RECOVERY KARAKTER BERBASIS FITRAH

MATERI SOTIS #18

_SEKOLAH ORANGTUA IMAM SYAFI’I

 

Oleh : Abdul Kholiq

 

Anak sudah besar tapi bermasalah?

Jangan khawatir …

Ada metode untuk memperbaikinya

 

Seorang anak yang sudah baligh seharusnya menjadi pribadi yang berakhlaq mulia yang tunduk taat beribadah kepada Allah ta’ala, pembelajar yang inovatif, dan berkarya atas bakatnya sehingga bermanfaat bagi umat. 

 

Namun faktanya ada beberapa pribadi  baligh yang seharusnya sudah menjadi mukallaf (pemikul beban syari’at) sebagaimana orang yang sudah dewasa, tetapi belum memiliki kesadaran dalam ibadahnya, belajarnya, dan kinerjanya.

Hal ini dapat dikatakan bahwa beberapa karakter terlewat tidak tumbuh pada masa emasnya.

 

Sholat harus disuruh …, berarti  Karakter Keimanan terlewat…

Belajar harus disuruh …, berarti Karakter belajar terlewat…

Beraktifitas harus disuruh …, berarti Karakter Bakat terlewat …

 

Tiga karakter yang seharusnya tumbuh pada diri anak adalah:

  1. Karakter Keimanan (masa emas umur 0-7 tahun)
  2. Karakter Pembelajar (masa emas umur 7-10 tahun)
  3. Karakter Kinerja/Bakat (masa emas umur 10-Baligh)

Ketiga-tiganya harus tumbuh sempurna sesuai karakter perkembangannya.

 

Jika terlewat…

Maka perlu dilakukan recovery, atau pengulangan sesuai langkah yang seharusnya, hanya dilakukan dengan lebih intens dan effort yang maksimal.

 

Recovery berbasis fitrah adalah recovery karakter yang terkonsentrasi pada potensi, bukan terkonsentrasi pada masalah. Hal ini dikarenakan Nabi shallallahub ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menutupi keburukan dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Sebagaimana sabdanya,

 

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik” (HR. Tirmidzi)

 

Gelap akan sirna bukan dengan berkonsentrasi membahas gelap itu sendiri, tetapi gelap akan sirna dengan sendirinya setelah dimunculkannya cahaya.

 

Terdapat tiga metode recovery yang diterapkan kepada orang atau anak yang di recovery,  yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi orang atau anak yang di recovery :

 

  1. Bersikap keras

Metode keras ini bahkan juga dapat dilakukan dengan memberikan hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh anak.

Sikap keras ini dilakukan kepada anak yang melanggar jika kondisinya:

    Telah tumbuh kesadaran (keimanan)

    Telah berilmu

Sehingga anak biasanya telah melakukan ketaatan dengan didasari ilmu yang benar, namun karena kelalaian sehingga tiba-tiba anak melakukan pelanggaran, maka dalam mengatasi hal tersebut perlu adanya sikap yang keras terhadap anak tersebut.

 

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sahabat Ka’ab bin Malik, dengan meng hajr nya ketika tidak mengikuti perang Tabuk karena kelalaian.

Demikian juga Nabi marah terhadap Muadz ketika mengimami shalat dengan surat panjang padahal makmumnya ada yang tidak mampu (1)

 

Contoh :

Seorang anak usia baligh biasanya sudah rutin taat beribadah dengan benar karena sudah kuat keimanannya dan berilmu. Namun suatu ketika karena pengaruh temannya sehingga anak tersebut membolos sekolah, maka tidakan yang dilakukan terhadap anak tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya atau dapat juga memberikan hukuman kepadanya. Dengan sikap keras tersebut, maka anak akan segera kembali kepada kebenaran dengan penuh kesadaran tanpa adanya keterpaksaan.

 

  1. Metode Dialog

Metode berdialog dengan lembut diterapkan terhadap anak yang memiliki kondisi karakter:

    Telah tumbuh kesasadaran(keimanan), tetapi

    Belum berilmu

 

Sehingga dengan dialog tersebut anak segera akan mengetahui tata cara yang benar dalam beribadah sesuai dengan metode yang diajarkan tersebut.

 

Hal ini dilakukan terhadap sahabat Muawiyah bin Al- Hakam ketika mengucapkan yarhamukallah setelah salah seorang mengucapkan hamdalah setelah bersin. Rasulullah tidak memarahi, tidak membentak, tetapi dengan memberikan nasehat yang lembut (2)

Demikian juga dilakukan terhhadap lelaki arab badui yang kencing di masjid, dan juga dilakukan terhadap pemuda yang minta ijin untuk melakukan zina.

 

Contoh:

Seorang pemuda sangat bersemangat sekali melakukan ibadah karena kuatnya kesadarannya walaupun dirinya masih jahil (belum mengetahui ilmunya). Maka ketika melakukan pelanggaran, yang harus dilakukan guru adalah dengan memberikan nasehat lembut.

 

  1. Metode empati

Metode empati adalah metode yang dominan dengan menyentuh hati kepada anak yang melanggar. Metode ini diterapkan terhadap orang atau anak yang melanggar dengan kondisi:

    Belum tumbuh kesadaran, dan

    Belum berilmu

 

Hal ini dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendakwahi orang-orang yang belum beriman, seperti ketika mendakwahi Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi yang tertangkap dan diikat ditiang masjid (3). Terhadap Tsumamah bin Utsal Nabi tidak banyak berdialog atau memberi nasehat, apalagi bersikap keras, tidak sama sekali. Tetapi Nabi memberikan empati dengan melayaninya dengan baik untuk menyentuh hatinya. Dan akhirnya Tsumamah masuk Islam.

 

Contoh:

Anak belum tumbuh kesadarannya sehingga susah ketika disuruh sholat. Dan hal ini terjadi berulang-ulang sejak lama. Maka dalam memperbaiki karakternya dengan menggunakan metode empati, yaitu guru melakukan pendekatan dan memberikan empati dengan disertai dengan keteladanan.

 

Dalam menentukan ketiga metode tersebut agar sesuai dengan kondisi anak, maka dapat dilakukan langkah-langkah berikut:

 

  1. EMPATI (menyerap)

Menyerap informasi dari diri anak dengan langkah:

    Peduli kepada anak

    Mengenal kondisi anak

    Menggali potensi anak

 

  1. IMAJINASI (mengolah)

Mengolah informasi yang diperoleh dari tahap sebelumnya, untuk mendapatkan ide-ide yang memungkinkan sebagai solusi dari permasalahan yang dialami anak.

 

  1. SOLUSI (menyajikan)

Menyajikan ide-ide yang sudah diolah sebelumnya sebagai langkah solusi, berupa bentuk kegiatan-kegiatan. 

 

Langkah tersebut disingkat dengan sebutan EMISOL.

 

Catatan kaki:

 

(1) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى »

 

“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465)

 

(2) Mu’âwiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu mengatakan :

 

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ ، فَقُلْتُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ ، قَالَ : فَقُلْتُ : وَاثَكْلَ أُمَّاهُ مَا لَكُمْ تَنْظُرُونَ إليَّ فِي الصَّلاةِ فَضَرَبُوا بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَانِي فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ ، مَا سَبَّنِي ، وَلا نَهَرَنِي ، وَلا شَتَمَنِي ، قَالَ : إِنَّ هَذِهِ الصَّلاةَ لا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلامِ النَّاسِ ، إِنَّمَا هُوَ التَّكْبِيرُ وَالتَّسْبِيحُ ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَالتَّحْمِيْدِ

 

Saya shalat bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin, maka saya mengatakan ‘Yarhamukallâh’. Orang-orangpun memandang ke saya. Saya mengatakan, ‘Aduh, mengapa kalian memandang ke saya ?’ Merekapun memukulkan tangan mereka ke paha, maka saya paham bahwa mereka ingin saya diam, dan sayapun diam. Setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil saya. Sungguh, –ayah ibu saya adalah tebusan beliau- saya tidak pernah melihat guru yang lebih baik dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajar. Beliau tidak mengumpat, tidak memaki atau tidak membentak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Dalam shalat ini tidak boleh ada perbincangan manusia. Shalat adalah takbîr, tasbîh, membaca al-Qur`ân dan tahmîd’.” [HR. Muslim, no. 537]

 

(3) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

 

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ : ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ ، سَيِّدُ أَهْلِ الْيَمَامَةِ ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : مَاذَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ ؟ فَقَالَ : عِنْدِي يَا مُحَمَّدُ خَيْرٌ ، إِنْ تَقْتُلْ تَقْتُلْ ذَا دَمٍ ، وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ ، فَتَرَكَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ ، فَقَالَ : مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَكَ ، إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ ، وَإِنْ تَقْتُلْ تَقْتُلْ ذَا دَمٍ ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ ، فَتَرَكَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ مِنَ الْغَدِ ، فَقَالَ : مَاذَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ ؟ فَقَالَ : عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ ، إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ ، وَإِنْ تَقْتُلْ تَقْتُلْ ذَا دَمٍ ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ تُعْطَ مِنْهُ مَا شِئْتَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ ، فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ ، فَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda mendatangi Najed, pasukan itu lalu kembali dengan membawa seorang laki-laki dari bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka kemudian mengikat laki-laki itu di salah satu tiang masjid. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya, dan bersabda: “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?”, maka Tsumamah berkata:

“Keadaanku baik, wahai Muhammad, jika engkau ingin membunuh, maka bunuhlah pemilik darah (karena kami telah membunuh sahabat-sahabatmu –pen.); jika engkau ingin membebaskan, bebaskanlah maka kami akan bersyukur; jika engkau menginginkan harta, mintalah, maka kami akan memberi yang engkau minta”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya sampai hari besoknya.

(Pada hari berikutnya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?”, maka Tsumamah berkata: “Sebagaimana yang telah aku katakan kepadamu (sebelumnya), jika engkau ingin membebaskan, bebaskanlah maka kami akan bersyukur; jika engkau ingin membunuh, maka bunuhlah pemilik darah (karena kami telah membunuh sahabat-sahabatmu –pen.); jika engkau menginginkan harta, mintalah, maka kami akan memberi yang engkau minta”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya sampai hari besoknya.

(Pada hari berikutnya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?”, maka Tsumamah berkata: “Sebagaimana yang telah aku katakan kepadamu (sebelumnya), jika engkau ingin membebaskan, bebaskanlah maka kami akan bersyukur; jika engkau ingin membunuh, maka bunuhlah pemilik darah (karena kami telah membunuh sahabat-sahabatmu –pen.); jika engkau menginginkan harta, mintalah, maka kami akan memberi yang engkau minta”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lepaskanlah Tsumamah.”

Tsumamah kemudian masuk ke kebun kurma dekat Masjid untuk mandi. Setelah itu ia kembali masuk ke Masjid dan mengucapkan: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selian Allah dan Muhammad adalah utusan Allah (HR. Al Bukhari: 4372, Muslim: 1764)

c

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.