Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.
Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.
Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.
Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.
Apa yang harusnya beda..?
Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.
Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas Pengetahuan-Nya.
Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.
Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan hard skillyang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun, juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan soft skillyang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.
Setiap orang hendaknya memiliki hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi juga dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.
LARI MARATHON
Jika pendidikan karakter diibaratkan lari Marathon, maka fase murahaqah (10-14 tahun) ini adalah ibarat pelari sudah mendekati garis finish (garis finish pendidikan anak adalah usia aqil baligh)
Maka inilah watunya mengerahkan semua tenaga dan daya untuk mencapai garis finish dengan selamat dan menjadi sang juara.
Juara dalam pendidikan adalah telah tumbuhnya semua karakter dengan sempurna pada usia aqil baligh.
Penulis: Ustadz Abdul Kholiq
.