aqil baligh

 Karakter keimanan:

setiap manusia lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, karena setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibunya.

Karakter belajar:

setiap manusia adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

Karakter bakat:

setiap manusia adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.

 

  1. Kondisi personal aqil baligh

 

  1. Adanya pembebanan syari’at (taklif)
  2. Berkedudukan sebagaimana orang dewasa
  3. Organ biologis sudah berfungsi, sehingga tertarik dengan lawan jenis
  4. Waktunya memikul tanggung jawab terhadap Allah ta’ala , diri, hak milik, otoritas teritorialnya, kemanusiaan dan alam semesta.
  5. Masa emas bagi karakter kelelakian (karakter keayahan) dan karakter keperempuanan (karakter keibuan), karena secara karakter perkembangan, ini adalah usia dewasa penuh. Sebaiknya mereka sudah dipersiapkan untuk menikah atau tinggal di luar rumah (rantau)
  6. Personal yang berakhlaq mulia tunduk dan taat beribadah
  7. Personal yang inovatif/innovator
  8. Personal yang berkarya sesuai bakat/ talentpreneur

 

  1. Langkah pembelajaran usia aqil baligh

 

  1. Membangkitkan sikap tanggung jawab terhadap Allah ta’ala, diri, dan lingkungan.
  2. Memberikan tantangan penuh untuk mandiri,menikah dan berkeluarga
  3. Memberikan tanggung jawab dan peran sosial
  4. Memposisikan sebagai orang dewasa dalam panggilan,tanggung jawab,  peran sosial dan lainnya
  5. Mendorong personal untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk dirinya dan keluarganya
  6. Menerapkan metode pendidikan Kurikulum Andragogi (orang dewasa) bukan Kurikulum Pedagogi (anak-anak)
  7. Membimbing personal untuk membiayai hidupnya sendiri
  8. Menerapkan metode pendidikan “Raja Tega” dengan tetap menjadikan orang tua atau guru sebagai figur teladan.

 

  1. Contoh penyimpangan pembelajaran usia aqil baligh

 

  1. Selalu memberikan apapun yang diminta. Seharusnya dididik bahwa untuk memperoleh sesuatu perlu adanya usaha dan tanggung jawab.
  2. Menerapkan kurikulum anak-anak (pedagogi) untuk mereka
  3. Memanggil mereka dengan sebutan anak-anak. Seharusnya saudara-saudara, atau bapak-bapak / ibu-ibu.
  4. Tidak memberikan peran kemasyarakatan atau keorganisasi-ankepada mereka.
  5. Memberikan peran kemasyarakatan atau keorganisasian yang tidak sesuai dengan potensi diri atau bakatnya
  6. Tidak tega menerjunkannya ke dunia nyata untuk mengatasi masalahnya sendiri
  7. Tidak ada figur teladan baginya sehingga salahinterpretasi terhadap

 

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq

 

.

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.
Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.

Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.

Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.

Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.

Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.

Apa yang harusnya beda..?

Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.

Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas Pengetahuan-Nya.

Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.

Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan hard skillyang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun, juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan soft skillyang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.

Setiap orang hendaknya memiliki hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi juga dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

 

LARI MARATHON

Jika pendidikan karakter diibaratkan lari Marathon, maka fase murahaqah (10-14 tahun) ini adalah ibarat pelari sudah mendekati garis finish (garis finish pendidikan anak adalah usia aqil baligh)

Maka inilah  watunya mengerahkan semua tenaga dan daya untuk mencapai garis finish dengan selamat dan menjadi sang juara.

Juara dalam pendidikan adalah telah tumbuhnya semua karakter dengan sempurna pada  usia aqil baligh.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Terbuang Vs Tertuang

Terbuang Vs Tertuang

“TERBUANG vs TERTUANG”
(Mengisi Gelas dengan Madu Satu Ember)

Menuang madu seember kedalam gelas kecil merupakan perbuatan mubadzir.
Madu yang TERBUANG akan lebih banyak daripada yang TERTUANG di dalam gelas.
Orang yang melakukan ini pasti orang yang kurang akal.

Kita sering mengklaim yang seperti ini bukan kepada kita, tetapi kepadaorang lain.
Tetapi ketahuilah, tanpa kita sadari ternyata kita senantiasa melakukannya dan terus melakukannya.

Mari perhatikan pendidikan anak kita !
Kita ingin anak kita memiliki pengetahuan sebanyak-banyaknya, agar kelak pada saat terjun di kehidupan nyata yang banyak duri ini memiliki pengetahuan yang banyak dan bisa survive dalam hidupnya.
Akhirnya sebanyak mungkin materi pelajaran diberikan kepada anak. seolah-olah kita yakin sebuah gelas akan menjadi elastis membesar sehingga mampu menampung madu satu ember.

Kenyataannya ?, setelah terjun ke kehidupan nyata ternyata hanya sebagian kecil ilmu pengetahuan yang “bisa dipakai” untuk hidup.

Betul, anak kita ibarat wadah elastis yang dapat mengembang. Namun bentuknya belum tentu seperti gelas, juga belum tentu sebesar ember, dan belum tentu juga bisa diisi dengan cara dituang.

Anak kita memiliki BAKAT yang unik, sehingga jangan kita klaim anak kita bentuknya seperti gelas.
Anak kita memiliki KECERDASAN yang unik, sehingga jangan kita klaim ukurannya sebesar ember.
Anak kita memiliki GAYA BELAJAR yang unik, sehingga jangan kita klaim cara mengisinya dengan dituang.

Mari kita didik anak kita dengan INSIDE-OUT, mengembangkan apa yang sudah ada dalam diri anak berupa karakter-karakter yang sudah Allah ta’ala instal pada diri anak sejak lahir. Kenali BAKAT, KECERDASAN, dan GAYA BELAJAR anak kita masing-masing.

Jika tidak demikian, kita terlalu konsentrasi OUTSIDE-IN, terlalu banyak menjejalkan pengetahuan kepada anak yang sebenarnya dia tidak membutuhkannya, beban materi yang bukan kemampuannya, dan mengajari dengancara yang tidak disukainya. Maka sejatinya kita telah menuang madu satu ember kedalam sebuah gelas,
yang TERBUANG lebih banyak dari pada yang TERTUANG.

Ternyata kita mubadzir…,
“Sesungguhnya orang-orang mubadzir itu temannya Syaitan”…
Na’udzubillahi min dzalik

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

Pendidikan Usia 10-14 Tahun

Pendidikan Usia 10-14 Tahun

Pendidikan karakter usia 10-14 tahun

المَرْحَلَةُ المُرَاهَقَةُ

Fase Murahaqah (fase persiapan baligh)

  1. Pada masa ini adalah masa emas bagi Karakter Bakat, seharusnya bakat anak sudah ditemukan.
  2. Masa bermain sudah berakhir, beralih ke masa persiapan aqil baligh
  3. Boleh dipukul jika meninggalkan sholat
  4. Dipisah tempat tidurnya

Fase murahaqah adalah fase “start up”, atau “tancap gas” untuk persiapan aqil baligh

Seharusnya pada fase ini karakter iman dan karakter belajar sudah tumbuh indah, sehingga sudah tidak perlu dipukul karena tidak sholat, tidak usah disuruh untuk belajar, sehingga dengan semangat dia akan menumbuhkan potensi bakatnya.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pendidikan Karakter Usia 10-14 tahun

Pendidikan Karakter Usia 10-14 tahun

 PENDIDIKAN KARAKTER USIA 10-14 TAHUN

Dalam Pendidikan Islam, usia 10 tahun adalah titik kritikal karena ini saatnya anak boleh dipukul ketika meninggalkan sholat, tentu pukulan yang tidak melukai dan menghinakan, namun sebaiknya jangan sampai dipukul karena ada waktu yang cukup dari usia7 tahun ketika perintah sholat disampaikan. “Boleh dipukul” adalah warning mengingat mereka akan menjalani fase pendidikan terberat sepanjang masa anak-anaknya, yaitu fase pre aqilbaligh (10 – 14 tahun). Jika disebut masa anak adalah masa bermain, maka di usia 10 inilah batas masa bermain dan mulai serius menjalani pendidikan murahaqah sebagai persiapan menuju aqilbaligh di usia 14 – 15 tahun. Kebanyakan mereka yang menolak “bermain” pada masa anak adalah karena tidak memahami pada fase mana anak “bermain” dan pada fase mana mulai menggembleng diri baik bakat maupun akhlaq.

Di usia 10 tahun, juga diperintahkan untuk mulai memisahkan kamar anak dengan kamar orangtuanya, juga dipisahkan kamar anak lelaki dengan kamar anak perempuan.

Di usia 10 tahun anak anak mulai dijuruskan sesuai bakatnya dan mulai fokus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang menjadi potensi dirinya.

Usia ini menjadi penting karena anak akan menghadapi tahap latih pre aqilbaligh di usia 10 – 14 tahun, dimana semua fondasi karakter keimanan, karakter belajar dan karakter bakat harus sudah selesai pada usia ini, termasuk perihal karakter seksualitas dimana ketertarikan pada lawan jenis sudah mulai ada, karenanya Islam mensyaratkan secara normatif dengan pemisahan kamar dan sholat tidak boleh ditinggalkan, ini agar anak anak fokus menghadapi masa latih di usia 10-14 tahun, yaitu masa terberat sepanjang masa anak-anak menuju pemuda.

Pada usia ini penekanan pada pendidikan afektif, Emotional Intelligent, bekerja dalam grup kecil. Orang tua mengambil peran sebagai pelatih dan mentor, sedangkan anak sebagai pemagang.

Karakter Keimanan: Membangkitkan kesadaran bahwa Allah sebagai Ilah (Tauhid Uluhiyyah), dengan keteladanan, konsisten dan ridho pada setiap perintah dan larangan, adanya pendamping akhlaq.

Karakter Belajar: Mewujudkan kompetensi belajar dan inovator, mempelajari bahasa ibu ke-2, menguasai sastra bahasa ibu, belajar untuk alam dan masyarakat, mengembangkan riset dan nalar, melakukan proyek-proyek untuk mempelajari sesuatu.

Karakter Bakat: Mewujudkan gagasan dan kompetensi melalui bakat dengan cara magang kepada para ahli dan membuka jaringan.

 

  1. Karakter anak usia 10-14 tahun

 

1. Karakter keimanan:

setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, karena setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibu.

2. Karakter belajar:

setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

3. Karakter bakat:

setiap anak adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.

 

  1. Kondisi anak usia 10-14 tahun

 

  1. Pada masa ini adalah masa emas bagi Karakter Bakat, karena sesuaikarakter perkembangan pada saat usia 10 – 14, anak berada pada masa latih pra-aqilbaligh atau masa penggemblengan bakat dan akhlaq agar mandiri dan berkarya dengan akhlaq yang mulia tepat ketika berusia 14 atau 15 tahun.
  2. Masa bermain sudah berakhir, beralih ke masa persiapan aqil baligh
  3. Boleh dipukul jika meninggalkan sholat
  4. Dipisah tempat tidurnya antara laki-laki dan perempuan

 

3. Langkah pembelajaran anak usia 10-14 tahun

 Membangkitkan karakter keimanan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah ta’ala sebagai Ilah (satu-satunya sembahan/tauhid uluhiyyah) melalui:

  • Mencontoh teladan dan  memberiketeladanan kepada mereka
  • Konsisten dan ridha denganperintah dan larangan allah ta’ala
  • Anak perlu mentor atau pendamping akhlaq (chaperon) agar bermanfaat sebesarnya dengan semulia mulia akhlaq. Magangkan mereka dengan pendamping akhlaq (chaperon) untuk membimbing anak konsisten terhadap pilihannya dan berani menanggung resikonya.
  • Menguatkan nilai-nilai karakter positif yang akan mereka perjuangkan dalam hidup ini berkaitan dengan akhlaq dan tujuan penciptaan di muka bumi. Anak dididik untuk bertanggung jawab terhadap orang lain dan lingkungannya, dimulai sejak umur 10 tahun.
  • Umur 10 tahun adalah masa start up atau tancap gas untuk mengembangkan karakter dan potensi diri, dan masa bermain sudah berakhir beralih ke masa persiapan untuk bersikap dan berperan dalam kehidupan yang sebenarnya yaitu masa aqil baligh.
  • Anak laki-laki didekatkan ibu, anak perempuan didekatkan ayah, untuk memahami sosok ideal lawan jenis yang pertama ditemuinya, bersama ayah atau ibunya.

 

Membangkitkan karakter belajar melalui:

  • Mendorong  anak untuk melakukan riset dan penalaran
  • Membimbing anak untuk melakukan project based innovation
  • Pembelajaran bahasa ibu ke 2 (bahasa alquran dll)
  • Belajar bersama alam (BBA). Memanfaatkan alam yang luas terbentang untuk proses pembelajaran dalam tiga hal pokok:

 

1. Alam sebagai ruang belajar

Alam adalah ruang belajar interaktif yang tidak dibatasi sekat-sekat dinding, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja

2. Alam sebagai media dan bahan ajar

Alam kaya akan jenis-jenis benda yang dapat dijadikan sebagai media dan bahan ajar yang mendukung efektifitas pembelajaran

3. Alam sebagai obyek belajar

Proses pembelajaran melalui pengamatan dan uji coba terhadap gejala-gejala alam mengasah daya kritis dan kepekaan anak yang akan menumbuhkan kesadaran akan kemahakuasaan Allah ta’ala.

 

Membangkitkan Karakter Bakat melalui:

  • Menyusun rencana pengembangan portofolio
  • Mendorong dan membimbing anak untuk fokus pada bakatnya yang merupakan panggilan hidupnya. Anak perlu Coach atau Pendamping Bakat (Maestro) agar berkarya sebanyak-banyaknya dengan karya terbaik
  • Meningkatkan potensi diri dengan magang kepada orang ahli (Maestro).
  • Pembelajaran  model proyek berbasis bakat (Project Based Talent) dengan personalized Curriculum
  • Membimbing anak untuk merancang startup business (bisnis pemula), mencari investor dan partner.
  • Anak mulai dilatih untuk membiayai/menghidupi diri sendiri sejak umur 10 tahun walaupun dengan prosentase masih kecil.
  • Menguatkan Karakter gender, Anak perempuan didekatkan ke ayah dan anak lelaki didekatkan ke ibu agarmasing-masing memperoleh sosok lawan jenis yang ideal dan tidakmemberikan kepada lawan jenis yang bukan mahramnya.

 

  1. Contoh penyimpangan pembelajaran pada anak usia 10-14 tahun
  •  Hanya fokus pada potensi akademik, sementara lupa atau lalai untuk mempersiapkan kemandirian dan kedewasaan atau aqilbaligh ketika usia 14 atau 15 tahun.
  • Tidak mendekatkan anak perempuan ke ayah, atau tidak mendekatkan anak lelaki ke ibu sehingga anak-anak tidak memperoleh idola lawan jenis pertama dari orang terdekatnya. Di usia ini penting bagi anak perempuan memahami lelaki dari sudut pandang lelaki, dalam hal ini ayahnya, dan juga penting bagi anak lelaki memahami perempuan dari sudut pandang perempuan, dalam hal ini ibunya.
  • Menyeragamkan kurikulum untuk semua anak. Usia ini adalah puncak karakter bakat maka jangan sampai karakter bakat ini hilang begitu saja, lakukanlah pemetaan bakat dan perancangan personalized curriculum berbasis bakat.
  • Karakter Keimanan tidak tumbuh. Ada masa 3 tahun sejak anak diperintah sholat pada usia 7 tahun, dan boleh dipukul pada usia 10 tahun. Artinya, anak tidak perlu meninggalkan sholat dan dipukul apabila pendidikan mampu membangkitkan karakter keimanannya sebelum usia 10 tahun. Usia 10 tahun anak harus tuntas “mengenal” Allah. Jika keteladanan dan atmosfir keshalihan tidak terlalu baik atau kondusif di rumah, maka perlu diupayakan keteladanan dan lingkungan di luar rumah, misalnya dengan program Home Stay, atau menginapkan anak pada keluarga shalih dengan ayah ibu yang utuh.
  • Mengirimkan ke boarding school sebelum masuk aqilbaligh. Banyak kasus penyimpangan kejiwaan jika mengirimkan anak ke boarding school sebelum aqilbaligh. Konsep boarding school atau sekolah berasrama sebenarnya tidak dikenal dalam Islam untuk usia di bawah aqilbaligh (< 15 tahun), Islam hanya mengenal konsep homestay, atau menitipkan anak pada orang shalih.

 

  1. Pemetaan potensi anak usia 10-14 tahun

Setelah anak berusia 10 tahun, seharusnya semua potensi anak sudah ditemukan, namun demikian tidak ada kata terlambat dalam memetakan potensi walaupun sudah lanjut usia. Dan tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada jalur potensi yang telah Allah karuniakan kepada setiap manusia, pada usia berapapun.

Metode pemetaan potensi pada usia ini sama dengan pemetaan pada usia-usia sebelumnya.

 

Penulis: ustadz Abdul Kholiq

..

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai melatih “HEWAN SIRKUS”

Benarkah sekolah anak-anak kita seperti tempat melatih hewan sirkus…?”
Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat ironis dan mengagetkan,
Pertanyaan yang mengada-ada, kurang kerjaan, dan melecehkan…
Bagaimana mungkin manusia disamakan dengan hewan…

Sebentar…
Kita tengok sejenak bagaimana cara hewan dilatih untuk bermain sirkus.
Gajah, kera, kuda, burung dilatih dengan cara dijinakkan terlebih dahulu, beri hadiah jika nurut dan beri hukuman jika membangkang, lalu dilatih gerakan-gerakan yang diinginkan, diulang-ulang sehingga manjadi terbiasa dan terampil.
Dan hewan lainnya pun memiliki metode pelatihan yang serupa…
Ringkasnya yaitu: … doktrin, latih, dan biasakan… 
Tidak perlu ada penumbuhan kesadaran..
Tidak perlu ada penanaman adab..
Tidak perlu ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan hewan itu terampil melakukan perintah tanpa perlu tahu untuk tujuan apa mereka melakukan atraksi-atraksi itu.

Nah…
Sekarang kita tengok sejenak bagaimana anak-anak kita diajar di sekolah…
Jadikan terlebih dahulu anak menjadi penurut dengan hukuman dan hadiah, latih dan ajari mereka, ulang-ulang biar terbiasa agar menjadi pintar dan terampil.
Kita ajari anak-anak kita matematika, tanpa menumbuhkan penalarannya…
Kita ajari anak-anak kita tahfidz Al Qur’an tanpa terlebih dahulu ditumbuhkan kecintaan kepada Al Qur’an…
Kita latih anak-anak kita cara sholat tanpa terlebih dahulu ditanamkan kecintaan kepada yang memerintahkan sholat yaitu Allah ta’ala.
Ringkasnya yaitu,… Doktrin, latih, dan biasakan…
Tidak ada penumbuhan kesadaran..
Tidak ada penanaman adab..
Tidak ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan anak-anak terampil melakukan aktifitas tetapi anak tidak tahu untuk apa melakukan itu semua…

Sama….?
Sekolah anak kita sama dengan dengan pelatihan hewan sirkus?
Tentu saja bukan sekolah Anda yang dimaksud..!

Saudaraku,
Terkadang anak-anak kita terampil melakukan atraksi amal kebaikan, namun bukan karena kesadaran dan motivasi dari dalam dirinya, karena anak-anak kita melakukan kebaikan itu secara mekanistik dan reaktif.

Mereka didoktrin, bukan disadarkan… 
Mereka dilatih, bukan dididik…
Mereka dibiasakan, bukan dimotivasi…
Akhirnya mereka dibesarkan seperti hewan sirkus: begitu terampil melaksanakan perintah, namun hampa.

Mereka beramal shaleh tetapi gagal berpahala karena mereka kehilangan salah satu syarat utamanya: yaitu NIAT !!!
Ya, mereka kehilangan IMAN !!!.
Karena Iman yang merupakan sumber dari Niat yang Ikhlas…
Mereka kehilangan kesadaran, alasan dan ilmu berperilaku.

Maka, mari kita mulai pendidikan anak dari menanamkan iman, sebelum melatih mereka…
Kita sadarkan mereka…
Kita didik mereka…
Kita motivasi mereka…
Sehingga menjadi anak yang kaya akan aktifitas kebaikan dan kaya pula akan pahala dari Allah ta’ala.

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq
#Materi SOTIS #19

.