Salah Kaprah Pendidikan (Bagian #2)

Oleh Ustadz Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)
Semarang

SALAH KAPRAH #2:

2. Rumit dan sulitnya pendidikan
Betapa rumit dan sulitnya pendidikan hari ini. Hal ini dapat diperhatikan dengan adanya:

  • Kurikulum pendidikan yang selalu bongkar pasang dan renovasi tiada henti.
  • Formalitas administrasi pendidikan yang kapasitasnya melebihi hakikat pendidikan itu sendiri.
  • Perangkat pengajaran yang setumpuk yang menjadikan kaku pembelajaran yang sejatinya luwes.
  • Tenaga pendidik diharuskan berijasah tinggi. Kadang kala lebih memilih pendidik berijasah sekolah tinggi dari pada pendidik yang lebih shalih tapi ijasahnya sekolah rendah.
  • Beban materi pelajaran bagi murid yang terlalu berat, tidak sesuai dengan usia perkembangannya.

HAKIKAT PENDIDIKAN:
Secara asal, pendidikan adalah MUDAH, MURAH, dan SEDERHANA.

1. Pendidikan sejatinya adalah MUDAH,

  • Jika lembaga pendidikan melibatkan orangtua murid yang kedudukannya sebagai penanggung jawab utama pendidikan anaknya(1), maka beban mendidik tidak sepenuhnya berada dipundak lembaga. Jika peran orangtua murid dikuatkan, maka lembaga dalam menyelenggarakan pendidikan jauh lebih mudah dan murah.
  • Jika lembaga pendidikan mencitrakan dirinya seolah mampu “mengambil alih“ pendidikan anak, maka orangtua cenderung “pasrah bongkokan” kepada lembaga. Hal inilah yang menjadikan kegiatan pendidikan menjadi sulit dan berat.

2. Pendidikan sejatinya adalah MURAH,

  • Lembaga pendidikan bukan lembaga komersial yang harus membutuhkan modal besar untuk membangunnya.
  • Banyak para pendahulu kita yang dengan suka rela menjual dan mendermakan harta miliknya untuk pendidikan tanpa memperhitungkan untung rugi materi.
  • Banyak negara-negara Islam hari ini, walaupun tergolong negara miskin, namun tetap menggratiskan biaya pendidikan bagi siapapun yang belajar disana.

3. Pendidikan sejatinya adalah SEDERHANA,

  • Secara asal pendidikan anak hanya memiliki dua pokok kegiatan, yaitu mengakui fitrah anak dan membersamainya. Fitrah anak cenderung kepada kebaikan sehingga perlu diakui(2), dan anak lahir kondisinya belum mengetahui apa-apa maka perlu dibersamai(3)
  • Pendidikan anak bukan hanya dengan mengumpulkan anak-anak pada suatu tempat berbatas pagar atau tembok, lalu “menjejalkan” pengetahuan kepada mereka, tetapi pendidikan anak termasuk juga membersamainya dimanapun, bermain bersamanya kapanpun, mengapresiasi apapun karyanya, memuji bagaimanapun hasilnya, ngobrol dengannya, bercanda dengannya, dan aktifitas non formal dan informal lainnya.
  • Pendidikan anak bukan hanya dengan duduk manis mendengarkan, membaca, menghafal, atau menulis saja, namun kegiatan pendidikan anak tidak dapat dibatasi pagar-pagar tembok sekolah, tetapi anak dapat melakukan aktifitas belajar dimanapun, kapanpun, dan dengan cara bagaimanapun. Maka bangunan gedung dan fasilitas fisik lainnya bukanlah target utama dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan.
  • Allah ta’ala tidak mensyaratkan banyaknya murid dalam kegiatan pendidikan (dakwah), karena ada Nabi yang pengikutnya sedikit bahkan ada yang tidak memiliki pengikut sama sekali(4), walau demikian hal ini tidak menurunkan derajat kemuliaan Nabi.

Pendidikan anak dapat diselenggarakan dengan fasilitas yang sudah ada walaupun seadanya, murid yang ada, dan guru yang ada, sehingga kegiatan pendidikan dapat dilakukan dimanapun dan oleh kaum muslimin siapapun.

 

CATATAN KAKI:

(1)  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Seorang suami (ayah) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri (ibu) adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

(2)  Allah ta’ala berfirman,
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar Rum:30)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, bahwa makna fitrah adalah kecenderungan kepada Islam.

(3)  Allah ta’ala berfirman,
وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS. An Nahl:78)

(4)  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
…عرضت علي الأمم، فرأيت النبي و معه الرهط، والنبي و معه الرجل والرجلان والنبي ليس معه أحد
“Diperlihatkan kepadaku umat-umat, lalu aku melihat seorang Nabi bersamanya ar-rahth (sekelompok orang yang terdiri dari 3-10 orang), dan seorang Nabi bersamanya seorang dan dua orang, dan seorang Nabi tidak ada bersamanya seorangpun…..”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata,
وفي الحديث دليل واضح على أن كثرة الأتباع وقلتهم ، ليست معيارا لمعرفة كون الداعية على حق أو باطل ، فهؤلاء الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مع كون دعوتهم واحدة ، ودينهم واحدا ، فقد اختلفوا من حيث عدد أتباعهم قلة وكثرة
“Kandungan hadits menunjukkan dalil yang tegas bahwa banyak dna sedikitnya pengikut bukanlah tolak ukur untuk mengetahui apakah seorang dai di atas kebenaran atau di atas kebatilan. Mereka para nabi saja, dawakh dan agama mereka satu (sama), akan tetapi berbeda dalam jumlah pengikut mereka”. (As-Silsilah Ash-Shahihah 1/684)

(5)  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya”. (HR. Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.