Panen Sebelum Waktunya

Panen Sebelum Waktunya

Panen Sebelum Waktunya

Seorang Ibu mengeluh….
Anakku keras kepala, suka membantah dan banyak alasan kalau disuruh, padahal dia baru berumur 6 tahun.., apa jadinya kalau sudah besar nanti…?

Sementara ibu yang lain menambahi…
Iya.., kayak anakku juga, kalau disuruh duduk belajar susahnya minta ampun…, gak betah tinggal di rumah…
Kalau begitu terus .., bagaimana masa depannya nanti…? Suram …!

Nggak kalah serunya ibu yang lainnya lagi menimpali…
Anakku baru berumur 5 tahun, sukanya menyendiri dan nggak suka kumpul-kumpul bersama teman-temannya, kalau kuper kayak gitu apa bisa sukses nantinya…?

Dan masih banyak keluhan senada lainnya tentang itu.
Wajar.., dan sangat wajar seorang ibu khawatir terhadap anaknya yang keadaannya seperti itu.

Namun ketahuilah wahai para orang tua…
– Setiap anak itu hebat, Tidak ada anak yang bodoh. Adanya anak yang merasa bodoh karena potensi yang dimilikinya tidak diakui sebab dianggap tidak sesuai dengan trend yang ada.
– Setiap anak itu pembelajar yang tangguh, tidak ada anak yang malas belajar. Adanya anak tidak suka belajar yang bukan potensinya dan bukan gaya  belajarnya.
– Setiap anak itu memiliki kemampuan unik, dan tidak bisa dibanding-bandingkan dengan anak yang lain.

Hanya saja banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kupu-kupu yang indah, dulunya berbentuk ulat yang tidak menarik bahkan sebagian orang jijik kepadanya, kemudian menjadi kepompong, lalu jadilah kupu-kupu dewasa yang indah.

Anak kecil yang keras kepala dan suka membantah, itulah sifat sang calon pemimpin.
Anak kecil yang tidak betah dirumah, suka berkumpul temannya, itulah sifat yang dimiliki para ahli bidang sosial
Anak kecil yang suka menyendiri, itulah sang calon peneliti.
Dan masih banyak lagi potensi-potensi kekuatan yang luar biasa pada diri anak , tetapi orang tua menganggapnya itu sebagai kelemahan bahkan dianggap kenakalan. Padahal sebenarnya sifat-sifat yang tidak menyenangkan itu ibarat perilaku ulat yang kelak akan menjadi kupu-kupu dewasa yang indah

Belajar tidak harus dengan buku dan duduk di kursi, tetapi dapat dilakukan ketika bermain, mengobrol dengan teman, bahkan bertengkar dengan kakak atau adiknyapun bisa jadi sarana belajar bagi anak.

Pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya setahun, dua tahun, bahkan lima tahun..
Pendidikan akan dapat dilihat hasilnya setelah anak menjadi dewasa..
Keshalehan anak belum dapat dijustifikasi ketika anak masih kecil…
Kesolehan akan tampak indah ketika mereka menginjak aqil baligh dan dewasa…
Jikalau orang tua menuntut keshalehan anak tampak ketika masih kecil…, ibarat ingin memanen hasil cocok tanam sebelum waktunya. belum umur, belum ada buahnya, bahkan kalau diambili daun atau batangnya pohon akan tumbuh tidak sempurna bahkan bisa mati binasa.
Sabar dan sabar…, didik dan tunggu sampai aqil baligh.

 

Penulis : Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Karakter Bakat

Karakter Bakat

Karakter bakat adalah sifat, pikiran, dan tindakan yang alami dan berulang-ulang yang menghasilkan produktifitas.

Setiap anak yang lahir memiliki bakat yang unik, lain dari pada yang lain, yang dibawa sejak lahir.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلاً

“Katakan (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai bakat pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Isra’ : 84)

 Muqotil mengatakan bahwa شَاكِلَتِهmaknanya adalah جَبْلَتِهِ yaitu: pembawaannya (bakat bawaan) (sumber: Tafsir Al Qurtuby)

Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 353-354), Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا

“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan, hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.”

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?, Beliau rahimahullah melanjutkan,

فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد له- لم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،

“Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya. “

Kemudian apakah yang harusnya menjadi tugas orang tua?

Kata beliau rahimahullah,

 فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياً- فهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحة- فليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له

“Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos. Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya”.

Karakter bakat pada masing-masing anak berbeda-beda, sehingga berkaitan dengan bakat, anak disebut “ very special and limitted edition”, yaitu unik atau  lain dari yang lain. Oleh karena itu bakat anak harus dipetakan.

.

Faedah Konsep Pendidikan Imam Ibnul Qoyyim

Faedah Konsep Pendidikan Imam Ibnul Qoyyim

Ustadz Abul Abbas Thobroni
(pengasuh pendidikan berbasis fitroh dan karakter “KUTTAB AL MADINAH” Pekalongan)

Ada beberapa faedah yang bisa kita gali dari konsep pendidikan anak yang disebutkan oleh imam ibnul qoyyim di kitab Tuhfatul Maudud Fi Ahkamil Maulud fasal terakhir dari bab 16

فصول نافعة في تربية الأطفال

“Pasal2 yang bermanfaat dalam mendidik anak”

1⃣ Semua anak adalah baik krn Allah telah menginstal dalam dirinya fitroh yang lurus.
Fitroh disini adalah islam , (konten-konten kebaikan dan keselamatan agama mereka)
➡ Oleh sebab itu anak yang berbuat kesalahan maka pena terangkat darinya. Bahkan Anak yang meninggal dunia sebelum baligh dia akan masuk surga walaupun orang tuanya kafir.

? Syaikh Bakr Abu Zaid berkata:

( إن الأصل في الفطرة هو السلامة ، والانحراف طارئ عليها وان الأصل في البدن هو الصحة ، والمرض عارض له )
“Sesungguhnya asal dalam fitroh adalah keselamatan, sedangkan penyimpangan adalah perkara yang muncul dari luar.
Demikian juga asal dalam badan adalah sehat sedangkat sakit adalah perkara yang muncul dari luar” (al Madkhol al Mufasshol :1 / 121)

➡ Maka jika ada anak menyimpang dan rusak, itu krn pengaruh dari luar.
Tidak ada anak yang ketika dilahirkan lalu bercita-cita menjadi bandar narkoba, LGBT, pembunuh, dll.

2⃣ Setiap anak adalah hebat dan unik. Karena Allah telah memberikan kepada setiap anak potensi dan bakat yang sangat unik untuk mengarahkan manusia kpd hikmah mereka diciptakan.
Manusia diciptakan dengan dua misi yaitu
A. ibadah kpd Allah
B. Kholifah fil ardh (pemakmur) bumi.

?Allah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”
(QS: adz-Dzariyat: 56)

?Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al Baqoroh:30)

? Maka maha bijaksana Allah yang tidak pernah lalai untuk menyiapkan semua sarana bagi manusia untuk mencapai misi mereka diciptakan.
Syukurilah kelebihan yang Allah berikan kpd anak kita, maka dari itu janganlah kita Banding bandingkan anak kita dengan anak orang lain.

3⃣ Pendidikan adalah merangsang dan mengeluarkan bakat dan potensi dalam diri anak, bukan memaksa dan menjejali ilmu ke dalam diri anak.
Biarkan anak kita mengisi peran sebagaimana jalan yang telah Allah mudahkan baginya.
Tidak usah orang tua terlalu cemas, obsesif, banyak menuntut banyak memaksa anak pada peran yang bukan bidang bakatnya.

Semua anak adalah pembelajar sejati, semua anak tidak pernah putus asa untuk menuju kpd kesempurnaan.
Memang Allah menciptakan manusia semua dalam kondisi bodoh, akan tetapi Allah telah menginstal dalam diri mereka alat untuk bisa belajar yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati.

? Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An Nahl:78)

4⃣ Tanggung jawab mendidik anak yang paling pertama adalah orang tua, dan rumah adalah tempat belajar pertama bagi mereka.
Oleh sebab itu ketika pendidikan semuanya diserahkan kpd lembaga pendidikan bernama sekolah / pondok pesantren, maka terjadilah ketimpangan dalam dunia pendidikan.

? Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Sebagian ulama berkata bahwa Allah akan bertanya kpd orang tua tentang anaknya di hari kiamat sebelum Allah bertanya kpd anak tentang orang tuanya. Walaupun memang bapak memiliki hak yang harus ditunaikan oleh anaknya, demikian juga anak memiliki hak yang wajib ditunaikan bapaknya.
Memang Allah berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya (al Ahqof:15)

Akan tetapi Allah juga berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (at Tahrim:6)

? Maka siapa saja yang telah tidak peduli dalam mendidik anaknya dengan perkara yang bermanfaat baginya dan membiarkan nya sia-sia maka sungguh ia telah melakukan kejahatan kpd nya dengan kejahatan yang parah.
Mayoritas anak menjadi rusak dari sebab orang tuanya, tidak mengurusinya, dan tidak mau mengajarinya perkara agama baik yang wajib atau yang sunnah.
Mereka telah mencampakkan anak ketika kecil shg anaknya tidak bermanfaat untuk dirinya dan tidak bisa memberi manfaat untuk orang tuanya ketika dewasa” (Tuhfatul Maudud Fi Ahkamil Maulud:229)

5⃣ Pendidikan harus memiliki 2 perkara yang saling berurutan yaitu jalan kemudian cara untuk menggapai tujuan.
1 . Jalan adalah potensi dan bakat yang Allah instal dalam diri anak. Apakah anak kita jalannya menjadi ulama, mujahid, saudagar, dan lainya.

2 . Setelah kita mengetahui jalan anak kita maka kita carikan cara dan kurikulum yang sesuai dengan jalan tsb untuk mengantarkan kpd tujuan Allah menciptakan anak kita yaitu ibadah kpd Allah dan menjadi kholifah di muka bumi.

6⃣. Membangun peradaban harus saling bersinergi semua kebaikan dan potensi.
Serta harus saling menutupi semua kekurangan.
Kejayaan bisa diraih jika bersinergi semua kekuatan bersatu dan kekurangan tertutupi.
Umat islam bagaikan bangunan kokoh yang saling menguatkan dan bersinergi potensi semua unsur di dalamnya.
Ada pondasi, tembok, atap.
Ada pasir, semen, air, besi, batu, bata, dan lainya.

Demikian juga membangun peradaban islam dibutuhkan sinergi semua potensi setiap individu muslim.
Ada ulama, mujahid, ahli bahasa, petani, saudagar, dokter, arsitek, duta, dan peran-peran penting lainnya.

? Dari Abu Musa, Rosulullah bersabda:

((المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا))، وشبك بين أصابعه

“Hubungan Muslim dengan muslim yang lain bagaikan bangunan yang saling mengokohkan” kemudian beliau menyela jari jemari beliau. (H. R Bukhori Muslim)

7⃣ Pemetakan bakat anak dilakukan setelah tumbuh fitroh iman dalam dirinya.
Keimanan adalah syarat mutlak dalam menumbuhkan bakat anak, krn misi manusia diciptakan bukan hanya sbg kholifah semata, namun bakat harus mengantarkan manusia kepada ibadah kpd Allah.
Para sahabat berbeda-beda peran mereka; ada master tafsir spt Ibnu Abbas, ada master hadits spt Abu Hurairoh, ada master strategi perang spt Kholid bin Walid, ada master perniagaan spt Utsman bin affan, ada pakar bahasa seperti Zaid bin Tsabit, dan peran lainya.
Akan tetapi semuanya memiliki satu misi yaitu menjayakan islam ,

?Karena jika Fitroh keimanan (Cinta pd Allah, Rasulullah dan Islam) tumbuh dengan sempurna, akan berujung kepada peran peradaban berupa ghairah dan antusias Menyeru Kepada Tauhidullah.
Inilah adab tertinggi kepada Allah sebagaimana yang ditugaskan kepada para Nabiyullah Alaihimusalaam sepanjang sejarah.
?????

و الله اعلم، و صلي الله علي نبينا محمد و اله و اصحابه

Salah Paham terhadap Pendidikan berbasis Fitrah

Salah Paham terhadap Pendidikan berbasis Fitrah

Notulensi Kulwap Fitrah based Education (Pendidikan berbasis Fitrah)

WAG HEbAT Community – Solo Raya

? Senin : 4 Desember 2017
? SME : Ust. Harry Santosa
? Admin : bunda Ratna
? Host : bunda Siwi
? Notulis : bunda Deasy

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Sesungguhnya setiap anak telah Allah instal fitrah, yang apabila dididk dengan benar sesuai fitrahnya maka kelak fitrah itu akan menjadi peran peradaban terbaiknya.

Jadi tidak perlu banyak cemas dan gelisah, obsesif dan pesimis, apalagi banyak intervensi dan menggegas yang malah akan merusak fitrah ananda. Banyaklah bersyukur terhadap fitrah ananda karena Allah telah siapkan semuanya dalam fitrah ananda.

Fitrah adalah innate goodness atau bawaan baik dalam diri ananda, yang perlu dirawat dan dibangkitkan serta ditumbuhkan dengan penuh cinta, ketulusan dan ketelatenan sehingga mencapai peran terbaiknya sesuai maksud penciptaan Allah.

Fitrah itu seperti Feature (Fitur) pada sebuah gadget, yang sudah diinstal ketika kita menerima gadget, jadi hanya perlu diaktifasi saja dan diinteraksikan dalam keseharian sehingga berfungsi maksimal. Tidak diperkenankan mengunduh aplikasi yang mengganggu fitur ini sehingga berkinerja buruk bahkan menyebabkan gadget “hang”.

Maka dalam mendidik fitrah kita hanya memerlukan rasa syukur yang mendalam, mengaktifasi dari dalam (inside out) dengan penuh cinta bukan banyak mengintervensi atau menjejalkan apapun (outside in) dengan penuh obsesi kecuali yang relevan dengan keunikan dan tahapannya.

Ibarat benih, fitrah memerlukan tahapan dalam menumbuhkannya, tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik. Banyak orangtua tergesa menjadikan anak mereka shalih atau beradab sehingga tidak memahami tahapan dengan baik, lalu menggegasnya sehingga banyak masalah di kemudian hari. Bagai benih yang baru berdaun beberapa berhelai, lalu disiram dan dipupuk banyak banyak agar segera berbuah sehingga malah rusak akarnya, kemudian layu dan mati.

Pada ghalibnya, tiada perubahan atas fitrah Allah, yang ada adalah fitrah yang tersimpangkan dan terkubur karena lebay obsesi dan lalai pesimis orangtuanya.

Yakinlah bahwa setiap anak pasti kelak punya peran istimewa di masa depan atas fitrahnya, mustahil Allah ciptakan anak yang tidak punya peran di masa depan, kecuali orangtua dan lingkungan yang merusaknya.

Karenanya fokuslah pada cahaya fitrah anak anak kita, bukan pada kegelapannya, kelak cahayanya akan melebar menerangi sisi gelapnya. Berbaik sangkalah pada fitrah Allah, banyaklah bersyukur sehingga Allah berikan hikmah yang banyak dalam mendidik, sehingga kita bisa rileks dan optimis.

Mendidik anak sesuai fitrah akan membuat ayah dan bunda lebih rileks dan optimis, karena hanya mengikuti apa yang Allah karuniakan, mengikuti jadwal perkembangan yang Allah tentukan, menginteraksikan dengan peristiwa keseharian dan kehidupan juga bumi Allah yang ada dengan dipandu Kitabullah.

Yang perlu dicatat juga bahwa mendidik anak sesuai fitrah pada prakteknya sesungguhnya juga mendidik fitrah ayah dan fitrah bunda. Raise your child, raise your self. Tumbuhkanlah fitrah ananda, maka kita akan saksikan fitrah kita pun bersemi indah kembali.

? Salah Paham terhadap Pendidikan berbasis Fitrah ?

1. Banyak yang mengira bahwa pendidikan berbasis Fitrah hanya terkait dengan bakat.  Fitrah bukan hanya terkait bakat anak. Anak anak kita setidaknya punya 8 aspek fitrah yg perlu dirawat bersamaan, jika tidak nanti tumbuhnya akan pincang atau mengganggu yg lain.

2. Merawat Fitrah juga bukan tentang bagaimana “mengisi” dari luar (outside in), tetapi “membangkitkan” dari dalam (inside out) sehingga menjadi amal nyata yang bermakna. “Sesungguhnya Amal itu karena Niat”. Sedangkan Niat ada di dalam jiwa manusia  karenanya mendidik fitrah lebih banyak menyentuh hati, menguak tabir jiwa, memunculkan kebaikan kebaikan bawaan (innate goodnes) yang sudah diinstal dari dalam diri manusia.

3. Merawat dan menumbuhkan fitrah juga bukan berarti melakukan pembiaran atau mengabaikan Adab, tetapi justru adab akan mudah ditanamkan jika fitrah tumbuh indah. Misalnya bagaimana ananda menerima perintah sholat (adab kepada Allah) dengan ikhlash dan suka cita, jika fitrah keimanannya tidak tumbuh bersemi indah pada usia 0-6 tahun?

Itulah mengapa para Ulama mengatakan bahwa fitrah adalah kesiapan untuk menerima Syariah atau Agama. Ibnu Taymiyah bahkan menyebut fitrah yang diinstal dalam diri manusia dengan fitrah gharizah, sementara Kitabullah disebut sebagai Fitrah Munazalah, atau fitrah yang diturunkan. Apa maknanya? Fitrah manusia itu Islam, maka jika tumbuh paripurna maka kelak akan mudah menerima Islam atau Kitabullah atau Adab yang diambil dari nilai nilai Kitabullah.

? Beberapa Aspek Fitrah ?

Fitrah keimanan, ini berbeda dengan sekedar menguasai ilmu agama, krn mendidik fitrah keimanan bicara bagaimana tauhid Rubbubiyah yang sudah terinstal di alam rahim diperkuat dan dimunculkan potensiny sehingga menjadi peran. Dimulai dari bagaimana mendampingi ananda pada usia 0-6 tahun agar bergairah dan antusias dalam mencintai Allah & RasulNya juga Islam melalui kesan mendalam atau imaji2 positif ttg alHaq. Kemudian berlanjut pada tahap usia 7-10 tahun, yaitu tahap dimana perintah sholat dan adab lainnya diperintah, tahap penyadaran potensi fitrah keimanan melalui eksplorasi potensi ketaatan melalui aktifitas dan nalar di alam dan di Kitabullah dalam rangka membangkitkan potensi ananda untuk mentaatiNya secara total dan kemudian diharapkan pada akhirnya sampai kpd tahap pengujian peran sehingga ananda mencapai peran da’iyah untuk sungguh sungguh menyeru Kebenaran (alHaq)

Fitrah Belajar dan Bernalar, ini juga bukan bicara bagaimana ananda menguasai banyak pengetahuan, tetapi bagaimana ananda bergairah dan antusias dalam belajar sepanjang hidupnya. Dimulai pada usia 0-6 tahun, dengan memberi ruang baginya untuk bergairah belajar seru tanpa terasa dengan beraktifitas bebas di alam sekitar, kemudian berlanjut kepada tahap penyadaran potensi belajar dan bernalar pd usia 7-10 tahun, berupa gairah untuk bernalar meneliti melalui eksplorasi potensi di alam dan kehidupan nyata sampai akhirnya kpd peran inovasi di muka bumi untuk memberi kabar gembira (solution maker) dan peringatan.

Begitupula Fitrah Bakat, ini bukan hanya bicara bagaimana mengajarkan keterampilan yg diminati, tetapi dimulai dengan mengenali sifat unik dan fisik unik istimewanya. Lalu mendorong ananda utk  percaya diri dgn sifat sifat uniknya, kemudian pada tahap usia 7-10 tahun difasilitasi untuk menyadari potensi uniknya melalui eksplorasi aktifitas dan kegiatan, lalu menguji potensi itu pada tahap usia 11-14 tahun sehingga akhirnya menjadi peran peran hebat dalam bidang kehidupannya ketika aqilbaligh. Jika misalnya ananda punya sifat unik suka melahirkan idea dan suka berdagang, maka perlu terus dikembangkan, jangan lupa juga amati sifat sifat unik lainnya karena satu anak setidaknya kombinasi 5 atau 6 sifat unik. Dengan sifat sifat unik yang tidak akan berubah, ananda akan punya banyak peran yang relevan.

Jangan lupa juga Fitrah seksualitas ditumbuhkan, ini bukan bicara pendidikan seks, tetapi bicara bagaimana ananda berfikir, bersikap, merasa sesuai gendernya. Fitrah seksualitas jika dirawat dan ditumbuhkan sesuai tahapannya dgn pendampingan penuh ayah bunda sejak 0-15 tahun kelak akan berujung od peran Ayah sejati atau Ibu Sejati. Jika tidak dirawat baik maka akan berakibat penyimpangan seperti LGBT atau setidaknya kelak akan gagap jadi Ibu atau gagap jadi Ayah.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahnasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

???????????

? Assalamualaykum pak apa kabar ? Selamat datang di DuMay Solo. Sugeng Rawuh ?

Terima kasih untuk Waktunya membersamai kami belajar ttg Fitrah.

? Alhamdulillah bunda Siwi yg baik, bahagia diundang ke group Solo Raya HEbAT, insyaAllah bisa belajar bersama ayahbunda di Solo

? Baiklah sebelum ke pertanyaan pertama, adakah kalimat pembuka yang ingin disampaikan pak?

? Sebagai pembuka saya ingin menyampaikan ucapan seorang ulama

“Sesungguhnya pendidik sejati adalah Allah SWT, krn Allahlah Sang Khaliq yg ciptakan fitrah itu, dan Allah juga yg menetapkan jalan bagi fitrah itu utk tumbuh berkembang dan berbahagia sesuai tahapannya. Allah jualah yg menetapkan syariah atau Kitabullah, yang memandu fitrah itu agar sempurna, indah dan berbahagia. Maka wahai para pendidik, ikuti saja jalan fitrah itu dan pandulah dgn Kitabullah sehingga menjadi peran peradaban terbaik utk mencapai maksud menjadi Khalifatullah di muka bumi dan beribadah kpd Allah”

? Baik kita masuk sesi diskusi

1⃣ Menemukan Misi Hidup

Bunda Ayu – Jakarta Timur

Assalamualaikum wr.wb.

Saya pernah mendengar apabila ingin mendidik anak dan menemukan misi anak sesuai fitrah, kita harus menemukan misi kita dulu.

❓Apakah yang harus dilakukan bila sampai usia 30an belum jua menemukan misi hidup?
❓Bagaimana agar kita bisa menemukan misi penciptaan kita?

? bunda Ayu yang baik.
Suami dan Istri dgn Misi personal masing masing yg ajeg, kemudian bersinergi menjadi Misi Keluarga, maka akan jauh lebih baik dalam menjalani rumah tangga dan menurunkan misi keluarganya itu menjadi program mendidik anak anaknya.

Misi hidup itu sederhana, yaitu aktifitas yg kita lakukan namun hasilnya banyak manfaat, kita bahagia melakukannya, semakin merekatkan cinta dan menebar rahmat. Misi hidup ini panggilan (our calling) yang muncul dari dalam jiwa.

Banyaklah berdoa agar Allah mudahkan menemukannya, banyaklah merenung, berefleksi, membaca tanda2 Allah di alam semesta dan pd diri, lakukan napak tilas perjalanan hidup sejak kecil, mengurangi hal2 rutin dan nyaman yg melenakan, jujur thd bakat diri dan mau menjadikannya jalan hidup.

Menemukan misi adalah dimulai dgn mengobservasi fitrah2 kita terutama fitrah bakat. Misi itu adalah kata kerja, atau aktfitas utk menyelesaikan masalah ummat dgn potensi fitrah bakat yg kita miliki.

2⃣ Bagaimana Praktek HE

Bunda Sekar – Medan
Bunda Dian – Serang

Assalamualaikum ustad

Sebelumnya saya sudah membaca materi yg dishare, masya Allah…subhanallah…luar biasa sangat bun materi nya. Dan saya sangat beruntung dan terbantu dgn adanya grup mendidik anak ini.

Kalau seorang guru ketika ia akan mengajar anak anak, ia mempunyai perencanaan yg ditulis dlm silabus. Nah bagaimana dgn kita sebagi ibu rumah tangga.

Putra sy usia 2,4thn. Saya masih blm mengerti apa yg harus saya ajarkan kpd anak saya.

❓Bagaimana cara menerapkan atau memperaktekkan pendidikan sesuai fitrah anak?
❓Apakah kita harus memiliki atau membuat schedule dalam mendidik anak di rumah? (Baik schedule kegiatan motorik non motorik atau list ttg perkataan baik yg harus diucapkan pada anak, dll.)

Mohon bimbingan dari yg lebih berilmu dan berpengalaman. Jazakallah ustad.

?bunda Dian dan bunda Sekar yg baik,
Pendidikan berbasis fitrah memiliki kerangka kerja (framework) yg digali dari best practice dan diupayakan sedekat mungkin dengan kebenaran syariah.

Ada 3 tahap dalam Islam, yaitu
1. fase usia 0-6 tahun (penguatan konsepsi fitrah dgn imaji2 positif utk membuat ananda terpesona dgn Allah, dgn dirinya, dgn orangtua dan sekitarnya) ,
2. fase 7-10 tahun (penyadaran potensi melalui ekplorasi aktifitas dan logika)
3. fase menjelang aqilbaligh 11-14 tahun (pengujian eksistensi dgn dibenturkan pd kehidupan nyata)
Untuk usia dini (0-6 tahun), pahamilah bahwa ananda sdg puncaknya imaji dan abstraksi, alam bawah sadarnya masih terbuka maka di tahap ini adalah golden age bagi fitrah keimanan, inilah awal fondasi mendidik aqidah dan semua kebaikan dgn penuh kecintaan bukan kepatuhan.

Permainan pun di tahap ini adalah permainan imajinatif, belajarpun harus banyak di alam, bakat diamati sbg sifat2 unik, ego sentris dipuaskan, bakat dikenali sbg sifat2 unik bukan cita2, seksualitas dikuatkan dgn kehadiran ayah dan ibu secara utuh, melatih executive functioning dgn memelihara hewan atau tumbuhan sederhana, bahasa ibu yg harus utuh sebelum bahasa lainnya dll.

Scehdule boleh saja, namun jangan ketat dan rigid, tetapi lebih bagus adalah beraktifitas saja secara spontan dan antuias sesuai peristiwa sehari2 (learning through living) dan buatlah jurnal kegiatan berupa catatan2 dokumentasi dan hasil karya anak termasuk membaca tanda2 bahagianya, fitrah2nya dstnya.
Utk framework dan konsultasi, silahkan ikuti FB saya di www.facebook.com/harry.hasan.santosa

3⃣ Menumbuhkan Fitrah Anak

Bunda Ayu Jak – Tim
Bunda Rahmi – Makasar

❓Bagaimana menumbuhkan dan mengasah 8 fitrah secara bersamaan untuk anak laki laki maupun perempuan berusia 2 – 7 thn
Terimakasih ustad ??

?bunda Ayu dan bunda Rahmi,
Karena fitrah itu ibarat benih yg Allah berikan kpd kita, dan kita tak pernah tahu benih apa sesungguhnya. Maka tugas kita adalah mirip seperti petani, yang dgn telaten dari hari ke hari mengobservasi perkembangan dan kebutuhan benih itu sesuai tahapannya.

Utk menjadi petani hebat, kita hanya perlu telaten mengobservasi dan membersamai dgn menajamkan fitrah keayahan dan fitrah keibuan kita, menajamkan nurani, intuisi dan firasat sbg orangtua.

Yakinlah bhw kita adalah orangtua terbaik versi Allah SWT bagi anak anak kita. Tidak mungkin Allah salah orang menitipkan amanah anak kpd kita.

Karenanya, buatlah jurnal utk tiap anak, bacalah kerangka FBE baik baik, rancanglah kegiatan sesuai kebutuhan tahap perkembangan, shg makin lama kita makin mengenal pola fitrah anak anak kita. Syukuri saja semua yg Allah berikan, jangan obsesif atau lalai pesimis.

Dalam kegiatan yg sama, misalnya berkunjung ke masjid bersejarah atau museum atau alam, maka bunda bisa setting kegiatan utk anak pertama, anak kedua dstnya, sesuai kebutuhan perkembangan fitrah masing masing. Setelah kegiatan, lakukan observasi, catat mana fitrah yg nampak belum tumbuh.

? Saya tergelitik dengan penjelasan ustad, apakah ini juga berlaku untuk orang tua terhadap anak adopsinya?

?Ya, setiap amanah yg diberikan berarti Allah yakin kitalah yang terbaik utk menjalankannya, sepanjang menyambut panggilanNya. Allah tidak akan memanggil mereka yg mampu, tetapi memampukan mereka yg terpanggil.

4⃣ Fase Perkembangan Fitrah

Bunda Athia – Tanah Abang

Assalamualaikum,

❓Adakah fase2 konkret tentang pencapaian/perkembangan motorik, pendidikan akhlak, juga aqidah anak yang dapat diukur tiap tahunnya?

Terima kasih ustad

?bunda Athia yg baik,
Tiap tahap ada indikatornya. Dalam pendidikan berbasis fitrah sebenarnya indikator umumnya adalah antusias pd segala kebaikan. Selama melihat ananda antusias pd kebaikan maka fitrahnya tumbuh baik.

Fitrah tdk diukur dari berat badan, jumlah hafalan, ilmu agama yg dikuasai, dll. Misalnya yg diukur utk anak usia 0-6 tahun adalah antusias pd buku bukan bisa membaca, antusias memakan makanan yg alami bukan over nutrisi, antusias mencintai Allah bukan hafalan doa, antusias pd sifat diri dan ego bukan dibenturkan pd akhlak, antusias pd bermain dgn ayah ibu, antusias belajar dgn bermain di alam, antusias berbicara dgn ekpresi yg utuh sesuai bahasa ibunya. Lengkapmya silahkan membaca buku FBE atau ikuti sharing saya di FB.

5⃣ Fitrah Keimanan

Bunda Dewi Rusita

Anak saya (5,5 thn), sejak umur 5 tahun sudah mulai saya ajak sholat. Tiap masuk waktu sholat saya selalu bilang, “mas sudah adzan, kita sholat yuk.” Dalam pelaksanaannya, kami tak pernah memaksakannya. Jika tdk maupun, tidak apa apa. Untuk gerakan dan bacaannya pun juga belum kami paksa sesuai rukun dan bacaan sholat yang benar.

❓Apakah cara yang kami lakukan ini salah. Jika salah, harus seperti apakah menumbuhkan fitrah keimanan di usia anak saya sekarang?

Terima kasih ustad

?bunda Dewi Rusita yg baik,
Fitrah Keimanan utk usia 0-6 tahun adalah membuat anak terpesona kpd Allah, kpd Rasulullah SAW, kpd Islam, kpd semua kebaikan kebaikan. Ciptakan imaji2 positif ttg semua kebaikan, bukan menaku2i atau memarahi atau memaksa dsbnya.

Karenanya fitrah jangan dibenturkan dgn adab atau disiplin di bawah 7 tahun. Mengapa Allah menyuruh orangtua menyuruh anaknya sholat ketika usia 7 tahun bukan sejak dini? Itu karena Allah memahami betul fitrah manusia dan tahapannya. Kepatuhan atau adab itu sejak usia 7 tahun dan bertahap dengan kesadaran bukan pemaksaan.

Apa yg sdh bunda lakukan sudah benar, tinggal ditambahkan aktifitas2 yg membuat ananda antusias.

6⃣ Fitrah Perkembangan

Bunda Menik – Klaten
Bunda Key – Pasuruan

Kasus 1
Anak saya laki-Laki umur 3 tahun. Dia menirukan bicara bisa, tp klau untuk di ajak berbicara, ingin maem apa misalnya belum bisa mengungkapkan.
(Pendengaran bagus)

Kasus 2
Dedek abis keluar masuk RS, sampai saat ini masih kontrol. Anaknya sangat aktif tp blm bs duduk sendiri usia 8 bln.

❓Bagaimana sebaiknya sikap orangtua dalam pandangan Pendidikan Fitrah, terhadap 2 kasus ini ustad?
❓Haruskah Orangtua mendatangi para ahli/terapis untuk mendapatkan deteksi lebih akurat atau ditunggu saja hingga tumbuh sesuai fitrahnya?

Jazakallah Khoir ustad ??

?bunda Menik dan bunda Key yg baik,
Fitrah berbicara potensi yang siap ditumbuhkan, namun jika ada illness krn berbagai penyebab, misalnya speech delay, dll maka sebaiknya disembuhkan dulu. Tentu utk mengukur illness atau bukan maka diperlukan pakar/terapis yg relevan. Beberapa illness terapinya sederhana dan bisa dilakukan sendiri oleh orangtua, namun beberapa kasus lagi memerlukan tenaga medis.

7⃣ Fitrah Terciderai

Bunda Nia – Bekasi
Bunda Athia – Tanah Abang
Bunda Sofia – Solo

Kasus 1
Assalamu’alaikum.
Putra saya (3thn 6bln), sangat aktif dan pintar. Tp dia sangat susah dikasih tau. Saat ada tamu selalu bikin ulah (cari perhatian) dg memukul orang lain atau mengganggu siapa saja.
saya pernah khilaf, saya bentak terus saya pukul tangan dan bibirnya, karna menurut saya sikapnya sudah sangat keterluan.

Kasus 2
Anak kedua saya laki-laki (2y7m), sedang belajar toilet treaning. Beberapa bulan lalu, saya rasa berhasil. Tapi beberapa minggu akhir ini saya merasa menurun. Malah jadi tidak bilang sama sekali bila pup atau pis.

Kasus 3
Anak pertama saya (4y7m) beberapa kali diajak kawannya nonton film horor. Saat di rumah, jelas dia jadi takut kemana mana; ke dapur, kamar mandi bahkan keluar kamar saja harus ditemani. Saya sudah berulang kali mengingat kan untuk tidak ikutan menonton, tapi lagi2 ananda melakukan hal yang saya larang ini.

Kasus 4
Anak sy laki laki (4thn 2 bln). Senang sekali main game di hp krn sdh bisa hampir semua operasi di hp. Walaupun sudah saya batasi tp jika libur dan tdk keluar rumah pasti minta hp. Anak sy kalau diajak bicara sdh jelas dan mengerti, jika diajari satu kali juga langsung paham.

❓Bagaimana mensikapi keempat kasus tsb, dalam pandangan Pendidikan Fitrah ustad?
❓Bagaimana menghadapi perilaku anak anak tersebut ustad?
❓Apakah salah jika ada orangtua yg marah saat ananda pis atau pup disembarang tempat tanpa bilang?
❓Apakah film horor merusak fitrah anak?

Mohon arahannya ustad…
Terimakasih banyak.

?bunda Nia, Athia dan Sofia yg baik,
Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah, tiada seorang anakpun yg nakal atau berniat jahat atau berdoa agar dirinya nakal. Maka rubahlah cara pandang ttg kenakalan, yaitu adalah jeritan hati yg belum ketemu jalan keluarnya atau potensi yg belum nampak buahnya.

Maka dalam mendidik fitrah, penting utk mengubah kata “bagaimana mengatasi/menghadapi anak yg begini begitu” menjadi “mengapa ananda melakukan hal itu”. Dengan menanyakan “mengapa” maka sesungguhnya kita sedang mengaktifasi fitrah kita, sedang menajamkan empati, firasat, nurani dan intuisi, sedang menggunakan kacamata fitrah bukan kacamata penjajah.

Dengan menggali mendalam atau lebih banyak menyerap latar belakang atau alasan perbuatan maka kita akan lebih tajam melahirkan solusi2 yg tepat. Jika kurang menyerap atau berempati, maka kita hanya akan melahirkan solusi gegabah yg akan melahirkan masalah baru.

Rasa kesal datang krn perilaku anak yg dalam pandangan kita buruk, wajar saja adanya, namun rasa kesal itu muncul krn kita kurang rileks dan optimis, bisa juga krn tak memahami dan menyelami alasan anak melakukan hal itu.

Anak yg “sudah baik” tiba tiba berperilaku sebaliknya, menurut saya penyebabnya bisa krn protes, krn trauma, krn pengaruh dlsbnya. Penyebab lainnya, kita gagal membuat aktifitas produktif dan membuat mereka terpesona dgn kebaikan.

Memberikan atau mengajak nonton film horor utk anak di bawah 10 tahun sangat tdk wajar dan merusak fitrah, bisa juga fitrah keimanan atau aqidah. Para Ulama bahkan Rasulullah SAW menasehatiutk tdk menakut2i anak di bawah usia 7 tahun dgn ucapan, perlakuan yg keras.

8⃣ Fitrah Seksualitas

Bunda Saroh Darojah – Sukoharjo

Ustadz Harry, apakah boleh memberikan mainanan mobil untuk anak perempuan usia 2 tahun? apakah termasuk menyalahi fitrah??
Terimakasih

?Bunda Saroh yang baik
Usia 3 tahun, seorang anak harus dgn jelas menyebut identitas gendernya “saya cowo” atau “saya cewe”. Di banyak keluarga, mobil2an, pistol2an dianggap mainan cowo dan kalau boneka dianggap mainan cewe. Secara gender, mainan, pakaian, gaya bicara dll seorang anak harus sesuai gendernya. Ini memang benar adanya. Nah coba diobservasi apakah secara tradisi mobil2an adalah mainan anak lelaki? Namun perlu diobservasi juga mengapa ananda perempuan suka mobil2an? Kalau pun suka mobil, tentu diarahkan ke warna warni yg mewakili keperempuanannya.

Di Bandung ada anak lelaki usia 5 tahun yg sukanya barbie dan warna kegemarannya pink. Itu karena sehari2 bersama nenek, ibunya dan bibi2 adik ibunya yg perempuan semua. Ayahnya kerja, 8 bulan sekali baru kembali dan kakeknya sudah wafat.

? Baiklah, pertanyaan benar2 habis kali ini. Sebelum saya akhiri, adakah kalimat penutup sebagai bekal kami besok mangawali hari pak?

?Deraskan Maknamu,
Bukan Tinggikan suara. Karena Hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga, Bukan Petir dan guruhnya

Terimakasih kpd crew yg bertugas malam ini.

Kepada ayah bunda tetap rileks dan optimis ya.

Jazakumullah atas perhatiannya dan mohon maaf jika ada yg tak berkenan. Silahkan japri jika masih ada yg ingin didiskusikan
Wassalamu’alaikum wr wb ??
———————————————-

Demikian notulensi ini kami buat. Semoga ilmu yang disampaikan narasumber, membawa manfaat dan berkah buat kita semua. Serta menjadikan kita sebagai orangtua yang lebih baik di mata Allah SWT dan keluarga kita, Aamiin.

? Diskusi dilaksanakan dengan sistem relay di 3 grup.
Kamis, 14 Desember 2017

Penjara Suci

Penjara Suci

Kata “penjara suci” tidak terdapat dalam kamus manapun. Yang ada adalah kata yang terpisah antara kata “penjara” dan kata “suci” dengan makna yang saling bertolak belakang satu dengan lainnya.
Penjara adalah bangunan tempat mengurung orang hukuman, perampok, pencuri, pembunuh, dll.
Suci artinya bersih dari dosa, cela, dan keburukan. Penjara lekat dengan sesuatu yang menakutkan, sedangkan suci lekat dengan sesuatu yang indah
Sebutan “penjara suci” asalanya muncul dari kalangan santri yang tidak cocok dengan sistem pembelajaran di pondok pesantren yang dia tempati. Disebut penjara karena aturan pondok yang begitu ketat sehingga terasa seperti terpenjara. Disebut suci karena yang dipelajari di pondok pesantren adalah sesuatu yang suci yaitu ilmu agama.
Dengan demikian…
Rumah bisa jadi penjara suci bagi suami atau istri…
jika di dalamnya ada sesuatu yang mengekang, disisi lain di rumahlah tempat untuk membangun sebuah keluarga suci yang diridhai Allah ta’ala.
Rumah bisa jadi penjara suci bagi anak-anak…
jika didalamnya ada sesuatu yang mengekang kebebasan mereka, disisi lain di rumahlah tempat paling suci untuk pendidikan mereka.
Penjara…
Sebuah kata yang sangat lekat dengan orang beriman, karena Nabi bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir”(1)
Apakah hal ini berarti semua urusan keduniaan harus dipenjara?
Pada setiap diri manusia ada yang harus “dipenjara” dan ada yang harus “dibebaskan”, yaitu “nafsu”.
Apakah semua nafsu harus dipenjara atau semua dibebaskan?
Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya(2), lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji dan perlu dibebaskan, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela dan perlu dipenjara.
Nafsu selalu menuntut untuk “dilampiaskan”, sehingga tidak bisa mutlak dipenjara. Disisi lain nafsu selalu mengajak kepada keburukan(3), sehingga tidak bisa mutlak dibebaskan. Oleh karena itu nafsu harus dikendalikan. Pengendalinya adalah keimanan (karakter iman). Jika keimanan sempurna, maka manusia dapat mengarahkan nafsunya untuk condong kepada kebaikan, dan jika keimanan lemah, maka nafsu akan cenderung kepada keburukan.
Misal nafsu seks. Nafsu ini selalu menuntut untuk dilampiaskan, disisi lain nafsu ini selalu mengajak kepada keburukan. Maka keimananlah yang mengendalikannya kepada arah kebaikan dengan cara menikah bagi yang mampu, atau berpuasa bagi yang tidak mampu menikah.
BAKAT ADALAH NAFSU
Diantara yang termasuk nafsu antara lain adalah bakat. Bakat juga menuntut untuk dilampiaskan, di sisi lain bakat juga memiliki kecondongan kepada keburukan.
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka akan menjadi potensi yang merusak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi terpendam dan terkubur dalam-dalam.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka akan menjadi potensi yang produktif.
Misal:
Bakat strategis (strategic).
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi ahli tipu muslihat yang lihai untuk mendhalimi orang lain.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi manusia yang tidak bermanfaat.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi ahli strategi perusahan, dakwah, bahkan keamanan negara untuk kemaslahatan umat.
Bakat peduli (empathy)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka seorang akan dapat dilumpuhkan oleh perasaannya.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seorang yang kurang peduli.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi orang yang tanggap dengan keadaan disekitarnya dalam mengatasi permasalahan umat.
Bakat pengendali (command)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi seorang diktator yang suka memaksakan kehendak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seperti macan tak bertaring.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi seorang pemimpin yang bijak.
Jadi …
Agar tidak menjadi penjara suci, maka bebaskan nafsu (bakat) santri dengan menguatkan karakter iman agar dapat mengendalikannya menuju kebaikan.
Jika hanya sekedar menguatkan karakter iman saja, tetapi bakat tetap “terpenjara”, maka ini namanya “penjara suci”.
Jika hanya “membebaskan” bakat tanpa pengendalian dari karakter iman, maka ini namanya “taman kemaksiatan”.
Namun jika bakat “dibebaskan” dan karakter iman dikuatkan sebagai pengendali, maka menjadilah “taman suci”, yang mana para santri akan belajar agama dengan nyaman dan tenang terasa berada di dalam taman yang indah dan suci.

Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang.

Rujukan:
(1) Dunia itu penjara bagi orang beriman.
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)

(2) Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).
Beliau juga berkata,
و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).

(3) Nafsu menurut Al Qur’an.
إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan” (QS. Yusuf:53)

89 Tahun Sumpah Pemuda: Sejarah Ada di Tangan Kita..!

89 Tahun Sumpah Pemuda: Sejarah Ada di Tangan Kita..!

89 TAHUN SUMPAH PEMUDA: SEJARAH ADA DI TANGAN KITA…!

Oleh: Hadi Nur Ramadhan (Founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun)

Di saat anak-anak muda yang berusia 15, 20 dan 25 tahun sekarang sedang “galau, boring and baper”, di usia yang sama seorang remaja putri bernama S.K. Trimurti usia 18 tahun aktif dipergerakan nasional bersama Bung Karno.

Disaat remaja sekarang sedang asyiknya main “spiner dan game online”, di usia yang sama Hamka 15 tahun sudah menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam.

Ketika remaja lain sering “dugem” di diskotik, nongkrong di cafe, karaoke, dan jalan-jalan di Mal. Di usia yang sama. Misalnya Semaun, ia berusia 18 tahun menjadi Ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Di usia 24 tahun Sugondo Djojopuspito memimpin Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Di saat pemuda sekarang berusia 21 dan 25 tahunan sedang bingung mencari kerjaan karena baru selesai kuliah, di usia yang sama Siti Hajinah, salah seorang pengurus besar Aisyiah (Sayap Perempuan Muhammadiyah), saat itu masih 22 tahun berpidato di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah satu peristiwa yang menarik karena sekalipun belum ada negaranya, belum ada pemerintahannya, para pemuda Nusantara sudah membuat konsep negara kesatuan Indonesia, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Tapi ada yang menarik, usia mereka. Usia pemuda pejuang saat itu rata-rata 20 tahunan atau tidak lebih dari 30 tahun. Dibandingkan dengan generasi muda sekarang, bisa dikatakan pemuda Indonesia di masa pergerakan tingkat kedewasaan dan kematanganya 20 tahun lebih cepat. Seperti aktor-aktor sejarah dibawah ini:

?? H.O.S.Tjokroaminoto. usianya 30 tahun ketika itu memimpin perjuangan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912.

?? Kiai Haji Mas Mansur pada usia 12 tahun sudah menunaikan haji serta menimba ilmu dan perjuangan di kota suci. Di usia 26 tahun dia sudah menjadi muballigh dan propagandis dakwah Muhammadiyah.

?? KH. Ahmad Dahlan usia 15 tahun berangkat ke Mekkah menuntut ilmu tahun 1883. Di usia 29 tahun beliau mendirikan gerakan Muhammadiyah.

?? Hamka masuk menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam pada usia 15 tahun.

?? M. Natsir masuk Jong Islamieten Bond pada usia 15 tahun. Pada usia 23 tahun ia mendirikan sekolah Pendikan Islam (Pendis) di Bandung yang terkenal itu. Sekolah Integral berbasis Tauhid ini mewajibkan para pelajar sekolahnya dengan bahasa Arab dan Belanda. Bahkan cabangnya sempat didirikan di daerah Bogor dan Jakarta.

?? Sobirin memimpin Majalah PEMBELA ISLAM tahun 1930an ketika itu usianya 21 tahun. Majalah ini merupakan corong Aksi Bela Islam saat itu.

?? Jenderal Soedirman berusia 30 tahun, ketika diangkat menjadi Panglima Besar.

?? Mohamad Roem dari Jong Islamieten Bond lahir pada 16 Mei 1908, berarti ketika ia mengikuti Kongres itu usianya baru 20 tahun.

?? A.R. Baswedan memimpin pergerakan tanah air melalui Partai Arab Indonesia (PAI), ketika itu usianya 26 tahun. Dan menimba ilmu kepada ulama yg berwibawa asal Sudan Syaikh Ahmad Sorkaty (pendiri Al Irsyad) pada usia 15 tahun.

?? Bung Hatta lahir tahun 1902 dan menjadi Ketua Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) di Negeri Belanda tahun 1926. ketika usianya baru 24 tahun.

?? Soekiman Wirjosandjojo usia 24 tahun menggerakkan semangat Nasionalisme kepada para pelajar-pelajar Indonesia di Belanda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia

?? Ir. Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 dan mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927, berarti saat itu ia berusia 26 tahun, dan jauh sebelumnya Bung Karno sudah aktif dalam pergerakan nasional melalui _Algemeene Studie Club,_Bandung.

?? A Gaffar Ismail diusianya sekitar 18 tahun memimpin pergerakan tanah air melalui PERMI di Sumatera Barat.

?? Tan Malaka lahir tahun 1897 dan aktif di Sarekat Islam Semarang tahun 1921, berarti saat itu usianya 24 tahun.

?? Mohammad Yamin yang menjadi salah satu pelopor Kongres Pemuda II berusia 25 tahun.

?? Dan masih banyak ratusan bahkan ribuan pemuda saat itu, seperti Ahmad Dahlan, Kasman Singodimedjo, Imam Zarkasyi, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshary, Wahid Hasyim, Firdaus AN, Munawar Chalil, Sukarni, Adam Malik, Bung Tomo dan para pemuda lain yang telah menjadi Aktor Sejarah bangsa ini. Bagaimana dengan kita…..?

Penutup
Saya jadi teringat sosok Dr. Kuntowijoyo Allahuyarham, Budayawan dan Sejarawan yang saya pernah kunjungi di rumahnya saat berdiskusi tentang “kedewasaan” di tahun 2000an. Menurut Kunto faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi dewasa, antara lain:

1. Pengaruh orang tua dan lingkungan.

2. Kepada anak muda perlu dijejali sejarah riwayat orang-orang besar. Karena tidak ada orang besar, jika selama hidupnya tidak pernah membaca orang-orang besar. Langkah ini bisa dengan membaca dan bersilaturahmi kepada para tokoh. Membaca sejarah adalah untuk memperkuat diri dan pribadi. Seperti kata Imam Syafi’i rahimahullah: “Orang yang mengenal dirinya tidak akan terganggu oleh komentar orang lain”

3. Tanamkan ke anak muda kita tekad cita-cita setinggi mungkin. Seperti kata Prof. Buya Hamka: Pemuda yang tidak punya cita-cita laksana hidup seperti “Zombie”. Dia hidup tetapi tidak hidup”.

4. Orang akan cepat dewasa, ketika ia banyak bergaul dengan orang-orang yang berfikir dewasa. Langkah ini yang pernah ditempuh oleh generasi Jong Islamieten Bond ketika berkunjung ke Haji Agus Salim dan Tuan Ahmad Hassan.
Seperti kata Dr. Kuntowijoyo: “Generasi muda hari ini adalah generasi Muslim yang lahir tanpa Masjid”

Jadi bukan alasan lagi untuk pemuda saat ini menjadi “alai” alias malas dan lalai, terlepas lingkungan yang melalaikan atau membuaikan. Tapi masa depan tetap ada di masing-masing kita, usia muda bukan halangan untuk menjadi matang dan dewasa. Ada pepatah bijaksana kuno menyampaikan: “Semua orang pasti akan tua. Tapi tidak semua orang menjadi dewasa”.

“Pemimpin mudavyang cakap dan terampil tidak akan lahir, jika para orang-orang tua tidak menyiapkannya” (Mohammad Natsir)

Those who cannot remember the past are condemned to repeat it, Mereka yang lupa pada masa lalu, akan terhina karena mengurangi kesalahan (Pepatah Bijak)

Selamat berjuang wahai anak-anak muda. Mari saatnya bangun dari lelap tidurmu Sejarah ada ditangan kita…….!

Penulis adalah anggota Pusat Kajian & Majelis Fatwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Staff Pendidik Pesantren Persatuan Islam 112 Bogor, Founder Tamaddun, Pensyarah STAIPI Jakarta, Peneliti Institut Risalah Peradaban, Pemilik Toko Serba Ada Muslim Qonitat dan kini berus[disingkat oleh WhatsApp]

Penjara Suci

Penjara Suci

Kata “penjara suci” tidak terdapat dalam kamus manapun. Yang ada adalah kata yang terpisah antara kata “penjara” dan kata “suci” dengan makna yang saling bertolak belakang satu dengan lainnya.

Penjara adalah bangunan tempat mengurung orang hukuman, perampok, pencuri, pembunuh, dll.
Suci artinya bersih dari dosa, cela, dan keburukan. Penjara lekat dengan sesuatu yang menakutkan, sedangkan suci lekat dengan sesuatu yang indah

Sebutan “penjara suci” asalanya muncul dari kalangan santri yang tidak cocok dengan sistem pembelajaran di pondok pesantren yang dia tempati. Disebut penjara karena aturan pondok yang begitu ketat sehingga terasa seperti terpenjara. Disebut suci karena yang dipelajari di pondok pesantren adalah sesuatu yang suci yaitu ilmu agama.

Dengan demikian…
Rumah bisa jadi penjara suci bagi suami atau istri…
jika di dalamnya ada sesuatu yang mengekang, disisi lain di rumahlah tempat untuk membangun sebuah keluarga suci yang diridhai Allah ta’ala.

Rumah bisa jadi penjara suci bagi anak-anak…
jika didalamnya ada sesuatu yang mengekang kebebasan mereka, disisi lain di rumahlah tempat paling suci untuk pendidikan mereka.

Penjara…
Sebuah kata yang sangat lekat dengan orang beriman, karena Nabi bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir”(1)
Apakah hal ini berarti semua urusan keduniaan harus dipenjara?

Pada setiap diri manusia ada yang harus “dipenjara” dan ada yang harus “dibebaskan”, yaitu “nafsu”.
Apakah semua nafsu harus dipenjara atau semua dibebaskan?

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya(2), lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji dan perlu dibebaskan, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela dan perlu dipenjara.

Nafsu selalu menuntut untuk “dilampiaskan”, sehingga tidak bisa mutlak dipenjara. Disisi lain nafsu selalu mengajak kepada keburukan(3), sehingga tidak bisa mutlak dibebaskan. Oleh karena itu nafsu harus dikendalikan. Pengendalinya adalah keimanan (karakter iman). Jika keimanan sempurna, maka manusia dapat mengarahkan nafsunya untuk condong kepada kebaikan, dan jika keimanan lemah, maka nafsu akan cenderung kepada keburukan.

Misal nafsu seks. Nafsu ini selalu menuntut untuk dilampiaskan, disisi lain nafsu ini selalu mengajak kepada keburukan. Maka keimananlah yang mengendalikannya kepada arah kebaikan dengan cara menikah bagi yang mampu, atau berpuasa bagi yang tidak mampu menikah.

BAKAT ADALAH NAFSU

Diantara yang termasuk nafsu antara lain adalah bakat. Bakat juga menuntut untuk dilampiaskan, di sisi lain bakat juga memiliki kecondongan kepada keburukan.
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka akan menjadi potensi yang merusak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi terpendam dan terkubur dalam-dalam.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka akan menjadi potensi yang produktif.

Misal:
Bakat strategis (strategic).
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi ahli tipu muslihat yang lihai untuk mendhalimi orang lain.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi manusia yang tidak bermanfaat.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi ahli strategi perusahan, dakwah, bahkan keamanan negara untuk kemaslahatan umat.

Bakat peduli (empathy)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka seorang akan dapat dilumpuhkan oleh perasaannya.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seorang yang kurang peduli.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi orang yang tanggap dengan keadaan disekitarnya dalam mengatasi permasalahan umat.

Bakat pengendali (command)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi seorang diktator yang suka memaksakan kehendak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seperti macan tak bertaring.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi seorang pemimpin yang bijak.

Jadi …
Agar tidak menjadi penjara suci, maka bebaskan nafsu (bakat) santri dengan menguatkan karakter iman agar dapat mengendalikannya menuju kebaikan.
Jika hanya sekedar menguatkan karakter iman saja, tetapi bakat tetap “terpenjara”, maka ini namanya “penjara suci”.
Jika hanya “membebaskan” bakat tanpa pengendalian dari karakter iman, maka ini namanya “taman kemaksiatan”.
Namun jika bakat “dibebaskan” dan karakter iman dikuatkan sebagai pengendali, maka menjadilah “taman suci”, yang mana para santri akan belajar agama dengan nyaman dan tenang terasa berada di dalam taman yang indah dan suci.

Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang.

Rujukan:

(1) Dunia itu penjara bagi orang beriman.
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
(2) Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).
Beliau juga berkata,

و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).
(3) Nafsu menurut Al Qur’an.
إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan” (QS. Yusuf:53)

Kerepotan Pengasuhan itu Tidaklah Lama

Kerepotan Pengasuhan itu Tidaklah Lama

Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak
Pergi Dari Rumah Untuk Membangun Rumah

Ternyata 14 tahun itu begitu singkat. Baru saja kami melepas pemuda kami yang genap berusia 14 tahun untuk kembali pergi menuntut ilmu dalam meraih cita-citanya. Dalam grand design kurikulum sekolah rumah kami, kami memiliki target bahwa di usia 14 tahun, anak-anak telah membulatkan tekad mereka untuk memilih peran kekhalifahan yang lebih spesifik di muka bumi. Sehingga jelas, kemana mereka harus menuntut ilmu, kepada siapa mereka harus berguru, serta hal apa yang harus mereka rintis. Agak mendadak sebenarnya keputusan yang ia buat untuk “pergi” dari rumah. Ia yang bercita-cita menjadi ahli tafsir dan ilmuwan sains dalam bidang Marine Biology, sebenarnya saat itu tengah berjuang mempersiapkan ujian Cambridge. Diskusi-diskusi panjang yang kami bangun sejak ia berusia 10 tahun, serangkaian psikotes yang dijalani, serta pembicaraan yang lebih detail tentang rencana masa depan yang kami bicarakan selepas ia menghafal 30 juz Al-Quran, telah mengerucutkan rencana-rencana pendidikan dalam beberapa tahun kedepan. Sebuah nama universitas di negeri kangguru telah ada dalam benaknya. Berbagai persyaratan pun dibaca, sehingga jelas pada mata pelajaran apa saat ini ia harus belajar mendalam. Berbagai komunikasi dengan beberapa pihak calon maestro pun sudah mulai saya bangun. Karena dalam kurikulum keluarga kami, di usia ini anak-anak sudah mulai mengumpulkan fortofolio hidup mereka dengan belajar melalui magang, atau merintis usaha yang berkaitan dengan cita-cita mereka kelak. Ali pun tengah aktif membantu kami pada beberapa unit usaha kami yang kami bangun sebagai inkubator bisnis bagi anak-anak.

Namun Allah berkehendak lain. Allah memiliki rencana terbaik yang kadang berbeda dengan rencana manusia. Kesempatan untuk mempersiapkan diri mengambil kuliah syariah ternyata datang lebih dulu dari semua itu.

Ummi: “Ali, ummi mau tanya, Ali mau mempersiapkan kuliah ke Australia dulu atau kuliah syariah?”
Ali: “Apa aja lah mi yang datang duluan”
Ummi: “Kalau begitu yang datang duluan yang ini”

Saya pun menyerahkan sebuah tulisan dalam handphone untuk ia baca.
Ummi: “Aa mau? kalau Aa mau, mereka memperbolehkan Aa menuntut ilmu disana meski saat ini Aa belum memiliki ijazah. Aa coba saja datang dulu kesana nak. Insya Allah seseorang itu akan dimudahkan Allah sesuai dengan takdir hidupnya. Kalau jalannya memang harus kesana, ummi sama bapak mendukung saja”

Lalu ia pun melihat tulisan pada kolom biaya (heheheh)

Ali: “Tapi mi, uangnya?’
Ummi: “Insya Allah, kalo sudah rezeki, uang bisa dicari”
Ali: “Oke mi, Ali mau”

Proses itu secepat kilat dan begitu mudah. Selang beberapa hari saja ia telah resmi menjadi santri dalam sebuah lembaga pendidikan berbasis Al-Quran setara SMA. Sebagai manager pendidikan anak-anak, kami pun ikut mengalir mengikuti arus takdir Allah tentang apa yang terbaik bagi anak-anak kami. Ali yang bercita-cita mengambil kuliah jurusan tafsir Al-Quran di Universitas Madinah harus kembali pergi dari rumah untuk menyiapkan bekal ilmu meraih cita-citanya. Malam itu ia sedang menyiapkan pakaian dan semua perlengkapan untuk menuntut ilmu. Tiba-tiba ia menghampiri saya yang sedang membaca buku sambil menyusui. Dengan terbata-bata ia berkata,

Ali: “Ummi, I just realize that this home is not my home anymore. When I come here, maybe just for a few days. Aa baru sadar bahwa Aa bakal pergi lama, setelah ini Aa pun akan pergi kuliah”
Mendengar ia berbicara sambil menahan tangis, saya pun menguatkan diri untuk tidak meneteskan air mata.
Ummi: “Ali, pergilah dari rumah untuk membangun rumah, nak! Sebuah rumah di surga. Semoga kelak kita bisa berkumpul lagi disana”

Ia pun kemudian memeluk saya lalu kembali ke kamarnya mengemas semua keperluannya. Setelah saya selesai menyusui, saya merasa pembicaraan kami masih menggantung. Saya perlu menguatkan dirinya untuk tidak lagi ragu melangkah. Saya temui ia di dalam kamar yang tengah meneteskan air mata di atas bantalnya.

Ummi: “Ali, majulah, nak! jangan ragu dan jangan mundur lagi. Menurut ummi, kemudahan ini sudah Allah datangkan untuk Aa. Kita sudah membangun diskusi panjang akhir-akhir ini tentang cita-cita. Sekarang saatnya Aa pergi mengejar cita-cita. Pergilah, nak! tinggalkan rumah untuk membangun sebuah rumah. Sebuah rumah yang tak akan adalagi perselisihan diantara kita, tidak akan ada kemarahan, kekasalan apalagi pertengkaran”

Lalu ia pun memeluk saya dengan erat, dan tumpah ruah air mata kami mengalir bersama.

Ali: Ummi, maafkan Aa. Maafkan kesalahan Aa ya”
Ummi: “Iya nak, ummi pun minta maaf atas kesalahan ummi selama ini sama Aa. Ayo nak jangan ragu! Ibumu telah terlahir kedunia ini hanya untuk melahirkan kamu. lalu beliau meninggal setelah melahirkanmu. Pasti Allah memiliki maksud tertentu. Lalu kemudian Allah datangkan ummi dalam kehidupan kamu yang ternyata begitu singkat saja. Pasti Allah punya maksud tertentu. Ternyata hanya 10 tahun saja ummi mendampingi kamu, tapi ummi berharap waktu pertemuan kita yang singkat ini sangat berarti dalam hidup kamu”
Ali: “Insya Allah, ummi. sangat, ummi”
Ummi: “Ayo nak, jangan ragu! pergilah dan pulanglah kembali saat kelak Aa bisa membuktikan salah satu kebenaran Al-Quran dengan ilmu sains yang Aa miliki. Ummi berdoa agar dengannya orang-orang kafir berbondong-bondong masuk islam melalui pembuktian itu. Jika Aa tidak menemui ummi lagi di rumah ini maka Aa bawa saja saat berziarah ke kuburan ummi”
Lalu tangisannya pun semakin keras.

Ummi: “Ummi pun baru sadar, bahwa ternyata 14 tahun itu begitu singkat sekali, nak. Semua anak akan pergi meraih cita-cita mereka. Seperti bapak dan ibumu dulu pergi meninggalkan rumah ke kota Batam. Juga ummi pun pergi meninggalkan rumah dan berkeluarga. Semua orang akan pergi dari rumahnya dan pada akhirnya memiliki kehidupan sendiri-sendiri”
Ali: “Oh ya, mamah Dea juga pergi ke Batam, mi?”
Ummi: “Ya, beliau sakit disana, diurus sendirian oleh bapak. Lalu kemudian pulang ke Bandung saat sudah semakin parah”
Ali: “Jadi mi, sekarang Aa pergi, lalu kemudian teteh pergi, Shiddiq pergi dan semua pergi. Jadi ummi kebali sendiri dong di rumah ini cuma sama bapak”
Ummi: “Ya nak, kehidupan memang begitu, seperti hari ini aki dan nin hanya tinggal berdua karena semua anak telah memiliki keluarga. Kelak kita semua juga akan sendirian di Alam kubur. Tapi yang penting kita memiliki ikatan cinta dan cita-cita. Maka meski kita berpisah ingatlah satu, A! Bahwa kita sedang membangun sebuah rumah untuk kembali kelak berkumpul bersama. Sebuah rumah yang abadi di surga, dan setelah itu kita tidak berpisah lagi”
Pelukan pun semakin erat, air mata pun semakin membanjiri pipi kami.
Ummi: “Ayo nak, jangan ragu! di atas usia 14 tahun, kapasitas ummi dan bapak sudah tidak cukup lagi untuk menjadi guru bagi Aa. Kita sudah membutuhkan sentuhan-sentuhan para ulama dan maestro lain untuk mendidik Aa. Dah sekarang Aa bobo ya, besok pagi sekali kita harus pergi”

Sahabat, ternyata full time parenting itu begitu singkat. Tetapi masa singkat itu adalah fondasi yang utama. Itu adalah masa mengenalkan anak kepada Tuhannya sehingga ia mengerti apa yang diinginkan Sang Penciptanya terhadap dirinya. Itu adalah masa mengenalkan anak kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sehingga ia tau bagaimana mengejawantahkan keinginan Tuhannya terhadap dirinya sepanjang hidup di dunia. Itu adalah masa menyiapkan seorang anak menjadi seorang mukallaf ketika akil baligh tiba. Itu adalah masa membangun konsep diri dan konsep hidup seorang anak yang akan mewarnai kehidupannya. Itu adalah masa mengantarkan anak sampai memahami tujuan hidupnya, tujuan penciptaan dirinya, serta membangun cinta-cita masa depannya. Itu adalah masa inkubator bagi seorang anak sebelum ia terjun langsung dalam kehidupan nyata. Itu adalah masa membangun imunitas diri dalam seorang anak sampai ia mampu membedakan jalan fujur dan jalan taqwa. Itu adalah masa merawat dan menjaga fitrah kebaikan dalam diri seorang manusia agar sepanjang hidupnya ia senantiasa mencintai dan memilih kebiakan. Itu adalah masa membangun kepribadian manusia pembelajar dalam dirinya sehingga apapun cita-cita dan tujuan hidunya, ia akan senantiasa belajar dengan penuh semangat dalam meraihnya. Itu adalah masa melatih kemadirian dan kecakapan hidup serta kemampuan dalam memecahkan persoalan sebagai bekal dalam menyusuri kehidupannya.Itu adalah masa mengenal potensi bawaan yang Allah ciptakan khusus pada dirinya, sehingga kita dapat membimbing dan mengantarkan dirinya menuju panggilan hidupnya. Waktu itu begitu singkat. Kita akan begitu menyesal bila melewatinya tanpa keseriusan saat satu per satu mereka pergi meninggalkan rumah kita untuk meraih mimpi mereka. Kerepotan mengasuh itu ternyata tak lama. Yang lama adalah hasil panen yang akan kita petik di masa kerepotan itu. Full time parenting itu ternyata begitu singkat. Setelah itu kita hanya menjadi penasihat pribadi mereka sepanjang masa. Maka lewatilah masa ini dengan penuh keseriusan, dan kelak akan tiba masanya kita bisa serius untuk kembali mengejar mimpi pribadi kita dan secara serius mempersiapkan kematian terbaik kita.

Batujajar, Jawa Barat
Dari yang akan ditinggalkan dan meninggalkan
Kiki Barkiah

Kurikulum Allah

Kurikulum Allah

 

Oleh Adriano Rusfi

Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah rencana Allah, program Allah, blueprint Allah. Tak ada yang kebetulan dan tak ada yang sia-sia (3 : 190-191)

Setiap peristiwa hadir sebagai bagian dari sunnatullah, untuk merespons perilaku, permasalahan dan kebutuhan manusia. Musibahpun hadir sebagai jawaban atas ulah manusia (30 : 41)

Alhasil, atas kekuasaan Allah maka setiap peristiwa adalah pelajaran bagi manusia. Terjadinya sejumlah peristiwa “asbabun nuzul”nya adalah perangai manusia itu sendiri, agar manusia belajar darinya.

Hebatnya lagi, setiap peristiwa yang Allah ciptakan dapat dimaknai dan diambil pelajarannya secara berbeda dan beragam oleh orang yang berbeda, sesuai dengan permasalahan dan kebutuhannya masing-masing. Itulah yang disebut dengan HIKMAH

Maka, apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah KURIKULUM ALLAH. Seluruh peristiwa hadir untuk pendidikan dan pelajaran bagi kita dan anak-anak kita, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan, di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, pada dasarnya untuk menjalani kehidupan ini, untuk memiliki life skills dasar (Basic Life Competence), yang manusia butuhkan hanyalah Kurikulum Allah. Sedangkan Kurikulum rancangan manusia dibutuhkan untuk membangun kompetensi-kompetensi sekunder dan tingkat lanjut (Advanced Secondary Competence)

Dan agar anak-anak kita terdidik dengan Kurikulum Allah, yang kita butuhkan adalah :

Pertama, mencemplungkan anak-anak kita ke dalam realitas seutuhnya dengan penuh iman dan tawakkal pada Allah bahwa dia adalah pendidik, pemelihara dan pelindung terbaik anak-anak kita.

Kedua, berbaik sangka pada Allah, lingkungan dan kehidupan bahwa segala hal yang terjadi adalah penuh hikmah, pendidikan, maslahat dan manfaat bagi pendidikan anak-anak kita

Ketiga, membangun kepekaan ayahbunda dan anak terhadap terhadap segala peristiwa, dan bermujahadah penuh untuk mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Keempat, tidak “mengepung” anak dengan kurikulum-kurikulum akademik dan artifisial yang begitu padat, teknis dan rinci, sehingga anak-anak seakan terhalangi untuk belajar langsung dari Tuhannya. Kalau anak ingin belajar dari kurikulum Allah, maka OPTIMALKAN YANG ALAMI DAN MINIMALKAN YANG REKAYASA

mungkin yang perlu kita “bersihkan” dari pemikiran produk-produk sekolahan kayak kita ini adalah kecenderungan untuk menstrukturkan dan mendokumenkan Kurikulum Allah.

Kurikulum Allah adalah kurikulum alami, mengalir. Kalau istilah orang Minang, Kurikulum Allah adalah “Alam terkembang menjadi guru”

Jadi kalau anak kita ingin dididik dengan kurikulum Allah, kita tak memerlukan desain, sistem, mekanisme, prosedur, LKS, lesson plan dan sebagainya.

Saya malah khawatir, jangan-jangan saya salah memberikan nama “Kurikulum Allah” nih, sehingga kita terjebak pada hal-hal yang bersifat struktural dan prosedural nih.

Justru kata kunci dari Kurikulum Allah adalah : natural, mengalir, non-rekayasa dsb.

Kekuatan utama dari Kurikulum Allah bukan terletak pada sistematikanya, tapi pada kepekaan kita dalam mengambil pelajaran darinya.

Mari kita belajar dari proses turunnya AlQur’an. Bukankah “berantakan dan acak-acakan” serta sangat responsif terhadap peristiwa alias Asbabun nuzul ? Nah seperti itulah kira-kira gambaran kurikulum Allah

Justru kata kunci dalam menjalankan kurikulum Allah Adalah kerelaan untuk menerima dan mengikuti sunnatullah-sunnatullah dalam kehidupan ini.

Apakah berarti kurikulum Allah itu tanpa panduan ? Sesungguhnya kurikulum Allah itu selalu memiliki panduan (Al-Quran & Sunnah), namun Allah yang mengerti rahasianya, mengapa hal tersebut ditakdirkan kpd seorang hamba.

Justru yang ingin saya pesankan Pada kesempatan ini adalah Jangan membuat program yang terlalu terstruktur, detail dan tertib terhadap anak-anak kita, seakan-akan kita telah menghalangi anak-anak kita untuk berinteraksi dengan kurikulum Allah.

Pernah dalam satu kesempatan, sebuah panitia Ramadhan telah membuat kurikulum ceramah tarawih yang begitu rapinya dengan target yang jelas pada akhir Ramadhan. Saya mengapresiasi upaya itu. Tapi saya juga mengingatkan, jika pada malam keduabelas, misalnya, ada sebuah peristiwa tertentu, maka tolong pada malam keduabelas itu sesuaikan materi ceramah dengan peristiwa tersebut. Itu namanya mengakomodasi kurikulum Allah. Sebagaimana Alquran yang turun secara acak merespons asbabun nuzul yang terjadi waktu itu.

sumber : Group HEbAT Banyumas
dengan sedikit tambahan dr admin

Lupa Bahagia

Lupa Bahagia

Oleh Wina Risman

Berbagai rangkaian kegiatan, peraturan, harapan, ekspektasi,yang secara sadar maupun tidak, kita bebankan kepada pundak anak-anak kita setiap harinya.

Mulai dari bangun, sholat, sarapan dan atau mempersiapkan sarapan, rapihkan tempat tidur, jemur handuk, hingga sampai sekolah tidak terlambat.

Ketika mereka pulang, setumpuk pula kegiatan, peraturan yang mereka harus jalani, dan lalui sebelum akhirnya sampai ke waktu tidur, yang sangat sulit utk mereka tunda bahkan 10 menit!

Tentu saja semuanya berdasar, ada tujuan, ada harapan dalam penerapannya. Antara lain adalah untuk mendidik anak mandiri, bertanggung jawab, disiplin, empati, kuat, dlsb.

Tetapi, dalam gegap gempitanya dunia yang berlalu terlalu pantas, kita suka lupa.. lupa mengajarkan mereka tersenyum, lupa mengajarkan mereka bahagia, bersyukur dengan indah (bukan memaksa, ‘makannya kamu harus bersyukur’). Terkadang kita lupa, mengajari ‘count your blessing’ atau menghitung rahmat Allah atas mereka diakhir hari, sebelum memejamkan mata.

Sehingga, ketika mereka akhirnya masuk ke alam mimpi, terakhir yang diucap dan diingatnya adalah, bukan susahnya hari, halangan-halangan yang dilalui, kesedihan hati, tapi betapa banyak rahmat Allah yang sudah tercurah pada mereka hari itu.

Mulai dari membuka mata ( rezeki hidup sehari lagi, Insha Allah), sehat (tidak ada anggota tubuh yang sakit ketika digerakkan), anggota tubuh yang lengkap. Tinggal di dalam rumah beratap, makanan hangat, orang yang menyayangi, transport utk ke sekolah. Sekolah yg bagus, teman-teman yang menyenangkan dlsb.

Hal ini, bahkan ada baiknya juga, kita sebagai orang tua juga mempraktekkannya sebelum tidur. Sehingga, diakhir hari, kita bisa mengevaluasi diri, bersyukur, sebelum masuk ke tahap ‘mati kecil’, yang banyak orang tidak diberi rezeki bangun kembali.

Jika kita rutin mengerjakan atau bahkan baru memulai hal ini, bisa dipastikan senyum akan tersungging dari bibir ke hati, atas banyaknya rahmat yang hari ini Allah beri, jauuuuuuuuh sekali dari sedikitnya kesusahan yang terkadang tampak besar sekali.

Ada penelitian yang mengatakan, apa yang diingat sebelum tidur, akan menjadi memory yang kuat di dalam otak.

Dalam kegiatan dan rutinitas keseharian anak, kita terkadang lupa mengajak senyum dan tertawa. Mengajarkan agar mereka suka melakukan rutinitasnya. Ikut urun tangan dalam membantu hal-hal yang kecil sambil ngobrol-ngobrol ringan.

Kita suka lupa untuk ikut cekikikan antara si abang dan adik, yang menertawakan hal yang remeh menurut kita. Terkadang mereka geli sekali hanya pada hal yg biasa. Sebetulnya, jika kita ikut cari tahu, apa itu, mungkin kita bisa ikut tertawa bersama. Mungkin bukan pada hal sepelenya, tapi bahwa hal sesederhana itu, bisa membuat mereka geli tertawa.

Sekedar melihat ke dalam diri saja, saya mengajak kita semua bertanya pada diri sendiri ‘ berapa kali saya tersenyum atau tertawa hari ini?’, ‘berapa kali rata-rata dalam sehari?’. Pasti kita sedikit banyaknya akan kaget akan kecilnya nominal yang menjadi jawaban atas pertanyaan ini.

Ayo jangan lupa bahagia, mari perbanyak senyum dan tawa. Latihan enjoy dan relax aja.. kenapa sih sering banget tegang tingkat tinggi? Bukannya semua juga sudah dibawah kendali? Kurang sedikit disana sini, ya biasalah.

Nothing is perfect under the sun, katanya.

Banyak yang perlu disyukuri, bahkan dalam keadaan serba kekurangan, apalagi yang berkecukupan.

Berhenti sejenak. Lihat keluargamu, rumahmu, terlepas dari kotor, berantakan, dan tumpukan kerjaan di kepala…

Bukankah semua baik-baik saja? Anak yang sehat? Pasangan yang setia? Memiliki tempat berlindung, kendaraan, makanan untuk hari ini. Walau terkadang sedikit sakit pinggang atau kaki, secara keseluruhan kan masih bisa bergerak untuk menjalankan hari?

Alhamdulillah.. alhamdulillah

Allah janjikan memberikan yang terbaik buat kita. Bisa jadi lebih buruk dari ini, tapi ini yang terbaik yang Allah beri.

It cannot get any better than this for now, but it could’ve been worse.

Yuk ah, jangan tegang melulu bawaannya, galak itu melelahkan. Ayo belajar bahagia!
Bahagia itu dari dalam diri, kita yang cipta.

Bismillah…

Wina Risman
19 Sept 2017
#Ukasha