Masa Kecil Kurang “Bahagia”

Masa Kecil Kurang “Bahagia”

Pengalaman ketika mendampingi siswa sebuah SMK melakukan perjalanan kunjungan ke sebuah Industri di luar kota, banyak hal yang menjadi bahan renungan, terutama ketika melihat perilaku, dan tingkah polah siswa yang seharusnya sudah dewasa, namun kenyataannya masih seperti anak-anak.

Selama perjalanan di dalam bus serasa mendampingi anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Bagaimana tidak, seharusnya pribadi-pribadi yang sudah Aqil baligh tersebut, mereka akan duduk tenang dan akan berbicara tentang hal-hal yang dilakukannya ketika sampai di industri nanti. Namun kenyataannya kesempatan ini digunakannya untuk meledakkan kegundahan dalam benak mereka yang seolah-seolah selama ini terpenjara. Mereka bersorak riang, berteriak-teriak, bercanda, dengan gaya dan kekhasan masing-masing. Itulah kesempatan mereka untuk menumpahkan semua kebosanan, kepenatan, kegundahan, dan semua kotoran-kotoran yang ada dalam dirinya. Tak peduli apa tujuan perjalannya, yang penting hari ini adalah hari “kebebasan”.

Masa kecil kurang bahagia….
Sebuah kalimat canda yang sering terungkap ketika melihat seeorang yang sudah dewasa berperilaku seperti anak-anak.
Ternyata memang begitulah keadaan sebenarnya,memang masa kecilnya kurang bahagia, masa kecilnya kurang bermain, tanpa disadari.

Terlewat masa bermain ketika masih kecil, dan harus ditumpahkan hasrat bermainnya kapanpun kesempatan menyapa.

Masa kecil identik dengan masa bermain, sebagai mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menghabiskan waktu bermain ketika bersama anak-anak. Dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk bermain.
Namun banyak dan bahkan sebagian besar pendidikan sekarang ini terlalu mengebiri hak bermain anak. Pada usia yang masih sangat dini anak-anak dipaksa untuk belajar ini, belajar itu yang sebenarnya belum waktunya untuk diajarkan. Setelah mereka besar mereka dipaksa mempelajari sesuatu yang sebenarnya itu bukan bakat dan kesenangannya. Sehingga hasrat bermain alamiahnya terpendam dan tidak tersalurkan. Maka jadilah bom waktu yang setiap saat bisa meledak, dan harus meledak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk men”start up” pendidikan anak mulai umur 10 tahun, dengan memukulnya jika tidak mau mengerjakan sholat. 
Maka berikan hak anak untuk bermain sampai umur 10 tahun.
0 – 10 tahun : bermain sambil belajar
>10 tahun : belajar sambil bermain
Bermain sambil belajar maksudnya dalam permainan-permainannya itu adalah belajar.
Belajar sambil bermain maksudnya mempelajari apa yang disenanginya, sesuai bakatnya, sehingga seolah-olah belajarnya seperti bermain.

Penulis : ustadz Abdul Kholiq

 

.

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik Mesin itu Bernama “Sekolah”

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.
Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.

Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.

Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.

Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.

Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.

Apa yang harusnya beda..?

Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.

Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas Pengetahuan-Nya.

Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.

Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan hard skillyang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun, juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan soft skillyang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.

Setiap orang hendaknya memiliki hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi juga dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

 

LARI MARATHON

Jika pendidikan karakter diibaratkan lari Marathon, maka fase murahaqah (10-14 tahun) ini adalah ibarat pelari sudah mendekati garis finish (garis finish pendidikan anak adalah usia aqil baligh)

Maka inilah  watunya mengerahkan semua tenaga dan daya untuk mencapai garis finish dengan selamat dan menjadi sang juara.

Juara dalam pendidikan adalah telah tumbuhnya semua karakter dengan sempurna pada  usia aqil baligh.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai Melatih “Hewan Sirkus”

Bagai melatih “HEWAN SIRKUS”

Benarkah sekolah anak-anak kita seperti tempat melatih hewan sirkus…?”
Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat ironis dan mengagetkan,
Pertanyaan yang mengada-ada, kurang kerjaan, dan melecehkan…
Bagaimana mungkin manusia disamakan dengan hewan…

Sebentar…
Kita tengok sejenak bagaimana cara hewan dilatih untuk bermain sirkus.
Gajah, kera, kuda, burung dilatih dengan cara dijinakkan terlebih dahulu, beri hadiah jika nurut dan beri hukuman jika membangkang, lalu dilatih gerakan-gerakan yang diinginkan, diulang-ulang sehingga manjadi terbiasa dan terampil.
Dan hewan lainnya pun memiliki metode pelatihan yang serupa…
Ringkasnya yaitu: … doktrin, latih, dan biasakan… 
Tidak perlu ada penumbuhan kesadaran..
Tidak perlu ada penanaman adab..
Tidak perlu ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan hewan itu terampil melakukan perintah tanpa perlu tahu untuk tujuan apa mereka melakukan atraksi-atraksi itu.

Nah…
Sekarang kita tengok sejenak bagaimana anak-anak kita diajar di sekolah…
Jadikan terlebih dahulu anak menjadi penurut dengan hukuman dan hadiah, latih dan ajari mereka, ulang-ulang biar terbiasa agar menjadi pintar dan terampil.
Kita ajari anak-anak kita matematika, tanpa menumbuhkan penalarannya…
Kita ajari anak-anak kita tahfidz Al Qur’an tanpa terlebih dahulu ditumbuhkan kecintaan kepada Al Qur’an…
Kita latih anak-anak kita cara sholat tanpa terlebih dahulu ditanamkan kecintaan kepada yang memerintahkan sholat yaitu Allah ta’ala.
Ringkasnya yaitu,… Doktrin, latih, dan biasakan…
Tidak ada penumbuhan kesadaran..
Tidak ada penanaman adab..
Tidak ada motivasi untuk selalu belajar..
Sehingga menjadikan anak-anak terampil melakukan aktifitas tetapi anak tidak tahu untuk apa melakukan itu semua…

Sama….?
Sekolah anak kita sama dengan dengan pelatihan hewan sirkus?
Tentu saja bukan sekolah Anda yang dimaksud..!

Saudaraku,
Terkadang anak-anak kita terampil melakukan atraksi amal kebaikan, namun bukan karena kesadaran dan motivasi dari dalam dirinya, karena anak-anak kita melakukan kebaikan itu secara mekanistik dan reaktif.

Mereka didoktrin, bukan disadarkan… 
Mereka dilatih, bukan dididik…
Mereka dibiasakan, bukan dimotivasi…
Akhirnya mereka dibesarkan seperti hewan sirkus: begitu terampil melaksanakan perintah, namun hampa.

Mereka beramal shaleh tetapi gagal berpahala karena mereka kehilangan salah satu syarat utamanya: yaitu NIAT !!!
Ya, mereka kehilangan IMAN !!!.
Karena Iman yang merupakan sumber dari Niat yang Ikhlas…
Mereka kehilangan kesadaran, alasan dan ilmu berperilaku.

Maka, mari kita mulai pendidikan anak dari menanamkan iman, sebelum melatih mereka…
Kita sadarkan mereka…
Kita didik mereka…
Kita motivasi mereka…
Sehingga menjadi anak yang kaya akan aktifitas kebaikan dan kaya pula akan pahala dari Allah ta’ala.

Penulis: Ustadz Abdul Khaliq
#Materi SOTIS #19

.

Pendidikan Karakter Usia 7-10 Tahun

Pendidikan Karakter Usia 7-10 Tahun

PENDIDIKAN KARAKTER USIA 7-10 TAHUN

Berdasar pada tuntunan pendidikan anak usia 7-10 tahun yang telah ditunjukkan dengan banyak sumber tersebut maka dapat dipaparkan deskripsi pendidikan karakter pada usia ini tentang hal-hal yang terkait dengan pribadi anak, dan keterkaitannya dengan keadaan perkembangan jaman dimana anak tersebut hidup.

Penekanan pembelajaran pada usia 7-10 tahun adalah pada belajar tentang sistem simbol, aturan dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Guru dan orang tua mengambil peran sebagai pembimbing sehingga anak dapat aktif belajar dari bereksplorasi.

Karakter Keimanan: Membangkitkan kesadaran bahwa Allah ta’ala sebagai Al-Malik dengan keteladanan, mengenal nilai dan mengenal perintah dan larangan seperti sholat dan ibadah lainnya.

Karakter Belajar: Membangkitkan gairah belajar dengan bahasa ibu hingga sempurna maknanya, belajar dari alam dan masyarakat, belajar bersama kehidupan, mendapatkan ide dari riset dan nalar, mulai melakukan proyek-proyek untuk mempelajari sesuatu.

Karakter Bakat: Membangkitkan kesadaran bakat melalui beragam aktifitas dan gagasan dengan mengenal diri/pemetaan bakat, perencanaan portfolio, tour the talent (mengenalkan beragam profesi), dan mendokumentasi kegiatan.

 

  1. Karakter anak usia 7-10 tahun

 

1. Karakter keimanan:

Setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter iman, karena setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibu.

2. Karakter belajar:

Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

3. Karakter bakat:

Setiap anak adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban

 

  1. Kondisi anak usia 7-10 tahun

 

  1. Usia ini adalah puncak tumbuhnya karakter belajar dan dimulainya karakter sosial, maka jangan lewatkan untuk melakukan banyak aktivitas belajar yang menantang,menyenangkan, dan berkesan, melalui belajar langsung ke alam dan pengalaman kehidupan.
  2. Anak usia 7 tahun mulai diperintah dan diajarkan sholat.
  3. Anak berada pada masa dimana otak kanan dan otak kiri sudah tumbuh seimbang,
  4. Sifat egosentris anak mulai mereda bergeser ke sosiosentris, mereka sudah memiliki tanggungjawab moralsehingga mulai terbuka pada eksplorasi dunia di luar dirinya secara maksimal, kemudian di saat yang sama ada perintah sholat.

 

  1. Langkah pembelajaran pada anak usia 7-10 tahun

 

  1. Membangkitkan kesadaran bahwa Allah ta’ala sebagai Wali (Waliyan) dan Pemberi keputusan (Hakiman)
  2. Membangkitkan sosiosentris dengan banyak berinteraksi dengan teman, anggota keluarga dan lingkungan sekitar.
  3. Anak dididik untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri (kebersihan, penampilan, kesehatan, dan disiplin diri) dan barang-barang miliknya sendiri mulai usia 7 th.
  4. Menjawab semua keingintahuan anak yang banyak bertanya tentang segala sesuatu karena pada keadaan pintu masuk pengetahuan bagi anak terbuka lebar-lebar. Apapun jawaban yang diberikan akan diingat oleh anak.
  5. Belajar bersama alam (BBA). Memanfaatkan alam yang luas terbentang untuk proses pembelajaran dalam tiga hal pokok:
  • Alam sebagai ruang belajar

Alam adalah ruang belajar interaktif yang tidak dibatasi sekat-sekat dinding, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

  • Alam sebagai media dan bahan ajar

Alam kaya akan jenis-jenis benda yang dapat dijadikan sebagai media dan bahan ajar yang mendukung efektifitas pembelajaran.

  • Alam sebagai obyek belajar

Proses pembelajaran melalui pengamatan dan uji coba terhadap gejala-gejala alam mengasah daya kritis dan kepekaan anak yang akan menumbuhkan kesadaran akan kemahakuasaan Allah ta’ala.

  1. Mendokumentasikan kegiatan untuk mendeteksi kecenderungan bakat dan minat anak melalui beragam aktifitas.
  2. Mendekatkan anak laki-laki kepada ayah dan anak perempuan didekatkan kepada ibu, untuk memahami peran sosial kelelakian dan keperempuanan.

 

  1. Contoh penyimpangan pembelajaran pada anak usia 7-10 tahun

 

  1. Hanya fokus pada akademik, sementara lupa atau lalai untuk memperbanyak wawasan, gagasan dan Aktivitas di dunia sosial. Umumnya beban akademik sangat berat pada usia ini ditambah dengan persekolahan penuh hari (full day). Hal ini memperlambat atau menyulitkan penemuan bakat pada usia 10 tahun nantinya.
  2. Anak lelaki tidak didekatkan dengan ayah, dan anak perempuan tidak didekatkan dengan ibu, sehingga karakter gender anak tidak tumbuh semestinya dan tidak memahami perbedaan peran sosial lelaki dan perempuan, misalnya shalat berjamaah ke masjid bagi anak lelaki bersama ayah dan sebagainya. Selain itu sosok ideal seorang lelaki akan tidak utuh pada anak lelaki dan sosok ideal seorang perempuan tidak utuh pada anak perempuan.
  3. Kebanyakan usia ini dihabiskan dengan belajar formal dan kaku, sehingga tanpa sadar anak perlahan lahan membenci belajar dan tidak bergairah bernalar. Anak hanya belajar ketika ada tugas sekolah, ketika akan ujian dan ketika disuruh.
  4. Mengirimkan ke boarding school sebelum masuk aqilbaligh. Banyak kasus penyimpangan kejiwaan jika mengirimkan anak ke boarding school sebelum aqilbaligh.
  5. Terlalu terkonsentrasi pada perbaikan kekurangan anak, seharusnya terkonsentrasi pada pengembangan kelebihan anak sehingga kekurangan akan tertutupi.

 

  1. Pemetaan potensi anak usia 7-10 tahun

Prosedur pemetaan potensi pada anak usia 7-10 tahun masih sama dengan pemetaan anak usia 0-7 tahun. Pemetaan ini dilakukan setiap akhir semester, mengingat adanya kecenderungan berubah-ubah pada kecerdasan, gaya belajar, sifat dan aktifitas bakat untuk anak usia 0-10 tahun.

Pemetaan pada usia ini adalah lebih dipentingkan pada pemetaan potensi bakat, baik sifat bakat ataupun aktifitas bakat. Karena pada usia 10 tahun seharusnya anak sudah melakukan pembelajaran yang sesuai dengan bakatnya. Dapat dikatakan pada usia 10 tahun nantinya sudah dilakukan penjurusan dalam pembelajarannnya, yaitu penjurusan sesuai bakatnya.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

 

Karakter Perkembangan

Karakter Perkembangan

Setiap manusia akan mengalami fase perkembangan dalam hidupnya, mulai dari penciptaan sampai usia tua dan tutup usia. Perkembangan manusia (النُّمُوُّ الاِنْسَانِيّ)adalah proses terjadinya berbagai perubahan yang bertahap yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, prosesif dan berkesinambungan baik yang menyangkut fisik maupun psikis.

Firman Allah ta’ala tentang perkembangan manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الاَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الاَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (Al Hajj: 5)

Perkembangan anak dari fase ke fase berikutnya terjadi secara berangsur-angsur dan perlahan-perlahan, tidak datang secara tiba-tiba (Muqarrar At Tarbiyyah Al Islamiyyah wa Thuruqit Tadris, Jami’ah Islamiyah Madinah, hlm 178).

Pada perkembangan anak, para ulama pendidikan berbeda pendapat tentang pembagian fase perkembangan anak tersebut, baik dalam pebagian usia anak, maupun penamaan pada setiap fasenya.Perkembangan anak pada tiap fase memiliki karakter yang berbeda-beda.

Karakter perkembangan anak dibagi menjadi 4 fase, yaitu:

  1. Fase At Thufulah  ( المرحلة الطفولة), yaitu usia 0-7 tahun. Fase At Thufulah ini dinamakan juga fase kanak-kanak, terbagi menjadi dua, yaitu: Fase penyusuan (المرحلة الرضاعة)yaitu usia 0-2 tahun dan Fase pengasuhan (المرحلة الحضانة)yaitu usia 2-7 tahun.
  2. Fase At Tamyiz (المرحلة التمييز)yaitu usia 7-10 tahun, disebut juga fase tumbuh pikiran.
  3. Fase Al Murahaqah (المرحلة المراهقة) yaitu usia 10-Baligh (14 tahun), disebut juga fase persiapan baligh.
  4. Fase Asy Syabab (المرحلة الشباب)usia setelah baligh lebih dari (>)14tahun/sekitar 15 tahun, disebut juga fase pemuda.

(sumber: Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnul Qayyim, hlm 417, dan Muqarrar At Tarbiyyah Al Islamiyyah wa Thuruqit Tadris, Jami’ah Islamiyah Madinah,1437 H, hlm 178)

Dasar yang dijadikan sebagai pedoman pembagian karakter perkembangan adalah firman Allah ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al baqarah:233)

Ayat tersebut menunjukan penetapan fase penyusuan usia 0-2 tahun.

Sedangkan nash dari hadits antara lain,Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع

“Perintahkan anakmu sholat pada saat umur 7 tahun, dan pukullah jika tidak mau sholat pada saat umur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya diantara mereka” (HR: Abu Dawud dan Hakim)

Hadits tersebut menunjukkan penetapan fase pengasuhan sebelum 7 tahun (2-7 tahun), fase At Tamyiz 7-10 tahun.

Sabdanya juga:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

”Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang, yaitu : orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga baligh, dan orang gila hingga berakal”. (Sunan Abu Dawud, no. 4403 dan Sunan At-Tirmidzi, no. 1423).

Hadits tersebut menunjukkan penetapan fase Al Murahaqah yaitu usia 7-10 tahun, dan fase Asy Syabab yaitu usia setelah baligh (sekitar 14 atau 15 tahun).

Usia baligh adalah masa dimulainya pembebanan syariat (taklif) pada pribadi anak, yaitu anak sudah diberi tanggung jawab untuk menjalankan syariat Agama Islam sebagaimana orang dewasa.

Usia 14 tahun lebih adalah masabaligh yang mana pada masa baligh tersebut seharusnya sudah dapat diketahui keberhasilan pendidikan karakter, yaitu menjadi pribadi yang utuh,kreatif, produktif, dan berakhlaq mulia dalam peran peradaban.

 

Penulis: Ustadz Abdul Kholiq

 

.

Karakter Bakat

Karakter Bakat

Karakter bakat adalah sifat, pikiran, dan tindakan yang alami dan berulang-ulang yang menghasilkan produktifitas.

Setiap anak yang lahir memiliki bakat yang unik, lain dari pada yang lain, yang dibawa sejak lahir.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلاً

“Katakan (Muhammad) bahwa setiap orang akan berbuat sesuai bakat pembawaannya, maka Robbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Isra’ : 84)

 Muqotil mengatakan bahwa شَاكِلَتِهmaknanya adalah جَبْلَتِهِ yaitu: pembawaannya (bakat bawaan) (sumber: Tafsir Al Qurtuby)

Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 353-354), Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا

“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan, hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.”

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?, Beliau rahimahullah melanjutkan,

فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد له- لم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،

“Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya. “

Kemudian apakah yang harusnya menjadi tugas orang tua?

Kata beliau rahimahullah,

 فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياً- فهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحة- فليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له

“Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos. Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya”.

Karakter bakat pada masing-masing anak berbeda-beda, sehingga berkaitan dengan bakat, anak disebut “ very special and limitted edition”, yaitu unik atau  lain dari yang lain. Oleh karena itu bakat anak harus dipetakan.

.

Anakku Ingin Aku Didik Sendiri di Rumah

Anakku Ingin Aku Didik Sendiri di Rumah

Aku ingin memberikan yg terbaik untuk pendidikan anakku

apalagi setelah aku mengetahui bahwa orientasi pendidikan konvensional zaman sekarang yg sdh banyak bergeser dr tujuan pendidikan yg sebenarnya

aku putuskan akan mendidik sendiri anak-anakku dirumah (Home Education/HE) dan tidak usah bersekolah, yg penting tetap belajar

tapi….. Bagaimana kalau aku..
Dicela banyak orang
Mati gaya, dan bingung mau ngapain bersama anak di rumah
Tidak pede & Merasa tidak hebat
Resah
Gelisah
Bimbang
Khawatir
“Madesu” (masa depan suram)

Ada gak sih panduan setiap hari dalam ber HE?

——————–
“PEMBUKAAN ANGGOTA MANDIRI SKIS”

Bismillah,..
Menyadari bahwa hal tersebut diatas adalah sesuatu masalah yg sering dihadapi bagi para orangtua yg baru mau memulai home education (HE) bagi putra-putrinya, maka dengan mengharap pertolongan Allah Ta’ala, Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) bermaksud ingin membantu Ayah Bunda sekalian dengan membuka program “Anggota Mandiri SKIS”.

Anggota Mandiri SKIS adalah anggota komunitas yang anaknya tidak bisa hadir setiap hari di SKIS.

Untuk memfasilitasi para orang tua anggota mandiri, maka dibuatlah Whatsapps group yang digunakan sebagai media komunikasi dan untuk menyampaikan (sharing) setiap hari nya selama 5 hari dari hari senin sampai jumat, tentang berbagai hal diantaranya :
– Akan di share lembar kegiatan TIAP HARI anak yg mengacu pada Buku harian santri SKIS lengkap dengan Tema dan Sub Tema, Tugas tugas harian, dan Materi karakter moral/keimanan.
– SEKOLAH ORANGTUA dimana merupakan Fokus pembinaan yg ada di SKIS adalah pada orangtua, sehingga diharapkan bersedia mengikuti seluruh kegiatan sekolah orangtua imam syafi’i (SOTIS). Diantaranya :
a. Pertemuan bulanan/ Parenting bersama seluruh anggota komunitas (Anggota Reguler & Mandiri).
b. Kajian parenting tiap pekan disimak via radio AM streaming.
c. Berbagai tugas – tugas mendidik anak untuk dilaksanakan orangtua ketika membersamai anak2 dirumah seriap hari.
d. Parenting door to door apabila dibutuhkan.
– memfasilitasi para orangtua yg berHE untuk tetap mendapatkan ijazah kesetaraan bagi putra-putrinya.

Informasi :
Bpk Alif +6281225478458
www.sekolahkarakter.com

Mendidik Itu Mudah

Mendidik Itu Mudah

Mendidik anak itu pada dasarnya adalah mudah.

Karena:
– Allah ta’ala telah memberikan bekal Iman, Islam, dan kebaikan-kebaikan lainnya kepada setiap anak, dengan menjadikan setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah atau berkarakter (QS. Ar Rum:30)
– Allah telah memberikan “user manual” atau petunjuk yang sederhana, jelas, dan teruji untuk mendidik anak melalui Rasul Nya, yaitu bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.
– Allah tidak membebani seorang hamba di luar kemampuannya (QS. Al Baqarah:286)
– Allah tidak tidur untuk selalu mendidik anak-anak kita. Karena Dialah murobi/pendidik yang sebenarnya.
– Setiap orang tua telah dikaruniai fitrah mendidik yang khusus bagi anak-anak nya.
– Allah tidak memberi target keberhasilan dalam mendidik anak. Tugas manusia hanyalah berusaha, sedangkan hasilnya di tangan Allah ta’ala.
Sehingga Mendidik anak menjadi sholeh/sholehah, itu LEBIH MUDAH dari pada menjadikannya jahat, karena untuk menjadikannya jahat harus bersusah payah merubah dari aslinya, yaitu harus memodifikasi fitrah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Agama (Islam) itu mudah, Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama melainkan ia akan dikalahkan…” (HR. Bukhari, dan pada sebuah lafaz Bukhari disebutkan, “Sederhanalah, sederhanalah niscaya kalian akan sampai“)
Jika masih ada kesulitan, stress, marah-marah, anak-anak tertekan, galau dalam mendidik anak, bisa jadi cara yang digunakan masih keliru atau terlalu berlebih-lebihan sehingga menyimpang dari ”user manual”yang Allah telah berikan.
Firman Allah ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (QS. Al Ahzaab:36).
Pendidikan itu sederhana, barangsiapa yang memperumit pendidikan, maka dia akan mengalami kesulitan dan kebosanan dalam mendidik. Dan barang siapa mengambil metode pendidikan yang bukan dari Allah dan Rasul Nya, maka dia akan tersesat dalam mandidik anaknya.
Namun …
Mudah dalam hal ini bukan berarti bermudah-mudahan dan lalai dengan pendidikan, tetapi sesuatu yang mudah tersebut dilaksanakan dengan kesungguhan, kesabaran, dan menggantungkan urusan pendidikan ini kepada Allah ta’ala. Karena tanpa pertolongan Allah sekejap mata saja kita tidak mampu berbuat apapun walaupun hal itu sangatlah mudah.
Sebagai mana doa yang diajarkan Nabi, yang dibaca pada dzikir pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، اَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu” (HR. Ibnu As Sunni dan An-Nasa’i)

Ditulis : Kholik
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

Rich Kids

Rich Kids

“RICH KIDS”
(Anak-anak Orang Kaya)

Gordon Ramsay mungkin chef paling kaya di dunia,
…..tetapi…..
Anak-anaknya tidak sekaya bapaknya, karena mereka tidak akan mewarisi kekayaan Ramsay yang besarnya US $140 juta (Rp 1,8 trilyun).

Gordon Ramsay termasuk salah satu orang super kaya yang berkata bahwa ia tidak akan mewariskan hartanya pada anak-anaknya, di samping Bill Gates, Warren Buffett , George Lucas dan Sting.

Alasannya,

Ia tidak mau memanjakan mereka sehingga mereka berakhir sebagai orang yang gagal.

Anak-anak Ramsay terbang dengan kelas ekonomi, sementara
Ramsay dan istrinya terbang dengan “first class”.

Menurutnya,
“Mereka belum bekerja cukup keras untuk layak mendapatkan hal itu.”

Anak-anaknya diberi uang saku secukupnya, dan mereka harus membayar biaya telepon serta bus (mereka sekolah naik bus bukan mobil).

Anak-anak Ramsay
terlibat aktif dalam kegiatan sosial, dan mereka diajar untuk memasak supaya memiliki ketrampilan untuk hidup, mereka diajarkan harus berjuang sendiri untuk meraih cita-cita mereka.

Memberi fasilitas terlalu banyak akan melemahkan daya juang anak-anak Anda,

Membuat mereka tidak bertanggung jawab, dan berperilaku buruk karena merasa berhak mendapatkan perlakuan bintang lima karena kekayaan orang tua mereka.

Tetapi orangtua seringkali melakukannya dengan alasan bahwa mereka bekerja keras untuk anak-anaknya. MEREKA DAHULU SUSAH, DAN TAK MAU ANAKNYA JUGA MENGALAMI KESUSAHAN.

Alasan lain karena mereka malas mendidik dan menyerah saja ketika anaknya merengek, “Semua temanku yang lain punya itu…”. Sehingga anak menjadi anak gampang, tidak punya daya juang, tidak punya skill memperjuangkan sesuatu.

Anak anak tidak cukup dibekali dengan knowledge akademik saja. Justru yang mahal adalah jam terbang bertahan dalam kesulitan, tahan stress dan kaki yang kuat untuk pantang menyerah!

?????
Apa yang sebenarnya KEBUTUHAN anak-anak dari Anda?

Cinta kasih,
Bimbingan rohani,
Arahan tehnis,
Tempat tinggal,
Makanan,
Pakaian,
Pendidikan dan
Pemeliharaan kesehatan.

Yaa…Itu saja!

Lainnya adalah
KEINGINAN yang cenderung berupa kemewahan,
seperti gadget teranyar, fashion keren,
jam tangan dll.

Orangtua ingin anaknya “bahagia”
Namun sebenarnya yang anak-anak butuhkan, orangtua yang mendorong mereka untuk mampu MANDIRI.

MENGHABISKAN WAKTU DENGAN ANAK-ANAK LEBIH PENTING
…….DARIPADA……
MENGHABISKAN UANG UNTUK MEREKA ….??…

ORANG HEBAT
tidak dihasilkan melalui
Kemudahan
Kesenangan
Dan Kenyamanan
TAPI …..
Mereka dibentuk melalui
KESUKARAN….
TANTANGAN…&…
AIR MATA

penulis : Dedi E Baker
(copas dr group HEbAT Semarang)

Karakter Bukan Ditanamkan, Apalagi Dibangun, Tetapi Ditumbuhkan

Karakter Bukan Ditanamkan, Apalagi Dibangun, Tetapi Ditumbuhkan

 

Menanam…
berarti meletakkan benih pada sebuah tempat kosong yang sebelumnya tidak ada benihnya, dengan harapan akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sesuai keinginan penanamnya.
Membangun…
berarti membentuk sesuatu dengan benda mati pada sebuah tempat yang kosong, dengan harapan akan menjadi bentuk sempurna tanpa adanya unsur pertumbuhan padanya.
Menumbuhkan…
berarti memelihara, menjaga, dan menstimulus suatu benih yang sudah tertanam pada suatu tempat dengan harapan akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sesuai dengan keunikan jenis benih yang telah tertanam padanya.
Amma ba’du…
Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.
Setiap anak yang lahir dalam keadaan telah tertanam padanya benih-benih karakter kebaikan.
Anak bukanlah lahan kosong tanpa benih apapun.
Maka…
Tugas pendidik bukanlah menanamkan karakter, karena benih karakter telah tertanam pada diri setiap anak.
Tugas pendidik bukanlah membangun karakter, karena tidak mungkin benda mati dibangun diatas benih hidup yang akan tumbuh, maka bangunan tersebut akan mematikannya.
Akan tetapi…
Tugas pendidik adalah menumbuhkan benih karakter yang telah tertanam pada diri anak sejak lahir, agar tumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya sesuai keadaan anak masing-masing.
Karakter akan terbentuk pada diri anak…
bukan dengan pembiasaan,
apalagi dengan paksaan,
tetapi dengan penyadaran.
Jika karakter terbentuk karena pembiasaan, maka akan tampak indah tetapi tidak berbuah.
Jika karakter terbentuk karena paksaan, maka akan tampak indah tetapi kerdil tak berbuah.
Jika karakter terbentuk karena penyadaran, maka akan tumbuh dan berkembang dengan indah dan akan berbuah kian melebat.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi”.
Jadi… …
benarkah ungkapan “character building” menurut pendidikan fitrah?

Abdul Kholiq
#SKISSemarang