Sekolah sebagai Tertuduh

Sekolah sebagai Tertuduh

Banyak kalangan menyatakan ”Sistem persekolahan sekarang ini merupakan penyebab KENAKALAN REMAJA”.
(Sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan tujuan didirikannya persekolahan itu sendiri)

REMAJA (adolescence) adalah fase PERALIHAN dari Anak-anak Menuju Dewasa
Fase PERALIHAN ini disebabkan: Sudah BALIGH tetapi Belum AQIL.
BALIGH adalah kondisi tercapainya kedewasaan biologis (fisik) dengan kematangan alat reproduksi (usia 14-16 tahun).
AQIL adalah kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung-jawab syari’ah.
Seharusnya aqil tiba bersamaan dengan baligh, yang disebut dengan aqil-baligh.
Tetapi dalam kenyataan generasi yang merupakan “produk” persekolahan baligh nya lebih cepat (sekitar usia 12 – 13 thn) tetapi datangnya aqil menjadi terlambat (sekitar usia 25 tahun).
Padahal seharusnya datangnya Baligh bersamaan dengan datangnya Aqil, sehingga tidak ada fase Remaja dalam perkembangan diri siswa.

Masa peralihan ini merupakan masa yang membahayakan, karena anak yang sudah berfungsi organ biologisnya secara sempurna (Baligh) tetapi belum aqil (belum dewasa).

Lalu, kenapa sekolah dituduh sebagai penyebab munculnya remaja?

Jawabannya adalah:

  • Munculnya remaja beriringan dengan munculnya sistem persekolahan akibat revolusi indurtri pada akhir abad ke 19.
  • Sistem pendidikan di sekolah yang kurang mendukung percepatan aqil pada siswanya, justru cenderung memperlambat aqil siswanya. Karena sistem pendidikannya yang tidak menjadikan anak mandiri, bertanggung jawab, dan bersosial.
  • Suku-suku di pedalaman yang tidak mengenal sistem persekolahan, tidak mengenal remaja pada perkembangan generasi muda mereka, seperti suku Samoa, dan yang lainnya.

Menuduh sekolah sebagai penyebab kenakalan remaja merupakan tuduhan yang tidak fair, walaupun sistem persekolahan sekarang memang salah satu penyebabnya. Tapi tuduhan tersebut seharusnya tidak ditujukan kepada sekolah saja tetapi justru seharusnya ditujukan kepada siapa yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan siswa.
Orang tualah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Orang tua lah yang akan diminta pertanggung jawaban tentang pendidikan anaknya kelak di hari Akhir.

Jadi bukan hanya sekolah saja yang tertuduh tetapi …
ORANG TUA sebagai TERTUDUH yang sebenarnya.
Sejatinya tanggung jawab pendidikan itu merupakan tanggung jawab orang tua, bersama pemerintah, masyarakat, keluarga, yang akhirnya kembali ke rumah masing-masing.
Mari kita didik anak-anak kita sesuai fitrahnya, sehingga tidak ada fase remaja yang mereka lalui.
Setelah melewati anak-anak semoga langsung menjadi dewasa sehingga segera bisa berperan dalam peradaban ini.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pendidikan Karakter Usia Aqil Baligh

Pendidikan Karakter Usia Aqil Baligh

Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan biologis dengan kematangan alat reproduksi (usia 14-16 tahun). Aqil adalah kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung-jawab syari’ah.

Seharusnya aqil tiba bersamaan dengan baligh disebut dengan aqil-baligh. Adapun kondisi aqil belum baligh atau baligh belum aqil dinamakan “remaja”.

Dunia dan Islam tidak mengenal konsep remaja (adolescence) sampai abad ke 19. Lihat sejarah peradaban islam, para sahabat muda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Usamah bin Zaid , menikah pada usia 15 tahun dan menjadi panglimapada usia 18 tahun. Para ulama dan cendekiawan muslim sudah memiliki peran di masyarakat pada usia 14-16 tahun. Di nusantara, kita mengenal konsep pendidikan aqilbaligh ini ditradisikan para ulama di pendidikan surau, pesantren,meunasah dan lainnya.

Istilah remaja dimunculkan karena rekayasa sosial dari revolusi industri untuk membuat kelas konsumtif untuk kepentingan industri. Islam dan banyak agama di dunia hanya mengenal konsep sebelum aqilbaligh dan sesudah aqilbaligh.

Konsep ”remaja” tidak dikenal dalam undang-undang yang berlaku. Tidak ada satu UU pun, baik UU perdata, hukum pidana, UU perkawinan, UU lalu lintas, UU kesejahteraan anak dan lainnya yang menyebutkan kata “remaja”. Secara biologis sepakat bahwa remaja dimulai ketika haidh dan ihtilam (mimpi basah).

Dunia pendidikan hanya mengenal pedagogi (pendidikan anak) dan andragogi (pendidikan orang dewasa). Tidak pernah dikenal istilah “remajagogi”. Remaja pada dasarnyasudah masuk kepada masa dewasa (aqilbaligh).

Remaja sebenarnya jauh lebih kompeten daripada yang kita duga, dan sebagian besar dari masalah mereka berasal dari pembatasan penempatan sosial pada mereka. Islam juga demikian, anak anak yang sudah baligh usia 12- 15 tahun, maka dianggap sudah dewasa dan wajib memikul syariah termasuk nafkah dan jihad.

Penekanan pembelajaran pada masa ini adalah pada persiapan karir dan perkembangannya. Anak mulai siap untuk mengambil peran orang dewasa dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Hubungan anak dan orang tua adalah partner.

Seharusnya anak yang sudah balighkondisinya adalah sebagai berikut:

KarakterIman:Pribadi berakhlaq mulia, tunduk dan taat beribadah.

Karakter Belajar :Pribadi yang inovatif dan kreatif.

Karakter Bakat :Pribadi yang berkarya atas bakat.

Akan tetapi apabila keadaan anak tidak demikian, maka hal ini berarti terdapat karakter-karakter yang tidak tumbuh pada fase-fase sebelumnya.

 

  1. Karakter anak usia aqil baligh

 Karakter keimanan:

setiap manusia lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, karena setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibunya.

Karakter belajar:

setiap manusia adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

Karakter bakat:

setiap manusia adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.

 

  1. Kondisi personal aqil baligh

 

  1. Adanya pembebanan syari’at (taklif)
  2. Berkedudukan sebagaimana orang dewasa
  3. Organ biologis sudah berfungsi, sehingga tertarik dengan lawan jenis
  4. Waktunya memikul tanggung jawab terhadap Allah ta’ala , diri, hak milik, otoritas teritorialnya, kemanusiaan dan alam semesta.
  5. Masa emas bagi karakter kelelakian (karakter keayahan) dan karakter keperempuanan (karakter keibuan), karena secara karakter perkembangan, ini adalah usia dewasa penuh. Sebaiknya mereka sudah dipersiapkan untuk menikah atau tinggal di luar rumah (rantau)
  6. Personal yang berakhlaq mulia tunduk dan taat beribadah
  7. Personal yang inovatif/innovator
  8. Personal yang berkarya sesuai bakat/ talentpreneur

 

  1. Langkah pembelajaran usia aqil baligh

 

  1. Membangkitkan sikap tanggung jawab terhadap Allah ta’ala, diri, dan lingkungan.
  2. Memberikan tantangan penuh untuk mandiri,menikah dan berkeluarga
  3. Memberikan tanggung jawab dan peran sosial
  4. Memposisikan sebagai orang dewasa dalam panggilan,tanggung jawab,  peran sosial dan lainnya
  5. Mendorong personal untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk dirinya dan keluarganya
  6. Menerapkan metode pendidikan Kurikulum Andragogi (orang dewasa) bukan Kurikulum Pedagogi (anak-anak)
  7. Membimbing personal untuk membiayai hidupnya sendiri
  8. Menerapkan metode pendidikan “Raja Tega” dengan tetap menjadikan orang tua atau guru sebagai figur teladan.

 

  1. Contoh penyimpangan pembelajaran usia aqil baligh

 

  1. Selalu memberikan apapun yang diminta. Seharusnya dididik bahwa untuk memperoleh sesuatu perlu adanya usaha dan tanggung jawab.
  2. Menerapkan kurikulum anak-anak (pedagogi) untuk mereka
  3. Memanggil mereka dengan sebutan anak-anak. Seharusnya saudara-saudara, atau bapak-bapak / ibu-ibu.
  4. Tidak memberikan peran kemasyarakatan atau keorganisasi-ankepada mereka.
  5. Memberikan peran kemasyarakatan atau keorganisasian yang tidak sesuai dengan potensi diri atau bakatnya
  6. Tidak tega menerjunkannya ke dunia nyata untuk mengatasi masalahnya sendiri
  7. Tidak ada figur teladan baginya sehingga salahinterpretasi terhadap

 

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq

 

.

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.
Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.

Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.

Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.

Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.

Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.

Apa yang harusnya beda..?

Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.

Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas Pengetahuan-Nya.

Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.

Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan hard skillyang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun, juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan soft skillyang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.

Setiap orang hendaknya memiliki hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi juga dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

 

LARI MARATHON

Jika pendidikan karakter diibaratkan lari Marathon, maka fase murahaqah (10-14 tahun) ini adalah ibarat pelari sudah mendekati garis finish (garis finish pendidikan anak adalah usia aqil baligh)

Maka inilah  watunya mengerahkan semua tenaga dan daya untuk mencapai garis finish dengan selamat dan menjadi sang juara.

Juara dalam pendidikan adalah telah tumbuhnya semua karakter dengan sempurna pada  usia aqil baligh.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pendidikan Usia 10-14 Tahun

Pendidikan Usia 10-14 Tahun

Pendidikan karakter usia 10-14 tahun

المَرْحَلَةُ المُرَاهَقَةُ

Fase Murahaqah (fase persiapan baligh)

  1. Pada masa ini adalah masa emas bagi Karakter Bakat, seharusnya bakat anak sudah ditemukan.
  2. Masa bermain sudah berakhir, beralih ke masa persiapan aqil baligh
  3. Boleh dipukul jika meninggalkan sholat
  4. Dipisah tempat tidurnya

Fase murahaqah adalah fase “start up”, atau “tancap gas” untuk persiapan aqil baligh

Seharusnya pada fase ini karakter iman dan karakter belajar sudah tumbuh indah, sehingga sudah tidak perlu dipukul karena tidak sholat, tidak usah disuruh untuk belajar, sehingga dengan semangat dia akan menumbuhkan potensi bakatnya.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pendidikan Karakter Usia 10-14 tahun

Pendidikan Karakter Usia 10-14 tahun

 PENDIDIKAN KARAKTER USIA 10-14 TAHUN

Dalam Pendidikan Islam, usia 10 tahun adalah titik kritikal karena ini saatnya anak boleh dipukul ketika meninggalkan sholat, tentu pukulan yang tidak melukai dan menghinakan, namun sebaiknya jangan sampai dipukul karena ada waktu yang cukup dari usia7 tahun ketika perintah sholat disampaikan. “Boleh dipukul” adalah warning mengingat mereka akan menjalani fase pendidikan terberat sepanjang masa anak-anaknya, yaitu fase pre aqilbaligh (10 – 14 tahun). Jika disebut masa anak adalah masa bermain, maka di usia 10 inilah batas masa bermain dan mulai serius menjalani pendidikan murahaqah sebagai persiapan menuju aqilbaligh di usia 14 – 15 tahun. Kebanyakan mereka yang menolak “bermain” pada masa anak adalah karena tidak memahami pada fase mana anak “bermain” dan pada fase mana mulai menggembleng diri baik bakat maupun akhlaq.

Di usia 10 tahun, juga diperintahkan untuk mulai memisahkan kamar anak dengan kamar orangtuanya, juga dipisahkan kamar anak lelaki dengan kamar anak perempuan.

Di usia 10 tahun anak anak mulai dijuruskan sesuai bakatnya dan mulai fokus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang menjadi potensi dirinya.

Usia ini menjadi penting karena anak akan menghadapi tahap latih pre aqilbaligh di usia 10 – 14 tahun, dimana semua fondasi karakter keimanan, karakter belajar dan karakter bakat harus sudah selesai pada usia ini, termasuk perihal karakter seksualitas dimana ketertarikan pada lawan jenis sudah mulai ada, karenanya Islam mensyaratkan secara normatif dengan pemisahan kamar dan sholat tidak boleh ditinggalkan, ini agar anak anak fokus menghadapi masa latih di usia 10-14 tahun, yaitu masa terberat sepanjang masa anak-anak menuju pemuda.

Pada usia ini penekanan pada pendidikan afektif, Emotional Intelligent, bekerja dalam grup kecil. Orang tua mengambil peran sebagai pelatih dan mentor, sedangkan anak sebagai pemagang.

Karakter Keimanan: Membangkitkan kesadaran bahwa Allah sebagai Ilah (Tauhid Uluhiyyah), dengan keteladanan, konsisten dan ridho pada setiap perintah dan larangan, adanya pendamping akhlaq.

Karakter Belajar: Mewujudkan kompetensi belajar dan inovator, mempelajari bahasa ibu ke-2, menguasai sastra bahasa ibu, belajar untuk alam dan masyarakat, mengembangkan riset dan nalar, melakukan proyek-proyek untuk mempelajari sesuatu.

Karakter Bakat: Mewujudkan gagasan dan kompetensi melalui bakat dengan cara magang kepada para ahli dan membuka jaringan.

 

  1. Karakter anak usia 10-14 tahun

 

1. Karakter keimanan:

setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, karena setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibu.

2. Karakter belajar:

setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

3. Karakter bakat:

setiap anak adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.

 

  1. Kondisi anak usia 10-14 tahun

 

  1. Pada masa ini adalah masa emas bagi Karakter Bakat, karena sesuaikarakter perkembangan pada saat usia 10 – 14, anak berada pada masa latih pra-aqilbaligh atau masa penggemblengan bakat dan akhlaq agar mandiri dan berkarya dengan akhlaq yang mulia tepat ketika berusia 14 atau 15 tahun.
  2. Masa bermain sudah berakhir, beralih ke masa persiapan aqil baligh
  3. Boleh dipukul jika meninggalkan sholat
  4. Dipisah tempat tidurnya antara laki-laki dan perempuan

 

3. Langkah pembelajaran anak usia 10-14 tahun

 Membangkitkan karakter keimanan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah ta’ala sebagai Ilah (satu-satunya sembahan/tauhid uluhiyyah) melalui:

  • Mencontoh teladan dan  memberiketeladanan kepada mereka
  • Konsisten dan ridha denganperintah dan larangan allah ta’ala
  • Anak perlu mentor atau pendamping akhlaq (chaperon) agar bermanfaat sebesarnya dengan semulia mulia akhlaq. Magangkan mereka dengan pendamping akhlaq (chaperon) untuk membimbing anak konsisten terhadap pilihannya dan berani menanggung resikonya.
  • Menguatkan nilai-nilai karakter positif yang akan mereka perjuangkan dalam hidup ini berkaitan dengan akhlaq dan tujuan penciptaan di muka bumi. Anak dididik untuk bertanggung jawab terhadap orang lain dan lingkungannya, dimulai sejak umur 10 tahun.
  • Umur 10 tahun adalah masa start up atau tancap gas untuk mengembangkan karakter dan potensi diri, dan masa bermain sudah berakhir beralih ke masa persiapan untuk bersikap dan berperan dalam kehidupan yang sebenarnya yaitu masa aqil baligh.
  • Anak laki-laki didekatkan ibu, anak perempuan didekatkan ayah, untuk memahami sosok ideal lawan jenis yang pertama ditemuinya, bersama ayah atau ibunya.

 

Membangkitkan karakter belajar melalui:

  • Mendorong  anak untuk melakukan riset dan penalaran
  • Membimbing anak untuk melakukan project based innovation
  • Pembelajaran bahasa ibu ke 2 (bahasa alquran dll)
  • Belajar bersama alam (BBA). Memanfaatkan alam yang luas terbentang untuk proses pembelajaran dalam tiga hal pokok:

 

1. Alam sebagai ruang belajar

Alam adalah ruang belajar interaktif yang tidak dibatasi sekat-sekat dinding, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja

2. Alam sebagai media dan bahan ajar

Alam kaya akan jenis-jenis benda yang dapat dijadikan sebagai media dan bahan ajar yang mendukung efektifitas pembelajaran

3. Alam sebagai obyek belajar

Proses pembelajaran melalui pengamatan dan uji coba terhadap gejala-gejala alam mengasah daya kritis dan kepekaan anak yang akan menumbuhkan kesadaran akan kemahakuasaan Allah ta’ala.

 

Membangkitkan Karakter Bakat melalui:

  • Menyusun rencana pengembangan portofolio
  • Mendorong dan membimbing anak untuk fokus pada bakatnya yang merupakan panggilan hidupnya. Anak perlu Coach atau Pendamping Bakat (Maestro) agar berkarya sebanyak-banyaknya dengan karya terbaik
  • Meningkatkan potensi diri dengan magang kepada orang ahli (Maestro).
  • Pembelajaran  model proyek berbasis bakat (Project Based Talent) dengan personalized Curriculum
  • Membimbing anak untuk merancang startup business (bisnis pemula), mencari investor dan partner.
  • Anak mulai dilatih untuk membiayai/menghidupi diri sendiri sejak umur 10 tahun walaupun dengan prosentase masih kecil.
  • Menguatkan Karakter gender, Anak perempuan didekatkan ke ayah dan anak lelaki didekatkan ke ibu agarmasing-masing memperoleh sosok lawan jenis yang ideal dan tidakmemberikan kepada lawan jenis yang bukan mahramnya.

 

  1. Contoh penyimpangan pembelajaran pada anak usia 10-14 tahun
  •  Hanya fokus pada potensi akademik, sementara lupa atau lalai untuk mempersiapkan kemandirian dan kedewasaan atau aqilbaligh ketika usia 14 atau 15 tahun.
  • Tidak mendekatkan anak perempuan ke ayah, atau tidak mendekatkan anak lelaki ke ibu sehingga anak-anak tidak memperoleh idola lawan jenis pertama dari orang terdekatnya. Di usia ini penting bagi anak perempuan memahami lelaki dari sudut pandang lelaki, dalam hal ini ayahnya, dan juga penting bagi anak lelaki memahami perempuan dari sudut pandang perempuan, dalam hal ini ibunya.
  • Menyeragamkan kurikulum untuk semua anak. Usia ini adalah puncak karakter bakat maka jangan sampai karakter bakat ini hilang begitu saja, lakukanlah pemetaan bakat dan perancangan personalized curriculum berbasis bakat.
  • Karakter Keimanan tidak tumbuh. Ada masa 3 tahun sejak anak diperintah sholat pada usia 7 tahun, dan boleh dipukul pada usia 10 tahun. Artinya, anak tidak perlu meninggalkan sholat dan dipukul apabila pendidikan mampu membangkitkan karakter keimanannya sebelum usia 10 tahun. Usia 10 tahun anak harus tuntas “mengenal” Allah. Jika keteladanan dan atmosfir keshalihan tidak terlalu baik atau kondusif di rumah, maka perlu diupayakan keteladanan dan lingkungan di luar rumah, misalnya dengan program Home Stay, atau menginapkan anak pada keluarga shalih dengan ayah ibu yang utuh.
  • Mengirimkan ke boarding school sebelum masuk aqilbaligh. Banyak kasus penyimpangan kejiwaan jika mengirimkan anak ke boarding school sebelum aqilbaligh. Konsep boarding school atau sekolah berasrama sebenarnya tidak dikenal dalam Islam untuk usia di bawah aqilbaligh (< 15 tahun), Islam hanya mengenal konsep homestay, atau menitipkan anak pada orang shalih.

 

  1. Pemetaan potensi anak usia 10-14 tahun

Setelah anak berusia 10 tahun, seharusnya semua potensi anak sudah ditemukan, namun demikian tidak ada kata terlambat dalam memetakan potensi walaupun sudah lanjut usia. Dan tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada jalur potensi yang telah Allah karuniakan kepada setiap manusia, pada usia berapapun.

Metode pemetaan potensi pada usia ini sama dengan pemetaan pada usia-usia sebelumnya.

 

Penulis: ustadz Abdul Kholiq

..

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai melatih “HEWAN SIRKUS”

Benarkah sekolah anak-anak kita seperti tempat melatih hewan sirkus…?”
Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat ironis dan mengagetkan,
Pertanyaan yang mengada-ada, kurang kerjaan, dan melecehkan…
Bagaimana mungkin manusia disamakan dengan hewan…

Sebentar…
Kita tengok sejenak bagaimana cara hewan dilatih untuk bermain sirkus.
Gajah, kera, kuda, burung dilatih dengan cara dijinakkan terlebih dahulu, beri hadiah jika nurut dan beri hukuman jika membangkang, lalu dilatih gerakan-gerakan yang diinginkan, diulang-ulang sehingga manjadi terbiasa dan terampil.
Dan hewan lainnya pun memiliki metode pelatihan yang serupa…
Ringkasnya yaitu: … doktrin, latih, dan biasakan… 
Tidak perlu ada penumbuhan kesadaran..
Tidak perlu ada penanaman adab..
Tidak perlu ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan hewan itu terampil melakukan perintah tanpa perlu tahu untuk tujuan apa mereka melakukan atraksi-atraksi itu.

Nah…
Sekarang kita tengok sejenak bagaimana anak-anak kita diajar di sekolah…
Jadikan terlebih dahulu anak menjadi penurut dengan hukuman dan hadiah, latih dan ajari mereka, ulang-ulang biar terbiasa agar menjadi pintar dan terampil.
Kita ajari anak-anak kita matematika, tanpa menumbuhkan penalarannya…
Kita ajari anak-anak kita tahfidz Al Qur’an tanpa terlebih dahulu ditumbuhkan kecintaan kepada Al Qur’an…
Kita latih anak-anak kita cara sholat tanpa terlebih dahulu ditanamkan kecintaan kepada yang memerintahkan sholat yaitu Allah ta’ala.
Ringkasnya yaitu,… Doktrin, latih, dan biasakan…
Tidak ada penumbuhan kesadaran..
Tidak ada penanaman adab..
Tidak ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan anak-anak terampil melakukan aktifitas tetapi anak tidak tahu untuk apa melakukan itu semua…

Sama….?
Sekolah anak kita sama dengan dengan pelatihan hewan sirkus?
Tentu saja bukan sekolah Anda yang dimaksud..!

Saudaraku,
Terkadang anak-anak kita terampil melakukan atraksi amal kebaikan, namun bukan karena kesadaran dan motivasi dari dalam dirinya, karena anak-anak kita melakukan kebaikan itu secara mekanistik dan reaktif.

Mereka didoktrin, bukan disadarkan… 
Mereka dilatih, bukan dididik…
Mereka dibiasakan, bukan dimotivasi…
Akhirnya mereka dibesarkan seperti hewan sirkus: begitu terampil melaksanakan perintah, namun hampa.

Mereka beramal shaleh tetapi gagal berpahala karena mereka kehilangan salah satu syarat utamanya: yaitu NIAT !!!
Ya, mereka kehilangan IMAN !!!.
Karena Iman yang merupakan sumber dari Niat yang Ikhlas…
Mereka kehilangan kesadaran, alasan dan ilmu berperilaku.

Maka, mari kita mulai pendidikan anak dari menanamkan iman, sebelum melatih mereka…
Kita sadarkan mereka…
Kita didik mereka…
Kita motivasi mereka…
Sehingga menjadi anak yang kaya akan aktifitas kebaikan dan kaya pula akan pahala dari Allah ta’ala.

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq
#Materi SOTIS #19

.

Panen Sebelum Waktunya

Panen Sebelum Waktunya

Panen Sebelum Waktunya

Seorang Ibu mengeluh….
Anakku keras kepala, suka membantah dan banyak alasan kalau disuruh, padahal dia baru berumur 6 tahun.., apa jadinya kalau sudah besar nanti…?

Sementara ibu yang lain menambahi…
Iya.., kayak anakku juga, kalau disuruh duduk belajar susahnya minta ampun…, gak betah tinggal di rumah…
Kalau begitu terus .., bagaimana masa depannya nanti…? Suram …!

Nggak kalah serunya ibu yang lainnya lagi menimpali…
Anakku baru berumur 5 tahun, sukanya menyendiri dan nggak suka kumpul-kumpul bersama teman-temannya, kalau kuper kayak gitu apa bisa sukses nantinya…?

Dan masih banyak keluhan senada lainnya tentang itu.
Wajar.., dan sangat wajar seorang ibu khawatir terhadap anaknya yang keadaannya seperti itu.

Namun ketahuilah wahai para orang tua…
– Setiap anak itu hebat, Tidak ada anak yang bodoh. Adanya anak yang merasa bodoh karena potensi yang dimilikinya tidak diakui sebab dianggap tidak sesuai dengan trend yang ada.
– Setiap anak itu pembelajar yang tangguh, tidak ada anak yang malas belajar. Adanya anak tidak suka belajar yang bukan potensinya dan bukan gaya  belajarnya.
– Setiap anak itu memiliki kemampuan unik, dan tidak bisa dibanding-bandingkan dengan anak yang lain.

Hanya saja banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kupu-kupu yang indah, dulunya berbentuk ulat yang tidak menarik bahkan sebagian orang jijik kepadanya, kemudian menjadi kepompong, lalu jadilah kupu-kupu dewasa yang indah.

Anak kecil yang keras kepala dan suka membantah, itulah sifat sang calon pemimpin.
Anak kecil yang tidak betah dirumah, suka berkumpul temannya, itulah sifat yang dimiliki para ahli bidang sosial
Anak kecil yang suka menyendiri, itulah sang calon peneliti.
Dan masih banyak lagi potensi-potensi kekuatan yang luar biasa pada diri anak , tetapi orang tua menganggapnya itu sebagai kelemahan bahkan dianggap kenakalan. Padahal sebenarnya sifat-sifat yang tidak menyenangkan itu ibarat perilaku ulat yang kelak akan menjadi kupu-kupu dewasa yang indah

Belajar tidak harus dengan buku dan duduk di kursi, tetapi dapat dilakukan ketika bermain, mengobrol dengan teman, bahkan bertengkar dengan kakak atau adiknyapun bisa jadi sarana belajar bagi anak.

Pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya setahun, dua tahun, bahkan lima tahun..
Pendidikan akan dapat dilihat hasilnya setelah anak menjadi dewasa..
Keshalehan anak belum dapat dijustifikasi ketika anak masih kecil…
Kesolehan akan tampak indah ketika mereka menginjak aqil baligh dan dewasa…
Jikalau orang tua menuntut keshalehan anak tampak ketika masih kecil…, ibarat ingin memanen hasil cocok tanam sebelum waktunya. belum umur, belum ada buahnya, bahkan kalau diambili daun atau batangnya pohon akan tumbuh tidak sempurna bahkan bisa mati binasa.
Sabar dan sabar…, didik dan tunggu sampai aqil baligh.

 

Penulis : Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Karakter Bakat

Karakter Bakat

Karakter bakat adalah sifat, pikiran, dan tindakan yang alami dan berulang-ulang yang menghasilkan produktifitas.

Setiap anak yang lahir memiliki bakat yang unik, lain dari pada yang lain, yang dibawa sejak lahir.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلاً

“Katakan (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai bakat pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Isra’ : 84)

 Muqotil mengatakan bahwa شَاكِلَتِهmaknanya adalah جَبْلَتِهِ yaitu: pembawaannya (bakat bawaan) (sumber: Tafsir Al Qurtuby)

Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 353-354), Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا

“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan, hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.”

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?, Beliau rahimahullah melanjutkan,

فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد له- لم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،

“Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya. “

Kemudian apakah yang harusnya menjadi tugas orang tua?

Kata beliau rahimahullah,

 فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياً- فهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحة- فليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له

“Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos. Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya”.

Karakter bakat pada masing-masing anak berbeda-beda, sehingga berkaitan dengan bakat, anak disebut “ very special and limitted edition”, yaitu unik atau  lain dari yang lain. Oleh karena itu bakat anak harus dipetakan.

.

Kisah Najmuddin Ayyub Mencari Jodoh

Kisah Najmuddin Ayyub Mencari Jodoh

Pentingnya sebuah Misi Keluarga

Semoga Allah mengkaruniakan kami dan anda sekalian dengan semisal isteri yang shalehah ini yang akan menggandeng tangan anda menuju ke dalam jannah

Najmuddin Ayyub (amir Tikrit) belum juga menikah dalam tempo yang lama. Maka bertanyalah sang saudara Asaduddin Syirkuh kepadanya: “Wahai saudaraku, kenapa engkau belum juga menikah?”

Najmuddin menjawab: “Aku belum menemukan seorang pun yang cocok untukku.”

“Maukah aku pinangkan seorang wanita untukmu?” tawar Asaduddin.

“Siapa?” Tandasnya.

“Puteri Malik Syah, anak Sulthan Muhammad bin Malik Syah Suthan Bani Saljuk atau puteri menteri Malik,” jawab asaduddin.

“Mereka semua tidak cocok untukku” tegas Najmuddin kepadanya.

Ia pun terheran, lalu kembali bertanya kepadanya: “Lantas siapa yang cocok untukmu?”

Najmuddin menjawab: “Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Ini merupakan mimpinya.
Asaduddin pun tak merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut. Ia bertanya kepadanya: “Terus dari mana engkau akan mendapatkan wanita seperti ini?”

“Barang siapa yang mengikhlaskan niatnya hanya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya,” jawab Najmuddin.

Suatu hari, Najmuddin duduk bersama salah seorang syaikh di masjid di kota Tikrit berbincang-bincang. Lalu datanglah seorang pemudi memanggil syaikh tersebut dari balik tabir sehingga ia memohon izin dari Najmuddin guna berbicara dengan sang pemudi. Najmuddin mendengar pembicaraan sang syaikh dengan si pemudi. Syaikh itu berkata kepada si pemudi: “Mengapa engkau menolak pemuda yang aku utus ke rumahmu untuk meminangmu?”

Pemudi itu menjawab: “Wahai syaikh, ia adalah sebaik-baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan, akan tetapi ia tidak cocok untukku.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?” Tanya syaikh.

Ia menjawab: “Tuanku asy-syaikh, aku menginginkan seorang pemuda yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan aku akan melahirkan seorang anak darinya yang akan menjadi seorang ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Allahu Akbar, satu ucapan yang persis dilontarkan oleh Najmuddin kepada saudaranya Asaduddin.
Ia menolak puteri Sulthan dan puteri menteri bersamaan dengan kedudukan dan kecantikan yang mereka miliki.

Demikian juga dengan sang pemudi, ia menolak pemuda yang memiliki kedudukan, ketampanan, dan harta.
Semua ini dilakukan demi apa? Keduanya mengidamkan sosok yang dapat menggandeng tangannya menuju jannah dan melahirkan seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Bangkitlah Najmuddin seraya memanggil syaikh tersebut, “wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi ini.”

“Tapi ia seorang wanita fakir dari kampung,” jawab asy-syaikh.

“Wanita ini yang saya idamkan.” tegas Najmuddin.

Maka menikahlah Najmuddin Ayyub dengan sang pemudi. Dan dengan perbuatan, barang siapa yang mengikhlaskan niat, pasti Allah akan berikan rezeki atas niatnya tersebut.
Maka Allah mengaruniakan seorang putera kepada Najmuddin yang akan menjadi sosok ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin. Ketahuilah, ksatria itu adalah Shalahuddin al-Ayyubi.

Inilah harta pusaka kita dan inilah yang harus dipelajari oleh anak-anak kita.

Talkhis: Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله.

Di ambil dari Majmu’ah Thalibatul ‘ilmi

Alih bahasa: Syabab Forum Salaf

************

1 رزقنا الله واياكم بمثل هذه الزوجة الطيبة التي تاخذ بيدك الي الجنة

ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻳﻮﺏ ‏(ﺃﻣﻴﺮ ﺗﻜﺮﻳﺖ‏) ﻟﻔﺘﺮﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ
ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺃﺧﻮﻩ ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺷﻴﺮﺍﻛﻮﻩ ﻗﺎﺋﻠًﺎ : ﻳﺎﺃﺧﻲ ﻟﻤﺎ ﻻ ﺗﺘﺰﻭﺝ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
ﻻ ﺃﺟﺪ ﻣﻦ ﺗﺼﻠﺢ ﻟﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
ﺃﻻ ﺃﺧﻄﺐ ﻟﻚ
ﻗﺎﻝ : ﻣﻦ
ﻗﺎﻝ : ﺍﺑﻨﺔ ﻣﻠﻚ ﺷﺎﻩ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﻠﻚ ﺷﺎﻩ
ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﺠﻮﻗﻲ ﺃﻭ ﺍﺑﻨﺔ ﻭﺯﻳﺮ ﺍﻟﻤﻠﻚ
ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻟﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﺇﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﺼﻠﺤﻮﻥ ﻟﻲ
ﻓﻴﺘﻌﺠﺐ ﻣﻨﻪ
ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻟﻪ : ﻭﻣﻦ ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻚ
ﻓﻴﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺭﻳﺪ ﺯﻭﺟﺔ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﺗﺄﺧﺬ
ﺑﻴﺪﻱ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺃﻧﺠﺐ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻟﺪﺍ ﺗﺤﺴﻦ ﺗﺮﺑﻴﺘﻪ ﺣﺘﻲ
ﻳﺸﺐ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﻭﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﻫﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺣﻠﻤﻪ
ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻛﻼﻡ ﺃﺧﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ: ﻭﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻟﻚ ﺑﻬﺬﻩ
ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﻣﻦ ﺃﺧﻠﺺ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺭﺯﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻻﻳﺎﻡ ﻛﺎﻥ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻳﺠﻠﺲ ﺇﻟﻲ ﺷﻴﺦ ﻣﻦ
ﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻓﻲ ﺗﻜﺮﻳﺖ ﻳﺘﺤﺪﺙ ﻣﻌﻪ
ﻓﺠﺎﺀﺕ ﻓﺘﺎﻩ ﺗﻨﺎﺩﻱ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺀ ﺍﻟﺴﺘﺎﺭ ﻓﺎﺳﺘﺄﺫﻥ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﻦ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻴﻜﻠﻢ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ
ﻓﻴﺴﻤﻊ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻫﻮ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﺎ:
ﻟﻤﺎﺫﺍ ﺭﺩﺩﺕ ﺍﻟﻔﺘﻰ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺳﻠﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻜﻢ ﻟﻴﺨﻄﺒﻚ
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻧﻌﻢ ﺍﻟﻔﺘﻰ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻻﻳﺼﻠﺢ ﻟﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻭﻣﺎﺫﺍ ﺗﺮﻳﺪﻳﻦ
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﺳﻴﺪﻱ ﺍﻟﺸﻴﺦ ، ﺃﺭﻳﺪ ﻓﺘﻰً ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪﻱ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﻪ
ﻭﺃﻧﺠﺐ ﻣﻨﻪ ﻭﻟﺪًﺍ ﻳﺼﺒﺢ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻧﻔﺲ ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻗﺎﻟﻬﺎ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻷﺧﻴﻪ
ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺭﻓﺾ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﺑﻨﺖ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ﺑﻤﺎ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ ﺭﻓﻀﺖ ﺍﻟﻔﺘﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ. ﻛﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻣﺎﺫﺍ
ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻳﺮﻳﺪ ﻣﻦ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪﻳﻪ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﻨﺠﺒﺎﻥ ﻓﺎﺭﺳﺎ
ﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﻓﻘﺎﻡ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻧﺎﺩﻱ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﺗﺰﻭﺝ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻓﻘﺮﺍﺀ ﺍﻟﺤﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ
ﻫﺬﻩ ﻣﻦ ﺃﺭﻳﺪﻫﺎ ﺗﺰﻭﺝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻳﻮﺏ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ ﺳﺖ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺧﺎﺗﻮﻥ
ﻭﺑﺎﻟﻔﻌﻞ ﻣﻦ ﺃﺧﻠﺺ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺭﺯﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﻴﺘﻪ. ﻓﺄﻧﺠﺐ ﻟﻨﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻟﺪًﺍ ﺃﺻﺒﺢ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﺃﻋﺎﺩ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ ﺃﻻ ﻭﻫﻮ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷﻳﻮﺑﻲ. ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺗﺮﺍﺛﻨﺎ ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﺐ ﺍﻥ ﻳﺪﺭﺱ ﻷﺑﻨﺎﺋﻨﺎ.

ﺗﻠﺨﻴﺺ: ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﺡ ﺍﻟﻤﻤﺘﻊ
ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

مأخوذ من مجموعة طالبات العلم

Menghadapi Sibling Rivalry Anak

Menghadapi Sibling Rivalry Anak

Ada seorang anak (2th) meminta ibunya membacakan dongeng, tiba – tiba adiknya (3 bln) menangis karena habis BAB di popoknya. Anak (2th) kecewa karena ibunya lebih memilih mengurus adiknya (3bl) mengganti popok daripada membacakan cerita.
.
.
.
Lalu ada cerita lain seorang kakak yang memiliki kasus sengketa tanah warisan dengan adiknya sehingga memperkarakan adiknya ke kepolisian.
.
.
Contoh kasus nyata tahun 2015 lalu di daerah Ciledug ,Tangerang seorang kakak (15th) yang menusuk adiknya sendiri (13 th) hingga tewas.
Awalnya polisi mengira pelaku mengalami gangguan kejiwaan namun setelah menjalani tes MMPI menunjukkan hasil bahwa perilaku melakukan pembunuhan dalam keadaan sadar. Saat ditelaah lagi, orang tua berkata bahwa selama ini sering terjadi percekcokan antara kedua saudara kandung ini. Namun orang tua selama ini menganggap hal tersebut biasa saja.
.
.
.
Sebenarnya perselisihan antar saudara seringkali terjadi Allah swt dalam firmannya didalam Alquran mengisahkan kisah dari anak Nabi Adam as yang berujung menjadi tragedi kemanusiaan pertama di muka bumi yaitu pembunuhan Qobil sang kakak terhadap Habil sang adik dikarenakan iri dengki yang merasukinya. (QS Al Maidah : 27-31) .
.
.

Sahabat, alangkah bahagianya jika anak – anak yang kita miliki saling menyayangi satu sama lain, saling melindungi satu sama lain dan saling mendukung satu sama lain didalam kebaikan. Berkumpulnya anak – anak tersebut dalam suasana yang damai tentunya menjadi penyejuk hati kita sebagai orang tua. Akan tetapi dalam perjalanannya akan selalu terjadi kerikil – kerikil yang merusak keharmonisan mereka sebagai saudara kandung. Kerikil itu dalam istilah psikologi dinamakan Sibling Rivalry

****

APA ITU SIBLING RIVALRY?
• Sibling Rivalry adalah persaingan antara saudara kandung yang muncul dalam bentuk cemburu, iri, pertengkaran (adu mulut) hingga perkelahian (fisik) yang menimbulkan ketegangan. Berawal dari persoalan sepele, ketika orang tua tidak menyikapi dengan tepat dapat menjadi konflik laten yang berkepanjangan antara saudara kandung.

• *Sibling Rivalry*bisa dialami oleh individu dari kelompok umur berapapun (balita, anak, remaja dan dewasa).

• Sibling rivalry cenderung akan lebih muncul pada saudara kandung yang berjenis kelamin sama. Walaupun tidak menutup kemungkinan dengan saudara kandung yang sama jenis kelaminnya

Dari sini, kita bisa mengambil beberapa hikmahnya, yakni :

• Perasaan dengki ,iri atau cemburu yang awalnya terlihat sepele ternyata bila kita biarkan akan mempengaruhi perilaku seseorang menjadi perilaku yang merusak.

• Perasaan dengki ternyata bisa terjadi bukan hanya pada orang lain saja akan tetapi juga pada saudara kandung yang secara nyata memiliki ikatan darah.

• Penumpukkan kekecewaan yang awalnya bermula dari cemburu, jika tidak segera diintervensi dengan tepat dapat terjadi berujung fatal yakni pembunuhan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA SIBLING RIVALRY

• Perlakuan yang berbeda diartikan “tidak adil” oleh anak
Perbedaan kebutuhan masing- masing anak atau perbedaan kondisi tertentu membuat kita tidak dapat menyamakan perilaku kita terhadap anak yang satu dengan yang lainnya. Anak yang sedang sakit tentunya akan lebih butuh banyak perhatian daripada anak kita yang sehat. Anak yang kelas 6 SD tentunya mendapatkan uang saku yang lebih banyak daripada anak yang masih kelas 2 SD.

Perlakuan yang berbeda lainnya yakni terkadang tanpa sadar karena anak kita lebih pintar secara akademis dari pada adiknya , kita cenderung lebih membanggakan dan memperlakukan ia lebih istimewa dibandingkan adiknya yang prestasinya biasa- biasa saja dalam hal akademis.

Tentunya hal ini akan menumbuhkan perilaku sibling rivalry pada anak.

• Modelling Ortu

Saat kita sedang mengalami perselisihan dengan pasangan atau dengan anak. Respon atau perilaku yang kita munculkan dalam menghadapi konflik itulah yang akan menjadi contoh untuk anak ketika ia sedang berkonflik dengan saudara kandungnya. Jika kita menampilkan perkataan kasar atau memukul, mencubit,dsb saat berkonflik, maka hal tersebut dapat ditiru oleh anak ketika sedang berkonflik dengan saudara kandungnya.

• Jarak lahir terlalu dekat
Saat anak umur (0-2 thn) menurut Erikson anak memasuki tahapan “trust vs mistrust”. Pada tahapan ini anak belajar mempercayai lingkungan disekitarnya dalam hal ini adalah lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Perkembangan rasa percaya dengan lingkungan dapat terbentuk bergantung pada kualitas dalam merawat anak dan curahan kasih sayang yang diterima anak. Dengan jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menggangu perkembangan rasa percaya anak dengan lingkungannya (keluarganya).

Selain itu, pada tahapan ini egosentris atau ke ”aku” an anak tinggi. Pada mainannya saja ia sulit berbagi apalagi sosok ayah dan ibu.
Namun hal ini bukanlah faktor utama terkadang faktor jarak lahir terlalu jauh antara kakak dan adik bisa menyebabkan kecemburuan pada kakak yang sudah cukup nyaman menjadi anak tunggal dikeluarga.

INTERVENSI SIBLING RIVALRY YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA
1. QUALITY TIME terhadap masing-masing anak

Sediakan ” QUALITY TIME” atau waktu privasi yang berkualitas dengan masing-masing anak, baik dengan ayahnya dan ibunya. Bersama ayah anak akan belajar bepikir logis dan bersama ibu anak akan belajar tentang kelekatan dan emosi. Quality time dapat terbangun saat kita jalan berdua saja dengan anak atau beraktivitas berdua saja dengan anak .Saat itu bangunlah komunikasi yang baik. Yakinkan anak bahwa ia begitu dicintai dan disayangi oleh orangtuanya. Bangunkan memori positifnya dengan menceritakan kenangan yang indah yang terjadi antara kita dan anak.

2. Bangun “attachment” antara saudara kandung lewat kegiatan/projek bersama

Membangun kegiatan yang didalamnya membutuhkan kerjasama tim dapat menumbuhkan kelekatan pada saudara kandung. Misalnya : menata ulang kamar bersama lalu kemudian diberikan reward bagi keduanya. Atau membuat satu masakan tertentu dengan pembagian tugas pada masing-masing anak kemudian diberikan reward atas hasil masakan tersebut.

3. Meyakinkan anak bahwa semua anak adalah istimewa dimata orang tuanya

Semua anak yang dilahirkan didunia ini pasti memiliki bakat dan kecerdasan pada bidang tertentu. Tugas kita sebagai orang tua mengeksplorasi bakat apa atau bidang kecerdasan apa yang dimiliki anak. Kecerdasan bukanlah berarti selalu dapat diukur dari hasil akademis seseorang. Apabila anak kita tidak memiliki prestasi akademis yang baik bukan berarti dia tidak cerdas dan sulit menjadi orang sukses. Banyak kisah para pengusaha sukses tapi nilai akademisnya biasa- biasa saja bahkan ada yang buruk. Begitu juga dengan atlit atau musisi yang sukses , banyak juga diantara mereka yang nilai akademisnya tidak memuaskan.

Gardner telah mengungkapkan hal tersebut. Gardner mengatakan bahwa ada 9 kecerdasan yang dimiliki manusia yakni Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Aritmatik, Kecerdasan Linguistik dan Kecerdasan Naturalis.

Mengetahui hal tersebut, kita tidak perlu lagi membanding- bandingkan anak yang satu dengan yang lain. Karena semua anak adalah “istimewa”. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengeksplorasi dan memfasilitasi agar anak dapat mengembangkan kecerdasan nya masing- masing.

Apabila kita ingin memberikan perbandingan. Bandingkanlah anak dengan perilaku atau kemampuannya dimasa lalunya sebagai bahan introspeksi dirinya.

***

Konflik yang terjadi pada saudara kandung didalam satu keluarga jika bisa diatasi dengan baik, maka dapat memberikan efek yang positif pada anak. Ada hal – hal positif yang anak dapat pelajari dalam proses penyelesaian konflik dengan saudara kandungnya. Hal- hal tersebut antara lain :
• Anak Belajar Etika Meminta Maaf
• Anak Belajar Mengontrol Emosi
• Anak Belajar Mencari Win Win Solution
• Konsep Diri Anak Menjadi Positif

Penyelesaian konflik antara saudara kandung (sibling rivalry) yang tepat akan menambah kualitas kematangan pribadi individu dan menambah kualitas hubungan sebagai saudara kandung. Sekali lagi, kita sebagai orang tua amat berperan didalamnya.

Wallahu ‘alam bishowab.

oleh : Farah Octavia, S.Psi

Sumber kulwap parenting islami