Penjara Suci

Kata “penjara suci” tidak terdapat dalam kamus manapun. Yang ada adalah kata yang terpisah antara kata “penjara” dan kata “suci” dengan makna yang saling bertolak belakang satu dengan lainnya.

Penjara adalah bangunan tempat mengurung orang hukuman, perampok, pencuri, pembunuh, dll.
Suci artinya bersih dari dosa, cela, dan keburukan. Penjara lekat dengan sesuatu yang menakutkan, sedangkan suci lekat dengan sesuatu yang indah

Sebutan “penjara suci” asalanya muncul dari kalangan santri yang tidak cocok dengan sistem pembelajaran di pondok pesantren yang dia tempati. Disebut penjara karena aturan pondok yang begitu ketat sehingga terasa seperti terpenjara. Disebut suci karena yang dipelajari di pondok pesantren adalah sesuatu yang suci yaitu ilmu agama.

Dengan demikian…
Rumah bisa jadi penjara suci bagi suami atau istri…
jika di dalamnya ada sesuatu yang mengekang, disisi lain di rumahlah tempat untuk membangun sebuah keluarga suci yang diridhai Allah ta’ala.

Rumah bisa jadi penjara suci bagi anak-anak…
jika didalamnya ada sesuatu yang mengekang kebebasan mereka, disisi lain di rumahlah tempat paling suci untuk pendidikan mereka.

Penjara…
Sebuah kata yang sangat lekat dengan orang beriman, karena Nabi bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir”(1)
Apakah hal ini berarti semua urusan keduniaan harus dipenjara?

Pada setiap diri manusia ada yang harus “dipenjara” dan ada yang harus “dibebaskan”, yaitu “nafsu”.
Apakah semua nafsu harus dipenjara atau semua dibebaskan?

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya(2), lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji dan perlu dibebaskan, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela dan perlu dipenjara.

Nafsu selalu menuntut untuk “dilampiaskan”, sehingga tidak bisa mutlak dipenjara. Disisi lain nafsu selalu mengajak kepada keburukan(3), sehingga tidak bisa mutlak dibebaskan. Oleh karena itu nafsu harus dikendalikan. Pengendalinya adalah keimanan (karakter iman). Jika keimanan sempurna, maka manusia dapat mengarahkan nafsunya untuk condong kepada kebaikan, dan jika keimanan lemah, maka nafsu akan cenderung kepada keburukan.

Misal nafsu seks. Nafsu ini selalu menuntut untuk dilampiaskan, disisi lain nafsu ini selalu mengajak kepada keburukan. Maka keimananlah yang mengendalikannya kepada arah kebaikan dengan cara menikah bagi yang mampu, atau berpuasa bagi yang tidak mampu menikah.

BAKAT ADALAH NAFSU

Diantara yang termasuk nafsu antara lain adalah bakat. Bakat juga menuntut untuk dilampiaskan, di sisi lain bakat juga memiliki kecondongan kepada keburukan.
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka akan menjadi potensi yang merusak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi terpendam dan terkubur dalam-dalam.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka akan menjadi potensi yang produktif.

Misal:
Bakat strategis (strategic).
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi ahli tipu muslihat yang lihai untuk mendhalimi orang lain.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi manusia yang tidak bermanfaat.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi ahli strategi perusahan, dakwah, bahkan keamanan negara untuk kemaslahatan umat.

Bakat peduli (empathy)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka seorang akan dapat dilumpuhkan oleh perasaannya.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seorang yang kurang peduli.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi orang yang tanggap dengan keadaan disekitarnya dalam mengatasi permasalahan umat.

Bakat pengendali (command)
Jika dibebaskan sebebas-bebasnya tanpa kendali maka bisa menjadi seorang diktator yang suka memaksakan kehendak.
Jika dipenjarakan tanpa dikembangkan maka akan menjadi seperti macan tak bertaring.
Jika dikembangkan dan dikendalikan maka bisa menjadi seorang pemimpin yang bijak.

Jadi …
Agar tidak menjadi penjara suci, maka bebaskan nafsu (bakat) santri dengan menguatkan karakter iman agar dapat mengendalikannya menuju kebaikan.
Jika hanya sekedar menguatkan karakter iman saja, tetapi bakat tetap “terpenjara”, maka ini namanya “penjara suci”.
Jika hanya “membebaskan” bakat tanpa pengendalian dari karakter iman, maka ini namanya “taman kemaksiatan”.
Namun jika bakat “dibebaskan” dan karakter iman dikuatkan sebagai pengendali, maka menjadilah “taman suci”, yang mana para santri akan belajar agama dengan nyaman dan tenang terasa berada di dalam taman yang indah dan suci.

Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang.

Rujukan:

(1) Dunia itu penjara bagi orang beriman.
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
(2) Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا، فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).
Beliau juga berkata,

و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondongan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).
(3) Nafsu menurut Al Qur’an.
إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan” (QS. Yusuf:53)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.